Dinamika Asia Tenggara, 28 Januari 2020
https://parstoday.ir/id/news/other-i78064-dinamika_asia_tenggara_28_januari_2020
Dinamika Asia Tenggara selama beberapa terakhir menyoroti sejumlah isu di antaranya mengenai penyebaran virus Corona di Indonesia dan Asia Tenggara.
(last modified 2026-03-03T08:52:08+00:00 )
Jan 28, 2020 09:52 Asia/Jakarta
  • Kontrol penyebaran virus corona
    Kontrol penyebaran virus corona

Dinamika Asia Tenggara selama beberapa terakhir menyoroti sejumlah isu di antaranya mengenai penyebaran virus Corona di Indonesia dan Asia Tenggara.

Selain itu, kondisi WNI yang terjebak di Wuna dan daerah lain di Cina yang masuk zona karantina, penyebaran virus Corona ditemukan di Malaysia dan pernyataan PM Malaysia yang menilai kondisi masih terkendali sehingga sektor terkait seperti pariwisata tetap berjalan. Isu lainnya dari Filipina mengenai ultimatum yang dikeluarkan Presiden Duterte mengenai penumpasan kelompok teroris Abu Sayyaf.

 

virus corona, ilustrasi

 

Virus Corona Diduga Masuk Indonesia

Dua kasus terbaru diduga penyebaran novel coronavirus (nCov) atau virus corona ditemukan di Bandung dan Raja Ampat Papua.

Seorang pasien menjalani perawatan di Rumah Sakit Umum Pemerintah Dr. Hasan Sadikin (RSHS), Kota Bandung. Pasien itu dirujuk dari Rumah Sakit Cahya Kawaluya (RSCK), Kabupaten Bandung Barat.

Rieke, salah satu petugas contact center RSHS Senin (27/1)  mengatakan pihak RS belum bisa memastikan apakah pasien tersebut positif terserang virus corona. Rieke mengatakan informasi secara resmi akan disampaikan RSHS pada pukul 10.00 WIB mendatang.

Berdasarkan informasi yang dihimpun, pasien laki-laki itu dirujuk RS Cahya Kawaluyan ke RS Hasan Sadikin pada Minggu (26/1).

Pasien terduga virus corona tersebut saat ini dirawat di Ruang Isolasi RSHS Bandung. Humas RSHS Bandung Reny Meisuburriyani mengatakan manajemen rumah sakit juga belum bisa memberikan kepastian penyakit pasien tersebut.

Sementara itu, Seorang wisatawan asal Hong Kong berinisial YP yang berkunjung ke Raja Ampat, Provinsi Papua Barat, diduga terinfeksi virus Corona. Turis itu saat ini tengah menjalani perawatan di Rumah Sakit Sele be Solu kota Sorong.

Direktur Rumah Sakit Sele be Solu, dr Mavkren J Kambuaya saat ditemui Antara di Sorong, Senin (27/1), mengatakan pasien tersebut mengeluh sakit demam dan panas usai menyelam di Raja Ampat. Ia kemudian dirujuk ke Rumah Sakit Pertamina Sorong pada 25 Januari 2020.

Dokter menangani pasien tersebut dengan memberikan obat penurun panas dan demam. Panas pasien tersebut kini diklaim sudah berkurang.

Pihak rumah sakit berkoordinasi dengan pihak karantina kesehatan dan dinas kesehatan guna melakukan pemeriksaan lanjutan untuk mengetahui apakah pasien tersebut terinfeksi corona.

Ia menjelaskan bahwa guna mengetahui apakah pasien tersebut terinfeksi virus Corona maka harus pemeriksaan tenggorokan dan hasilnya dikirim ke Jakarta. Dia menyampaikan pasien tersebut akan diisolasi 7-14 hari guna pemeriksaan lebih lanjut. Menurutnya, meminta masyarakat tidak perlu khawatir karena kasus ini masih dugaan terinfeksi virus corona.

 

WNI di Wuhan Kesulitan Logistik

Warga negara Indonesia (WNI) yang berada di Wuhan dan beberapa wilayah lain di Cina yang masuk dalam kategori karantina dilaporkan menghadapi masalah keterbatasan logistik.

Kementerian Luar Negeri Republik Indonesia mengakui ada keterbatasan bergerak atau kesulitan melakukan mobilitas yang dirasakan oleh Warga Negara Indonesia (WNI) yang berada di Wuhan dan beberapa wilayah lain di Cina yang masuk dalam kategori karantina. Selain itu, mereka juga menghadapi kelangkaan logistik.

"Kita lihat dari sisi masyarakat kita yang masih ada di Wuhan memang ada keterbatasan mereka, bukan mobilitas tapi lebih banyak dalam konteks perlindungan diri sehingga tidak terpapar dari sisi kesehatan," kata Pelaksana tugas (Plt) Kementerian Luar Negeri Indonesia Teuku Faizasyah di Gedung Kementerian Luar Negeri, Jakarta Pusat, Senin (27/1).

Kemlu Indonesia memastika para WNI tersebut saat ini dalam keadaan baik-baik saja dan tidak terindikasi virus corona.

Kementerian Luar Negeri Indonesia masih menunggu pemerintah Cina untuk membuka jalur evakuasi warga negara Indonesia yang saat ini masih berada di Wuhan, Cina. WNI yang tercatat berada di wilayah karantina total berjumlah 243 orang. Mereka semua tersebar di 15 kota yang ada di Provinsi Wubei.

Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi mengatakan pemerintah belum mengeluarkan peringatan atau travel warning ke Cina dalam menyikapi penyebaran virus corona karena masih menunggu rekomendasi dari Organisasi Kesehatan Dunia (WHO).

Menurut dia, pihaknya bersama Menteri Kesehatan dan Menteri Luar Negeri baru membahas kemungkinan penerbitan travel warning ke Cina setelah WHO mengeluarkan rekomendasi.

 

Malaysia Benarkan Tiga Kasus Pertama Virus Corona

Malaysia pada hari Sabtu (25/1/2020) mengatakan pihaknya membenarkan tiga kasus infeksi virus corona, menjadi yang pertama di negara Asia Tenggara tersebut.

Menteri Kesehatan Malaysia, Dzulkefly Ahmad menyebutkan tiga individu yang terinfeksi terkait dengan pria berusia 66 tahun, yang dikonfirmasi oleh otoritas kesehatan Singapura, telah terbukti positif terjangkit virus tersebut.

Kasus pertama di Malaysia itu terkait dengan seorang pria warga negara Cina berusia 66 tahun dan penduduk Wuhan, kota di Cina yang menjadi pusat wabah tersebut.

Pria itu tiba di Singapura bersama keluarganya pada 20 Januari dan saat ini dirawat di rumah sakit atas dugaan kasus virus corona.

Seorang perempuan berusia 53 tahun, juga warga negara Cina yang berasal dari Wuhan, menurut hasil pemeriksaan awal diketahui positif terpapar virus. Hasil tersebut masih menunggu kepastian.

Pihak berwenang Singapura meningkatkan pemeriksaan pada semua penumpang yang tiba dengan penerbangan dari Cina. Otoritas juga telah mengisolasi orang-orang yang diduga terpapar virus itu.

Pada Kamis lalu, otoritas Singapura mengatakan mereka akan memperluas pengawasan di semua pos pemeriksaan darat dan laut. Pemerintah Singapura juga sudah mengeluarkan imbauan bagi warganya untuk tidak bepergian ke Provinsi Hubei di Cina.

 

 

PM Malaysia, Mahathir Mohamad

Mahathir: Pariwisata Malaysia Tidak Terpengaruh Virus Corona

Perdana Menteri Malaysia, Mahathir Mohamad menilai kondisi saat ini belum mencapai tahap kritis akibat merebaknya virus Corona yang sudah memasuki kawasan Asia tenggara.

“Saat ini belum masuk ke tahap kritis, sehingga kita perlu menghentikan sektor terkait seperti pariwisata. Kita harus menilai kapan tahap kritis. Tetapi kami akan terus memeriksa wisatawan setiap kali ada indikasi mereka mungkin terinfeksi,” kata Mahathir kepada media setelah menghadiri open house Tahun Baru Cina (CNY) 2020 hari ini.

Dia mengatakan sebagian besar negara mengambil tindakan karena hal ini sesuatu yang baru dan serius.

Open house yang diselenggarakan oleh Menteri Keuangan Malaysia Lim Guan Eng dan Kamar Dagang dan Industri Cina (KCCCI) Klang juga dihadiri oleh beberapa menteri negara ini.

Mahathir mengatakan untuk saat ini, pemerintah tidak memiliki rencana menghentikan wisatawan dari Wuhan, Cina untuk datang ke Malaysia.

Menjawab pertanyaan wartawan apakah pemerintah Malaysia berencana untuk mengkarantina semua wisatawan dari Cina dan negara-negara lain yang terkena dampak virus Corona, Mahathir mengatakan bahwa langkah itu tidak dapat dilakukan karena jumlah wisatawan Cina yang datang ke negara itu bisa mencapai dua juta orang.

Penyebaran virus corona yang berasal dari Wuhan, Cina hingga kini sudah menyebar ke sejumlah negara ASEAN antara lain: Singapura, Thailand, dan Vietnam.

 

Presiden Filipina, Rodrigo Duterte

Duterte Keluarkan Ultimatum Tumpas Abu Sayyaf

Presiden Filipina, Rodrigo Duterte, menetapkan batas waktu untuk operasi menumpas kelompok bersenjata Abu Sayyaf (ASG) hingga 31 Maret mendatang. Angkatan bersenjata menyatakan akan mengubah taktik untuk menundukkan para milisi yang kerap membuat onar, merompak, menculik dan menyatakan tunduk kepada  kelompok teroris Daesh (ISIS).

Menurut Komandan Satuan Tugas Gabungan Sulu, Mayjen. Corleto Vinluan Jr., kekuatan personel dan persenjataan Abu Sayyaf saat ini semakin menurun. Dia mengatakan pada tahun lalu jumlah anggota kelompok itu sekitar 300 orang.

Pasukan Filipina berhasil menembak mati salah satu tokoh Abu Sayyaf, Abu Palha. Palha diduga berperan sebagai penghubung kelompok itu supaya mendapat bantuan uang dan senjata dari ISIS.

Sobejana mengatakan taktik baru yang akan dilakukan termasuk dengan mengerahkan pasukan tambahan ke Sulu. Selain itu, militer Filipina juga akan merangkul masyarakat setempat untuk ikut aktif memerangi terorisme.(PH)