Iran Aktualita, 2 Januari 2021
-
Acara Haul Syahid Soleimani
Mengawali tahun baru 2021, inilah perkembangan di Republik Islam Iran selama sepekan terakhir. Isu terbaru di negara ini adalah persiapan dan acara Haul Syahid Qasem Soleimani.
Selain itu, masih ada sejumlah berita lainnya mengenai pergerakan militer AS di Teluk Persia dan tanggapan Iran, kepergian filsuf Iran, kesiapan Iran tingkatkan pengayaan uranium, Iran uji klinis vaksin dalam negeri, dan berbagai berita lainnya.
Peringatan Haul Syahid Soleimani Dimulai di Tehran
Peringatan haul pertama syahid Qasem Soleimani dan Abu Mahdi al-Muhandis dimulai di Universitas Tehran, Iran pada Jumat (1/1/2021) pagi.
Acara ini dihadiri oleh komandan Pasukan Quds, para petinggi Korps Garda Revolusi Islam serta sejumlah pejabat negara dan militer Iran. Peringatan ini dilaksanakan tanpa melibatkan masyarakat luas karena situasi pandemi virus Corona.
Sejumlah pejabat dari luar negeri dan keluarga syuhada juga menghadiri acara tersebut.
Komandan Pasukan Quds, Brigjen Esmail Qaani dalam sambutannya, mengatakan syahid Soleimani adalah kesatria lapangan poros perlawanan, tetapi ia memulai perlawanan dari dalam dirinya.
“Syahid Soleimani adalah pahlawan bangsa Iran, juga pahlawan umat Islam, dan pahlawan penghancur kekuatan arogan,” tegasnya.
Brigjen Qaani menuturkan bahwa kita telah banyak mendengar tentang kepemimpinan syahid Soleimani di lapangan, tetapi salah satu karakteristiknya yang paling unggul adalah logikanya yang kuat.
“Di semua medan yang ia datangi, dia masuk dengan logika, tetapi ketika pihak lawan tidak memahami logika, dia akan berbicara kepada mereka dengan bahasa lain,” ungkapnya.
Komandan Pasukan Quds Janji Kejar Para Pembunuh Syahid Soleimani
Komandan Pasukan Quds IRGC, Brigjen Esmail Qaani mengatakan syahid Qasem Soleimani adalah pahlawan bangsa Iran, juga pahlawan umat Islam, dan pahlawan penghancur kekuatan hegemonik.
"Risalah Pasukan Quds dan kubu perlawanan tidak akan berubah dengan perilaku jahat Amerika Serikat," ujarnya dalam pidato pada acara peringatan haul pertama syahid Soleimani dan Abu Mahdi al-Muhandis di Universitas Tehran, Jumat (1/1/2021) pagi.
Brigjen Qaani mencatat bahwa musuh mengejar pembunuhan para komandan kubu perlawanan selama 30 tahun terakhir.
"Pria bodoh ini (Donald Trump) adalah orang yang paling keji dan paling jahat di dunia, yang tidak memegang prinsip apapun dalam pikirannya. Dengan hasutan rezim Zionis dan Arab Saudi, ia melakukan kejahatan keji yang belum pernah terjadi sebelumnya, dan belum pernah terjadi terhadap pejabat politik dan militer manapun di era ini," tambahnya.
Brigjen Qaani memperingatkan para pejabat AS bahwa mereka yang terlibat dalam kejahatan ini perlu tahu bahwa mereka telah melakukan sesuatu yang mengundang kesiapan setiap orang di seluruh dunia untuk menghukum para pengecut ini.
"Dengan kejahatan yang kalian lakukan, yakinlah bahkan dari dalam rumah kalian sendiri, akan muncul orang-orang yang akan melakukan pembalasan ini," tegasnya.
Di bagian lain, Brigjen Qaani mengatakan militer rezim Zionis mulai ketakutan di perbatasan Palestina dan Lebanon.
"Suriah berdiri teguh dan sekarang hampir semua bagian negara itu telah dibebaskan. Para mujahidin Irak tetap teguh memegang prinsipnya, Yaman yang tertindas juga melangkah dengan kuat. Inilah jalan syahid Soleimani yang akan terus berlanjut dengan pertolongan Allah Swt," ujarnya.
AS dalam sebuah tindakan keji, meneror Komandan Pasukan Quds Iran, Letnan Jenderal Qasem Soleimani dan Wakil Komandan Hashd al-Shaabi Irak, Abu Mahdi al-Muhandis dalam serangan drone di dekat Bandara Internasional Baghdad pada 3 Januari 2020. Delapan rekan-rekan mereka juga gugur syahid dalam serangan udara pasukan teroris AS.
Komandan IRGC: Iran Siap untuk Segala Skenario
Komandan Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC), mengatakan pergerakan Amerika Serikat baru-baru ini di kawasan sebagai konsekuensi dari kesalahan mereka tahun lalu dalam pembunuhan Jenderal Qasem Soleimani dan Abu Mahdi al-Muhandis.
"Iran siap untuk segala skenario musuh di kawasan," kata Brigjen Hossein Salami kepada wartawan di sela-sela acara peringatan haul pertama syahid Soleimani dan Mahdi al-Muhandis yang digelar di Universitas Tehran, Jumat (1/1/2021).
Menurut komandan IRGC, kejahatan AS dalam membunuh para pemimpin poros perlawanan telah memicu kebencian yang intens di kalangan pemuda Dunia Islam, dan kebencian ini seperti mimpi buruk akan selalu menyiksa para pejabat Amerika.
Mereka, lanjutnya, mengambil serangkaian langkah untuk melarikan diri dari mimpi buruk yang berbahaya ini.
"Jalan para syuhada perlawanan akan diteruskan. Para pemuda Dunia Islam saat ini memiliki tekad yang lebih kuat dari sebelumnya untuk mengusir AS dari kawasan dan mengalahkan Zionis," tegas Brigjen Salami.
Berbicara tentang pembalasan keras, dia menjelaskan bahwa pembalasan keras bukanlah sebuah titik tapi sebuah jalan. Artinya, mereka yang terlibat dalam kejahatan tersebut tidak akan tenang, tetapi waktu, tempat dan kualitasnya tunduk pada kondisi tertentu yang akan muncul.
"Jalan pembalasan yang keras adalah jalan runtuhnya rezim Zionis dan runtuhnya hegemoni politik AS di kawasan serta terusirnya Amerika dari kawasan dan menyerahkan nasib kaum Muslim di tangannya sendiri," pungkasnya.
Ulama Besar Iran, Ayatullah Misbah Yazdi Wafat
Ayatullah Muhammad Taqi Misbah Yazdi, anggota Dewan Ahli Kepemimpinan Iran dan Ketua Yayasan Pendidikan dan Penelitian Imam Khomeini ra, meninggal dunia pada Jumat (1/1/2021) sore.
Ayatullah Misbah Yazdi adalah seorang mujtahid, filsuf, mufassir al-Quran, dan seorang guru besar Hauzah Ilmiah Qum. Ia menjalani perawatan di rumah sakit sekitar satu bulan lalu karena gangguan pencernaan.
Selama hidupnya, ulama besar ini memimpin Yayasan Pendidikan dan Penelitian Imam Khomeini ra, dan menjabat anggota Dewan Ahli Kepemimpinan, anggota Dewan Tinggi Revolusi Budaya, anggota Asosiasi Jamiah Mudarrisin Hauzah Ilmiah Qum, dan ketua Dewan Tinggi Lembaga Internasional Ahlul Bait.
Karya-karya Ayatullah Misbah Yazdi mencakup berbagai bidang seperti tafsir al-Quran, filsafat, teologi, dan etika serta pemikiran politik Islam.
Pergerakan Mencurigakan AS, Zarif; Washington Tanggung Akibatnya !
Menteri Luar Negeri Iran dalam pembicaraan telepon dengan sejawatnya dari Qatar menyinggung pergerakan mencurigakan Amerika Serikat di kawasan Asia Barat, dan mengatakan Washington bertanggung jawab atas akibat segala bentuk petulangannya.
Fars News (30/12/2020) melaporkan, Menlu Iran, Mohammad Javad Zarif dan Menlu Qatar, Mohammed bin Abdulrahman Al Thani, Selasa (29/12) membicarakan perkembangan terbaru kawasan dan hubungan bilateral dua negara.
Dalam pembicaraan telepon itu, Menlu Iran menekankan urgensi partisipasi seluruh negara kawasan untuk menjaga stabilitas dan keamanan menyeluruh, tanpa intervensi asing, dan menghindari segala bentuk potensi ketegangan.
Zarif memperingatkan pergerakan mencurigakan Amerika di kawasan Timur Tengah baru-baru ini dan menuturkan, tanggung jawab atas semua akibat yang mungkin muncul dari petualangan ini ada di pundak Amerika sendiri.
Sekreratis Dewan Keamanan Nasional Iran, Ali Shamkhani, Senin (28/12) merespon peningkatan manuver militer Amerika di kawasan dan mengatakan, peningkatan manuver Amerika di kawasan adalah pertunjukan pertahanan, dan hal itu disebabkan oleh ketakutan karena kejahatan mereka sendiri. Langkah ini telah menaikkan entropi ketidakamanan, dan menyebabkan kesalahpahaman yang membahayakan.
Shamkhani menegaskan, keamanan kawasan hanya bisa terwujud dengan penarikan pasukan asing.
Zarif: Kami Tidak Ingin Perang, tapi Siap Bela Rakyat dan Kepentingan Kami
Menteri luar negeri Republik Islam Iran saat merespon pergerakan militer Amerika di kawasan Teluk Persia menjelaskan, Iran tidak menghendaki perang, tapi siap membela rakyat, keamanan dan kepentingan nasionalnya.
Menurut laporan FNA, Mohammad Javad Zarif Kamis (31/12/2020) di akun Twitternya saat merespon pergerakan militer AS di Teluk Persia menulis, "Kami tidak ingin perang, tapi kami siap membela rakyat, keamanan dan kepentingan nasional kami."
"Donald Trump dan orang-orangnya menghambur-hamburkan miliaran dolar untuk menerbangkan pesawat pembom B-52 ke kawasan kami ketimbang memerangi pandemi Corona di negara mereka sendiri," papar Zarif.
Menlu Iran menjelaskan, informasi dari Irak menunjukkan AS menyulut konspirasi untuk mencari-cari alasan guna mengobarkan perang.
Iran Ingatkan PBB tentang Gerakan Liar AS di Teluk Persia
Misi Tetap Iran untuk PBB dalam sebuah surat kepada Dewan Keamanan, memperingatkan terhadap setiap petualangan militer Amerika Serikat di Teluk Persia.
“Petualangan militer AS di Teluk Persia dan Laut Oman semakin meningkat, terutama dalam beberapa pekan terakhir,” kata Misi Tetap Iran dalam surat yang dikirim kepada Sekjen PBB dan Presiden Dewan Keamanan, Kamis (31/12/2020).
“Selain mengirimkan senjata canggih ke Teluk Persia, AS juga melakukan sejumlah aksi militer yang provokatif, termasuk menerbangkan pesawat pengebom strategis jarak jauhnya di Teluk Persia dalam beberapa hari terakhir,” tambahnya.
Misi Tetap Iran untuk PBB mencatat bahwa sejalan dengan tindakan itu, para pejabat AS terus memberikan informasi palsu, tuduhan yang tidak berdasar, serta pernyataan intimidatif dan provokatif terhadap Republik Islam Iran.
“Semua tindakan permusuhan AS ini akan memperburuk situasi keamanan yang penuh ketegangan di wilayah Asia Barat,” tegasnya.
Surat tersebut menandaskan jika tindakan menghasut perang ini dibiarkan, maka dapat meningkatkan ketegangan ke tingkat yang mengkhawatirkan dan jelas bahwa AS harus bertanggung jawab penuh atas semua konsekuensinya.
Misi Tetap Iran untuk PBB menegaskan Tehran tidak mencari perang, tetapi memiliki kemampuan dan tekad untuk melindungi rakyatnya, mempertahankan keamanan, kedaulatan, integritas teritorial, dan kepentingan vitalnya, serta untuk merespon secara tegas setiap ancaman atau penggunaan kekuatan terhadap Iran, ini tidak boleh diremehkan.
“Mengingat petualangan militer seperti itu bertentangan dengan tujuan dan prinsip PBB serta memiliki implikasi serius bagi perdamaian dan keamanan regional dan internasional, Dewan Keamanan diharapkan memaksa AS untuk mematuhi prinsip dan aturan hukum internasional, serta menghentikan tindakan ilegal ini,” kata surat tersebut.
AEOI akan Tingkatan Pengayaan Uranium 120 Kg dalam Setahun
Kepala Kantor Presiden Republik Islam Iran, Mahmoud Vaezi mengumumkan bahwa Organisasi Energi Atom Iran sedang mempersiapkan pengayaan uranium 20 persen untuk menghasilkan 120 kg uranium yang diperkaya dalam satu tahun.
Mahmoud Vaezi di sela-sela rapat kabinet hari Rabu (30/12/2020) mengatakan, "Berdasarkan undang-undang tentang pencabutan sanksi, Organisasi Energi Atom Iran berkewajiban untuk memulai pengayaan uranium sebesar 20 persen segera setelah undang-undang disetujui."
"Pengayaan uranium sebesar 20 persen memiliki sensitivitas teknisnya sendiri, dan persiapan sedang dilakukan oleh Organisasi Energi Atom Iran," tegasnya.
Sebelumnya, parlemen Iran pada Selasa, 1 Desember 2020 mengesahkan undang-undang yang menginstruksikan Organisasi Energi Atom Iran supaya memasok uranium yang diperkaya lebih dari 20 persen untuk tujuan damai.
Meski Disanksi Ketat, Iran Mampu Membuat Vaksin COVID-19
Republik Islam Iran telah berhasil membuat vaksin Virus Corona, COVID-19 dan memulai tahap awal pengujian vaksin ini pada manusia. Penyuntikan vaksin yang dibuat perusahaan dalam negeri tersebut dimulai pada hari Selasa (29/12/2020).
Keberhasilan Iran membuat vaksin Virus Corona telah mengejutkan banyak pihak. Pasalnya, Iran berada dalam kondisi disanki ketat oleh Amerika Serikat, bahkan negara ini kesulitan untuk membeli vaksin, peralatan medis dan obat-obatan karena embargo tersebut.
Putri seorang pejabat tinggi Iran menjadi yang pertama menerima suntikan Vaksin Virus Corona buatan dalam negeri tersebut. Tayyebeh Mokhber menerima suntikan vaksin pada acara yang dihadiri oleh Menteri Kesehatan Iran Saeed Namaki dan Wakil Presiden untuk Sains dan Teknologi Sorena Sattari.
"Saya senang, bukan hanya karena saya orang pertama, tapi karena proses ilmiah ini berkembang dengan sangat baik di negara saya," kata Mokhber, Putri Mohammad Mokhber, Kepala Badan Pelaksana Instruksi Imam Khomeini ra, sebuah badan usaha milik negara yang menangani upaya vaksin Virus Corona lokal.
Juru Bicara Komite Eksekutif Badan Pelaksana Instruksi Imam Khomeini ra, Hojjat Nik Maleki hari Selasa (29/12/2020) mengatakan, uji coba Vaksin Corona terhadap manusia, yang diproduksi oleh peneliti Iran dimulai dengan penyuntikan vaksin pada beberapa relawan pada hari ini.
"Dengan mendapatkan izin uji manusia, maka tes tahap pertama akan disuntikkan kepada para relawan hari ini," ujar Nik Maleki.
Dia menegaskan, hingga saat ini sudah lebih dari 65.000 orang yang telah mengajukan diri sebagai relawan uji coba vaksin Virus Corona yang dibuat oleh perusahaan Shafa Farmed dari Badan Pelaksana Instruksi Imam Khomeini. Tahap pertama, pengujian akan dilakukan terhadap 56 orang secara bertahap.
Sebelumnya, Shafa Pharmed Company mengumumkan, sebanyak 27.079 orang mengumumkan kesiapannya sebagai relawan uji vaksin yang diproduksi oleh para ilmuwan Iran.
Juru bicara Badan Pengawas Obat dan Makanan Iran Kianoosh Jahanpour mengumumkan, delapan calon vaksin Virus Corona Iran berada dalam daftar kandidat untuk vaksin WHO.
Sehari selanjutnya, Wakil Menteri Kesehatan Iran, Alireza Raeisi pada Rabu (30/12/2020) mengatakan, Tidak ada tanda-tanda negatif yang diamati pada orang-orang yang telah menerima vaksin corona Iran dalam 24 jam terakhir.
"Uji vaksin Corona Iran tahap pertama berhasil dan tes kedua akan disuntikkan dalam 14 hari lagi," ujar Reeisi.
"Vaksin corona Iran tahap ketiga akan disuntikkan dalam 28 hari mendatang, dan jika hasil suntikan vaksinnya positif, maka akan diproduksi massal pada musim semi mendatang," tegasnya.
Wakil Menkes Iran mengungkapkan bahwa negaranya memiliki pengalaman 100 tahun di bidang produksi vaksin dan para ilmuwan Iran memiliki reputasi tinggi di bidang ini.
Studi klinis tahap pertama injeksi vaksin Corona pertama yang diproduksi tim riset Komite Pusat Implementasi Instruksi Imam Khomeini dengan nama eksklusif "Coviran Barekat" yang dimulai kemarin (Selasa,29/12/2020)