Perspektif Rahbar: Musuh Menarget Revolusi Islam dari Segala Arah
Pemimpin Besar Revolusi Islam Iran, Ayatullah Sayid Ali Khamenei dalam pertemuan dengan anggota Dewan Tinggi Hauzah Ilmiah Iran hari Senin (3/2/2020) mengatakan bahwa musuh sedang mengidentifikasi titik-titik efektif revolusi dan berupaya untuk menghancurkan fondasi utamanya.
Rahbar dalam pertemuan tersebut menegaskan bahwa Hauzah Ilmiah termasuk target musuh. Pernyataan ini disampaikan Ayatullah Khamenei di tengah gencarnya serangan musuh terhadap bangsa Iran. Selama empat dekade sejak kemenangan Revolusi Islam, Iran terus-menerus menjadi sasaran plot dan konspirasi musuh, tapi selalu berhasil dipatahkan. Oleh karena itu, Pemimpin Besar Revolusi Islam Iran senantiasa menegaskan pentingnya mengenali musuh, sehingga tidak terkecoh oleh skenario mereka. Perjalanan sejarah Iran, terutama pasca kemenangan Revolusi Islam, negara ini tidak pernah lepas dari gelombang serangan musuh yang berambisi menghancurkannya.
Analis politik Iran Manouchehr Mohammadi mengatakan, "....plot AS terhadap Iran bisa dikategorikan menjadi tiga periode. Periode pertama perang keras, yang terjadi sepuluh tahun pertama revolusi. Periode kedua, perang lunak sejak tahun 1388 Hs. Pada periode ini mereka mempertanyakan kepercayaan rakyat terhadap Revolusi. Periode ketiga adalah fase infiltrasi dengan menyusup ke aparatur negara dan mengerahkan segala cara dari luar negeri, sebagai gerakan besar untuk menghancurkan pemerintahan Islam."
Dengan kata lain, musuh-musuh bangsa Iran telah menggunakan segala cara sejak kemenangan Revolusi Islam untuk menyerang fondasi dan pilarnya .Dalam hal ini, pemisahan identitas Iran dari budaya dan keyakinan Islam serta mempromosikan budaya dan gaya hidup Barat menjadi program kubu arogan global.
Musuh dengan propaganda dan agitasi medianya melancarkan operasi lunak untuk menciptakan ketidakpastian dan melemahkan kepercayaan masyarakat terhadap Republik Islam. Mereka berupaya mengubah arus sosial budaya masyarakat Iran dengan melemahkan keyakinan agama dan spiritualitasnya serta budaya nasional, sekaligus mempromosikan gaya hidup Barat sebagai pilihan hidup yang diambilnya.
Tampaknya, musuh meyakini bahwa masyarakat Iran akan bisa dilemahkan dan dihancurkan ketika sumber-sumber kekuatan revolusionernya, seperti ulama, angkatan bersenjata, IRGC, basij dan lembaga-lembaga lainnya, juga nilai-nilai revolusioner, dan terutama budaya perlawanan bisa dilemahkan.
Mereka juga berupaya memisahkan cendekiawan dengan ulama dari dan mengeliminir peran signifikannya dalam negara dan masyarakat. Dengan cara ini, musuh berusaha untuk menghilangkan kepercayaan masyarakat terhadap agama dan revolusi Islam yang merupakan faktor utama di balik perlawanan rakyat Iran terhadap dominasi kekuatan arogan global. Musuh juga mencoba menangkap elemen-elemen masyarakat yang dinamis untuk mencari titik kelemahan dan kekuatannya.
Skenario ini ini dimulai dari plot pelemahan dan ketidakefektifan pemerintah hingga serangan lunak dan keras terhadap Republik Islam Iran. Tapi menghadapi berbagai serangan masif tersebut, Revolusi Islam, tetap tegar dan terus bergerak memperjuangkan cita-cita luhurnya.
Hingga kini, musuh terus mencari cara baru demi melumpuhkan Iran, dan salah satu targetnya adalah hauzah Ilmiah. Sebagaimana ditegaskan Ayatullah Khamenei dalam pertemuan dengan anggota dewan tinggi hauzah ilmiah Iran.
Rahbar dalam statemennya kemarin mengatakan, "Tujuan Revolusi Islam dan perjuangan serta pengorbanan Imam Khomeini, pendiri Republik Islam Iran adalah membawa gerakan ini bisa membuahkan hasil dalam mewujudkan pemerintahan dan syariah Islam."
Pengalaman menunjukkan bahwa suatu bangsa yang tidak dapat mengenali musuhnya, maka musuh akan menembus ke semua lapisan masyarakatnya. Oleh karena itu mengenali musuh adalah prioritas utama.(PH)