Menelisik Putaran Baru Negosiasi Iran-Rusia Soal Suriah di Tehran
-
Utusan Khusus Presiden Rusia untuk Urusan Suriah Alexander Lavrentiev di Tehran
Putaran baru konsultasi Iran-Rusia mengenai Suriah akan berlangsung hari ini dengan kehadiran Utusan Khusus Presiden Rusia untuk Urusan Suriah Alexander Lavrentiev di Tehran.
Pembicaraan tentang mempromosikan inisiatif militer, politik, militer dan keamanan bersama, serta meninjau kembali proses kerjasama bilateral dan multilateral di bidang penanggulangan terorisme dan mengakhiri krisis Suriah adalah salah satu tujuan dari pembicaraan Lavrentiev di Tehran. Pertemuan hari ini Teheran merupakan kelanjutan proses yang pernah dilakukan sebelum ini di tingkat kepala negara dan menteri luar negeri serta pejabat senior dari kedua negara. Selain mengoordinasikan kebijakan terhadap Suriah, pembicaraan-pembicaraan ini dilakukan dalam kerangka proses politik yang disebut Proses Astana juga memberikan kesempatan untuk koordinasi dan konvergensi dalam menghadapi tantangan regional dan internasional.
Mohammad Raouf Sheibani, mantan Duta Besar Republik Islam Iran di Suriah dan termasuk analis politik di Institut Studi Iran-Eurasia (IRAS) soal pentingnya konvergensi Iran-Rusia menghadapi penyelesaian krisis Suriah mengatakan, hubungan strategis bersama antara Iran dan Rusia mengarah pada pembentukan kerjasama ini. Memang, pentingnya pembentukan kerjasama ini telah menjadi kebutuhan bersama untuk mengatasi ancaman terhadap kawasan dan kebutuhan untuk mempengaruhi proses perkembangan masa depan di kawasan serta kondisi yang parah di Suriah.
Iran dan Rusia menentang pemaksaan sepihak oleh kekuatan trans-nasional. Dalam kerangka ini, kerjasama Iran-Rusia telah menjadi salah satu mitra paling efektif dalam mengelola krisis regional dalam beberapa tahun terakhir. Aliansi strategis antara Iran dan Rusia berusaha mengakhiri krisis secepat mungkin melalui mendorong dan memperkuat proses politik. Oleh karena itu, pertemuan Tehran adalah sangat penting.
Dalam perkembangan lapangan, Republik Islam Iran atas permintaan pemerintah Suriah dan untuk memerangi terorisme telah hadir di negara ini dan kelanjutan kehadiran ini akan tetap ada sesuai dasar ini. Pada saat yang sama, kehadiran ini, tidak sebelumnya dan akan datang, tidak pernah untuk memaksakan pendapatpatnya, tapi untuk mendukung kehendak rakyat Suriah sebagai bangsa sahabat.
Tentunya, dalam solusi apa pun untuk masa depan Suriah, bagian pertama dan terakhir adalah milik rakyat Suriah. Dengan menekankan prinsip ini, kerjasama Iran dan Rusia dibentuk dalam proses perundingan Astana yang merupakan titik referensi yang dapat diandalkan untuk pemulihan perdamaian di Suriah dan kerjasama internasional jangka panjang. Oleh karena itu, mengingat dampak dari perundingan Astana dalam memberikan solusi krisis Suriah, perlu bagi Iran dan Rusia, bekerjasama dengan Turki untuk melanjutkan upaya mereka mengakhiri kekejaman terorisme dan perang di Suriah.
Interaksi ini dapat mengarah pada penciptaan kerangka bersama berdasarkan pelestarian keutuhan dan integritas wilayah Suriah dan penghormatan terhadap kedaulatan nasional dan hak rakyat Suriah untuk menentukan masa depan negara mereka. Ufuk kerjasama Iran dan Rusia dalam krisis Suriah adalah rancangan mekanisme yang berkelanjutan untuk memerangi terorisme dan eksploitasi kapasitas bersama dalam mengelola krisis regional lainnya.
Kerjasama Iran dan Rusia dalam krisis Suriah dari perspektif ini terkadang bisa menjadi model kerjasama dalam menyelesaikan krisis lain di kawasan ini. Sangat penting bahwa kerjasama dan koordinasi ini terus berlanjut sampai perdamaian dan stabilitas di Suriah terjaga.