Menelisik Penjelasan Menlu Zarif Soal Iranphobia Amerika Serikat
https://parstoday.ir/id/news/iran-i66365-menelisik_penjelasan_menlu_zarif_soal_iranphobia_amerika_serikat
"Amerika Serikat tengah menggantikan kebijakan luar negeri yang realistis dengan Iranphobia yang obsesif-kompulsif."
(last modified 2026-04-12T10:02:39+00:00 )
Jan 09, 2019 13:46 Asia/Jakarta
  • Mohammad Javad Zarif, Menteri Luar Negeri Iran
    Mohammad Javad Zarif, Menteri Luar Negeri Iran

"Amerika Serikat tengah menggantikan kebijakan luar negeri yang realistis dengan Iranphobia yang obsesif-kompulsif."

Mohammad Javad Zarif, Menteri Luar Negeri Republik Islam Iran, dalam pesan Twitternya menulis, "Obsesi Mike Pompeo, Menteri Luar Negeri Amerika Serikat dan John Bolton, Penasihat Keamanan Nasional Gedung Putih  mengenai Iran mirip dengan perilaku psikopat yang terus-menerus menghadapi kegagalan."

Twitt Zarif adalah metafora yang menjelaskan kebijakan luar negeri Amerika Serikat terhadap Iran. Menlu AS, Mike Pompeo yang melakukan perjalanan ke kawasan pada hari Selasa (08/01) kembali mengulangi tuduhan tanpa dasar, tapi bertujuan terhadap Iran di Yordania. Pompeo dalam konferensi pers di Amman, ibukota Yordania menegaskan kembali penentangannya terhadap pengaruh negatif Iran di kawasan.

Mike Pompeo, Menteri Luar Negeri Amerika Serikat

Berbeda dengan penekanan komunitas internasional pada implementasi Rencana Aksi Bersama Komprehensif (JCPOA), Amerika Serikat berusaha untuk menyebarluaskan dan terus menunjukkan tindakan inkonsistensi dan tidak konvensionalnya dalam berdiplomasi yang berkontribusi pada stabilitas dan keamanan kawasan dan dunia. Menganalisa kebijakan luar negeri AS menunjukkan telah terjadi pelanggaran seperti dijelaskan sebelumnya.

Amerika Serikat dengan kebohongan Iranphobia berusaha menghadapi Tehran. Tentu saja, strategi ini tidak terbatas pada era Trump. Karena sejak kemenangan Revolusi Islam, gerakan Iranphobia telah terbentuk dan menjadi tren konstan dalam bentuk perang lunak Amerika melawan Iran. Klaim seperti bahaya penyebaran revolusi, menyamakan terorisme dengan ide-ide Revolusi Islam, melakukan agitasi pada kegiatan nuklir damai Iran dengan maksud untuk menutupi bahaya senjata nuklir Zionis Israel dan mengklaim kegiatan destabilisasi regional oleh Iran di kawasan telah menjadi alat kebijakan luar negeri AS.

Menunjukkan Iran sebagai ancaman dalam wacana para pejabat negara di era Trump dibuat dalam dua tahun terakhir bekerjasama dengan Arab Saudi dan Zionis Israel di Washington. Dalam skenario ini, masalah nuklir dan Iranphobia ditetapkan sebagai poros utama kebijakan luar negeri AS.

Vladimir Sazhin, seorang pakar Timur Tengah mengatakan,"Amerika Serikat terperangkap dalam Iranphobia yang semakin diintensifkan oleh Arab Saudi dan Israel."

Kenyataannya, kawasan dihadapkan dengan ancaman jangka panjang, serius dan berbiaya besar dari Amerika Serikat. Ancaman ini berakar dalam kebijakan luar negeri Amerika, tetapi Amerika berusaha menyembunyikan sifat peran destruktif ini di bawah citra mengerikan Iran.

Poin kontroversial dalam menganalisis kebijakan Iranphobia yang dlancarkan Ameriia Serikat adalah bahwa bahkan kalangan intelektual yang dekat dengan Trump dalam kajian stratetis mereka tidak menganggap serius Iran sebagai ancaman bagi Amerika Serikat.

Carol Giacomo, analis politik dalam sebuah makalah di New York Times menulis,  Mike Pompe di Heritage Foundation, milik kubu konservatif AS berpidato tentang masalah Iran. Pernyataan Pompeo dan syarat yang dibuatnya untuk Iran menunjukkan apa yang diinginkan pemerintah Trump dari Iran, "Kapitulasi" yakni berarti menyerah..."

John Bolton, Penasihat Keamanan Nasional Gedung Putih

Amerika telah menuduh Iran sebagai pemarin regional yang tidak rasional, intervensif dan tidak dapat diprediksi selama bertahun-tahun. Perilaku ini hanya mengikuti gambaran yang salah tentang Iran. Tetapi sekarang, Trump dengan kebijakan-kebijakannya, telah menunjukkan wajah Amerika yang sebenarnya kepada dunia. Ini adalah fakta yang dijelaskan Zarif dalam menggambarkan kebijakan luar negeri AS terhadap Iran.