Transformasi Timur Tengah, 1 Juni 2019
Transformasi Timur Tengah sepekan terakhir diwarnai oleh sejumlah isu penting di antaranya mengenai persatuan rakyat Palestina menolak Kesepakatan Abad.
Isu lainnya mengenai pidato Sekjen Hizbullah Lebanon tentang manuver AS di kawasan. Selain itu, Ansarullah meminta Perancis berhenti menjual senjata ke Arab Saudi, dan isu terakhir militer Suriah balas serangan rezim Zionis Israel.
Rakyat Palestina Bersatu Tolak Kesepakatan Abad
Pekan lalu, seorang anggota senior Gerakan Hamas, Izzat al-Risheq mengatakan, negara Palestina dengan keras menolak proposal kontroversial Presiden AS Donald Trump yang disebut Kesepakatan Abad.
"Kami tidak akan menerima solusi yang melanggar hak-hak kami... Kesepakatan Abad bertujuan menghapus isu Palestina dan melupakan isu-isu sentral seperti al-Quds dan pemulangan pengungsi," kata al-Risheq dalam sebuah pertemuan antara delegasi Hamas dan Perdana Menteri Lebanon Sa'ad al-Hariri di Beirut.
Gerakan Hamas juga menyerukan boikot terhadap konferensi Bahrain yang digelar dalam rangka melaksankaan proposal AS, Kesepakatan Abad.
Pemerintah AS sebelum ini mengkonfirmasikan penyelenggaraan forum ekonomi internasional Bahrain pada 25-26 Juni untuk menarik investasi di bumi Palestina sebagai tahap pertama pelaksanaan Kesepakatan Abad.
Khalil al-Hayya di sela-sela sidang parlemen Palestina di Jalur Gaza, Rabu (29/5/2019) kepada kantor berita IRNA, mengatakan konferensi Bahrain digelar fokus pada isu ekonomi setelah AS gagal menemukan mitra untuk melaksanakan sebagian kebijakan Kesepakatan Abad.
Sementara itu, Mushir al-Masri, salah satu anggota parlemen Paletina mengatakan, kolusi sejumlah negara Arab dan Muslim dengan AS-Zionis untuk menghapus isu Palestina melalui Kesepakatan Abad, tidak akan mampu mengubah realita dan bangsa Palestina akan menggagalkan seluruh plot ini.
Berdasarkan Kesepakatan Abad, kota Quds akan diserahkan kepada rezim Zionis dan pengungsi Palestina tidak memiliki hak untuk kembali ke tanah airnya. Selain itu, Palestina hanya bisa memiliki sebagian kecil tanah yang tersisa di Tepi Barat dan Jalur Gaza.
Sekjen Hizbullah: Dikte AS atas Iran Gagal karena Rahbar
Sekjen Hizbullah Lebanon, Sayid Hassan Nasrallah mengatakan, hari ini seluruh kekuatan imperialis terutama Amerika Serikat putus asa karena dikte mereka terhadap Iran dan poros perlawanan gagal berkat keberadaan Pemimpin Besar Revolusi Islam Iran atau Rahbar, Ayatullah Sayid Ali Khamenei.
Sekjen Hizbullah, Selasa (28/5/2019) malam dalam pidatonya yang disiarkan lewat video conference, meminta masyarakat Muslim Lebanon untuk mendoakan agar Ayatullah Khamenei diberi umur panjang.
Ia menambahkan, pejabat pemerintah Amerika Serikat mengatakan prakarsa 'Kesepakatan Abad' akan mulai dilaksanakan setelah bulan Ramadhan dan langkah pertama yang dilakukan adalah menggelar konferensi ekonomi di ibukota Bahrain, Manama.
Sekjen Hizbullah menjelaskan, seluruh umat Islam sadar untuk memikul tanggung jawab sejarahnya menghadapi konspirasi jahat yang bertujuan melenyapkan isu Palestina ini.
Nasrallah menuturkan, tema besar peringatan Hari Quds tahun ini adalah melawan Kesepakatan Abad, dan semua peristiwa yang terjadi baru-baru ini atas kawasan Teluk Persia serta Republik Islam Iran, terkait dengan masalah tersebut.
Dia juga mengajak seluruh umat Islam di berbagai belahan dunia untuk berpartisipasi dalam peringatan Hari Quds tahun ini mengingat urgensinya yang lebih besar dibanding tahun-tahun sebelumnya.
Ansarullah Minta Perancis Stop Jual Senjata ke Arab Saudi
Juru bicara Ansarullah Yaman, Mohammed Abdul Salam mengatakan, statemen Menteri Luar Negeri Perancis terkait perang Yaman tidak akan cukup selama Paris masih menjual senjata ke negara-negara agresor.
Menlu Perancis, Jean Yves Le Drian, tanpa menyinggung dukungan senjata negaranya kepada koalisi pimpinan Arab Saudi dalam perang Yaman mengatakan, Arab Saudi dan Uni Emirat Arab harus menghentikan perang kotor di Yaman.
Stasiun televisi Al Masirah, Rabu (29/5/2019) melaporkan, Jubir Ansarullah, Mohammed Abdul Salam di laman Twitternya menulis, seluruh negara yang terlibat dalam penjualan senjata ke negara-negara agresor harus meninjau ulang kontrak penjualan senjata mereka yang digunakan dalam pembunuhan dan kejahatan paling keji terhadap rakyat Yaman.
Tiga surat kabar Perancis baru-baru ini mempublikasikan daftar senjata-senjata Perancis yang dijual ke Saudi dan UEA, dan secara langsung digunakan dalam perang Yaman terhadap warga sipil.
Sementara itu, menurut data kontrak senjata Kongres AS yang dirilis pada November 2017, Presiden Donald Trump telah menjual sekitar 49 miliar dolar senjata ke berbagai negara dunia sejak 20 Januari sampai November 2017.
Bahrain, Arab Saudi, dan UEA tercatat sebagai importir terbesar senjata dari AS. Trump benar-benar mengejar kepentingan ekonomi semata dan sama sekali tidak berusaha untuk mengakhiri krisis yang terjadi di kawasan seperti di Yaman. Dia secara prinsip menentang berakhirnya perang di Yaman.
Markasnya Diserang, Militer Suriah Tembak Jatuh Drone Israel
Sumber militer Suriah mengabarkan penembakan jatuh sebuah pesawat tanpa awak rezim Zionis Israel yang terbang di atas wilayah Quneitra, Suriah.
Seperti dilaporkan kantor berita IRIB, 28 Mei 2019, beberapa jam setelah serangan rudal Israel ke markas pasukan Suriah di Provinsi Quneitra, militer negara ini mengabarkan penembakan jatuh drone Israel di wilayah tersebut.
Militer Israel juga mengkonfirmasi pesawat tanpa awak miliknya ditembak jatuh oleh pasukan Suriah di Quneitra.
Pada saat yang sama, militer Israel mengumumkan telah menyerang markas pasukan Suriah di Quneitra dengan rudal.
Sebelumnya beberapa sumber militer Suriah mengabarkan, pada Senin (27/5) malam, Israel menyerang markas pasukan Suriah di wilayah Tal Al Shaar, Quneitra yang menewaskan seorang personil militer negara ini dan melukai beberapa lainnya.
Sementara itu, Pusat Rekonsiliasi Rusia di Suriah mengkonfirmasikan serangan anasir Front al-Nusra ke pos-pos milite Suriah di utara Provinsi Hama berhasil dipatahkan dan sedikitnya 100 teroris terbunuh.
Pusat Rekonsiliasi Rusia di Suriah dalam laporannya menyatakan, sedikitnya 450 anasir teroris menyerang wilayah Kfar Nabudah di utara Provinsi Hama dan berusaha menarget pos-pos militer Suriah, namun serangan mereka gagal.
Militer Suriah dalam pertempuran itu berhasil menghancurkan tiga tank, dua sistem pelontar roket dan sebuah kendaraan lapis baja.
Militer Suriah pada 8 Mei 2019 berhasil merebut kembali distrik strategis Kfar Nabudah dari tangan kelompok teroris.
Sejak awal Mei 2019, Provinsi Idlib dan barat laut Hama menjadi ajang bentrokan antara militer Suriah dan kelompok teroris. (RM)