Urgensi Pilpres Mendatang Iran dalam Perspektif Rahbar
Pemimpin Besar Revolusi Islam Iran menekankan pentingnya pemilu presiden yang akan datang, dan mengatakan bahwa pemilu tersebut akan memberikan dukungan besar terhadap peningkatan kekuatan Iran di dalam dan luar negeri.
Ayatullah Khamenei dalam pidatonya di awal tahun baru Persia, Nowruz yang disiarkan televisi nasional Iran menyebut pemilu ditinjau dari dalam negeri sebagai bagian dari modernisasi dan peremajaan negara ini.
"Rakyat akan memasuki arena, dan terjadi peremajaan di tingkat aparatur negara yang menjadi langkah sangat penting," ujar Rahbar.
Di sisi lain, Pemimpin Besar Revolusi Islam Iran menjelaskan bahwa pemilu dari perspektif luar negeri menunjukkan kehadiran dan partisipasi rakyat yang akan menampilkan kewibawaan nasional.
Menurut Ayatullah Khamenei, fasilitas pertahanan itu penting dan tidak ada keraguan tentang itu, tetapi yang lebih penting lagi adalah partisipasi rakyat di arena pemilu sebagai kekuatan nasional.
Selama kurang dari tiga bulan lagi, Iran akan menggelar pemilu presiden ketiga belas. Pemilu presiden lebih penting dari pemilu parlemen dan lainnya, karena lembaga eksekutif negara memiliki tanggung jawab yang lebih besar dan luas, terutama di bidang ekonomi dan kebijakan luar negeri.
Presiden memegang puncak pengelolaan negara secara nasional. Oleh karena itu, setiap periode partisipasi efektif rakyat dalam pemilu presiden sangat signifikan dan krusial. Dukungan rakyat terhadap penyelenggaraan pemilu presiden tahun 1400 Hs menyebabkan peningkatan kekuatan yang efektif. Semakin banyak rakyat yang mendukung pemerintah, maka semakin tinggi tingkat kegagalan konspirasi musuh-musuh Iran.

Pengalaman 42 tahun terakhir sejarah Revolusi Islam dengan jelas menunjukkan bahwa setiap kali rakyat dengan antusias hadir di arena politik penting, terutama pemilu, maka Republik Islam berhasil mengatasi masalah yang dihadapinya, dan menjaga kepentingan nasional serta tuntutan rakyatnya.
Dengan kata lain, partisipasi rakyat merupakan komponen terpenting dari peningkatan kewibawaan nasional, sekaligus membuktikan kepada dunia bahwa pemerintahan di Iran dilakukan melalui pemilu dan dikelola berdasarkan tuntutan rakyatnya.
Dilewatinya masa-masa sulit selama 42 tahun terakhir, termasuk delapan tahun perang yang dipaksakan oleh rezim Ba'ath Saddam terhadap Iran, sanksi AS yang ekstensif, kegagalan berbagai konspirasi musuh, terutama kebijakan tekanan maksimum AS; semuanya berakar pada partisipasi aktif rakyat dalam mendukung Republik Islam.
Dukungan rakyat terhadap pemerintah Iran telah menyebabkan kegagalan kebijakan tekanan maksimum yang dilancarkan pemerintahan mantan Presiden AS Donald Trump. Selama empat tahun terakhir, pemerintahan Trump telah mencoba untuk mengambil keuntungan dengan merusak hubungan antara rakyat dengan pemerintah Iran dalam kerangka kebijakan tekanan maksimumnya, tetapi akhirnya gagal.(PH)