Iran: Sanksi Internasional Harus Dicabut demi Penanganan Covid-19
-
Majid Takhravanchi
Wakil Tetap Iran untuk Perserikatan Bangsa-Bangsa, Majid Takhravanchi menekankan urgensi pencabutan sanksi sepihak yang merusak kapasitas negara-negara target yang sedang menangani penyebaran Covid-19.
Majid Takhravanchi dalam pertemuan Dewan Keamanan PBB hari Kamis (2/7/2020) mengungkapkan bahwa dampak epidemi virus corona dengan tingkat kematian yang tinggi berpengaruh negatif terhadap situasi ekonomi dan sosial negara-negara yang terlibat konflik.
Diplomat senior Iran ini menyinggung penyebaran virus corona di kawasan Asia Barat, terutama di Suriah dan Yaman sebagai kasus negara yang menghadapi konflik dan saat ini menghadapi masalah baru akibat penyebaran Covid-19.
"Situasi yang buruk diperparah dengan sanksi unilateral AS baru-baru ini terhadap rakyat Suriah, dan kelanjutan dari blokade pelabuhan dan bandara Yaman," ujar Takhravanchi.
Di bagian lain statemennya, ia menjelaskan, "Iran sebagai negara yang terkena dampak virus Corona sekaligus sasaran sanksi AS, sangat menyadari bagaimana dan sampai sejauh mana sanksi-sanksi ini mencegah masuknya peralatan medis dan obat-obatan yang menargetkan kapasitas negara-negara target yang sedang berjuang menghadapi virus Corona,".
Menurutnya, sanksi unilateral paling efektif menargetkan pasien, yang menunjukkan perilaku tidak bermoral dan tidak berperikemanusiaan.
Wakil Tetap Iran untuk PBB menekankan bahwa virus Corona adalah musuh bersama umat manusia, yang harus dihadapi dengan solidaritas dan kerja sama global.
Sanksi unilateral dan opresif Washington, yang mencakup barang-barang pokok dan obat-obatan telah menyebabkan banyak masalah bagi rakyat negara-negara yang berada di bawah sanksi AS, terutama negara yang sedang dilanda penyebaran Covid-19.
Mohammad Javad Zarif, Menteri Luar Negeri Republik Islam Iran baru-baru ini mengkritik kebijakan konfrontatif AS terhadap negara lain dalam situasi krisi s global saat ini akibat penyebaran virus Corona, dengan mengatakan bahwa dunia tidak lagi bisa tinggl diam dalam menghadapi terorisme ekonomi AS yang disertai terorisme medis.(PH)