Penyelundupan Manusia; Fenomena Global
Gholamali Khoshroo, wakil tetap Republik Islam Iran di Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) saat sidang umum Dewan Keamanan dengan tema penyelundupan manusia saat terjadi konfrontasi, seraya menjelaskan bahwa penyelundupan manusia sebagai salah satu kendala global dan mengancam kehidupan sejumlah besar rakyat mengatakan, fenomena ini akibat perang dan instabilitas yang menarget masyarakat.
Penyelundupan manusia sebuah fenomena yang menyedihkan dan muncul akibat gejolak global, perang dan kezaliman terhadap manusia yang menjadi korban ketamakan kubu arogan dan haus kekuasaan. Mungkin masyarakat internasional sejak lama mulai memerangi penyelundupan manusia, namun hasilnya masih belum memuaskan dan bahkan fenomena ini semakin rumit dan mendalam. Tapi di mana sebenarnya simpul kerja dan di mana kekurangannya?
Statemen wakil Iran di PBB saat sidang Dewan Keamanan soal penyelundupan manusia menunjukkan kunci untuk menemukan jawaban dari pertanyaan tersebut. Khoshroo terkait hal ini mengatakan, perang memberantas akar fenomena ini tugas utama Dewan Keamanan, namun jika dewan ini menolak kewajibannya, maka pastinya dewan ini akan gagal menindaklanjuti fenomena tersebut.
Poin penting lain yang diisyaratkan Khoshroo adalah tanggung jawab masyarakat internasional dalam hal ini. Pidato wakil tetap Iran saat sidang Dewan Keamanan menunjukkan pentingnya perhatian terhadap faktor utama kelemahan dalam melawan penyelundupan manusia dan kendala yang ada.
Hanya fenomena ini tidak seharusnya dipisahkan dari isu seperti perang, kemiskinan, keterbelakangan pembangunan atau kekolotan pemikiran serta budaya.
Penemuan bank dunia menunjukkan bahwa 9,1 persen populasi 8 miliar penduduk dunia di tahun 2016 hidup dalam kemiskinan. Kemiskinan dengan sendirinya faktor yang mendorong manusia untuk mencari suaka dan terhindar dari tangan mafia penyelundup.
Melawan faktor kemiskinan dan perang dapat menjadi kunci penyelesaian banyak masalah termasuk penyelundupan manusia. Namun akar kemiskinan, keterbelakangan dan perang adalah intervensi kekuatan global. Kondisi di Suriah, Irak, Afghanistan, Libya dan Yaman yang menjadi contoh peristiwa paling pahit bagi kehidupan manusia adalah contoh nyata dalam kasus ini.
Di krisis ini, teroris radikal dengan menyalahgunakan kondisi kacau di kawasan dan dengan ideologi takfirinya serta dukungan pemain regional dan internasional telah menimbulkan masalah besar baik bagi kawasan maupun dunia. Di proses ini bukan saja Dewan Keamanan, namun negara-negara pengklaim pembela Hak Asasi Manusia juga tidak melakukan tindakan apa pun.
Pengamat HAM Sam Hins mengatakan, krisis imigran meningkatkan ancaman perbudakan yang menguntungkan perusahaan Eropa.
Di laporan Komisi Permusyawaratan Nasional HAM di tahun 2016 dijelaskan bahwa Perancis untuk melawan perdagangan manusia tidak melakukan upaya yang maksimal.