Transformasi Asia Barat, 18 Desember 2021
Transformasi Asia Barat selama sepekan terakhir menyoroti sejumlah isu di antaranya mengenai operasi penumpasan terorisme di Irak.
Selain itu, puluhan ribu warga Palestina shalat Jumat di Masjid al-Aqsa, para staf kantor PM rezim Zionis mengundurkan diri, perang di Marib, 53 komandan koalisi Saudi tewas, pernyataan Naim Qassem bahwa Kedubes AS di Lebanon mengelola perang atas Hizbullah, dan warga Bahrain melanjutkan protes penahanan aktivis politik.
Militer Irak dan Al Hashd Al Shaabi Lancarkan Operasi Penumpasan Teroris
Tentara Irak dan pasukan Al Hashd Al Shaabi melancarkan operasi penumpasan terorisme besar-besaran di provinsi Diyala.
Sumeria News hari Senin (13/12/2021) melaporkan, Pusat Informasi Keamanan Irak dalam sebuah pernyataan menyatakan posisi teroris takfiri Daesh di Pegunungan Hamreen di provinsi Diyala menjadi target serangan gabungan pasukan militer Irak dan Al Hashd Al Shaabi.
Komandan Operasi Diyala, menyatakan bahwa operasi itu dilakukan setelah menerima laporan tentang gerakan teroris di daerah tersebut.
Kelompok teroris Daesh mengalami pukulan parah dalam operasi tersebut, dan beberapa dari mereka tewas dan terluka.
Pasukan Irak juga menghancurkan posisi sisa-sisa teroris takfiri Daesh di provinsi Al-Anbar dan Salah al-Din dalam beberapa hari terakhir.
Pada tahun 2017, setelah tiga tahun berperang, Irak menyatakan kemenangan atas kelompok teroris Daesh, tetapi sebagian kecil dari kelompok teroris ini masih aktif di beberapa daerah seperti: Diyala, Kirkuk, Nineveh, Salah al-Din, Al- Anbar dan Baghdad.
Puluhan Ribu Warga Palestina Shalat Jumat di Masjid al-Aqsa
Ribuan warga Palestina melaksanakan Shalat Jumat di Masjid al-Aqsa meski rezim Zionis Israel menerapkan langkah-langkah keamanan ketat di sekitar kompleks Kiblat Pertama Umat Islam ini.
Menurut Palestine al-Yawm, ribuan jemaah Palestina mendatangi Masjid al-Aqsa pada hari ini, Jumat (17/12/2021) untuk menunaikan Shalat Jumat di tempat suci ini.
Hal itu terjadi saat rezim Zionis telah menerapkan pengamanan ketat di sekitar Masjid al-Aqsa sejak Jumat pagi.
Organisasi Wakaf Islam al-Quds juga mengumumkan dalam sebuah pernyataan bahwa 40.000 orang menghadiri Shalat Jumat hari ini di Masjid al-Aqsa.
Para Staf Kantor PM Rezim Zionis Mengundurkan Diri, Mengapa ?
Sebuah surat kabar berbahasa Ibrani melaporkan pengunduran diri sejumlah staf senior kantor perdana menteri rezim Zionis Israel.
Surat kabar Israel Israel Hayom hari Kamis (16/12/2021) melaporkan sebanyak tiga orang wanita dari staf senior kantor Perdana Menteri Israel Naftali Bennett mengajukan pengunduran diri.
Surat kabar rezim Zionis ini mengungkapkan langkah tersebut dilakukan mengikuti aksi serupa baru-baru ini para karyawan wanita lain di kantor Naftali Bennett.
Kantor Perdana Menteri Israel Naftali Bennett mengaitkan pengunduran diri itu dengan alasan pribadi. Tetapi seorang pejabat senior menyalahkan pengunduran diri tersebut dipicu lingkungan kerja yang keras yang telah menyebabkan perselisihan antara para staf dengan Shimrit Meir, yang saat ini menjabat sebagai penasihat Bennett.
Laporan media Israel ini juga menyinggung campur tangan Meir yang luas dalam banyak masalah, program dan kegiatan kantor perdana menteri, serta pelaksanaan kerja yang menekan para pejabat senior.
Israel Hayom menulis, "Penguatan pengaruh Meir dan intervensinya yang besar di dalam struktur kerja kantor perdana menteri juga memicu protes dari rekannya sendiri di partai sayap kanan, Ayelet Shaked,".
Meir sekarang digambarkan sebagai sosok paling kuat di kantor perdana menteri Naftali Bennett, dan dia memperluas pengaruh internal dan eksternalnya dengan mencampuri berbagai masalah, bahkan hal-hal yang tidak berada dalam wewenangnya sekalipun.
Perang di Ma'rib, 53 Komandan Koalisi Saudi Tewas
Pasukan koalisi pimpinan Arab Saudi melancarkan serangan militer ke Yaman sejak 26 Maret 2015 dengan dalih mengembalikan kekuasaan Abd Rabbuh Mansour Hadi, namun hingga sekarang pasukan penjajah belum mencapai tujuannya, bahkan dalam beberapa bulan terakhir, 53 komandan senior pasukan koalisi tewas di Ma'rib.
Menurut situs al-Khabar al-Yemeni, Jumat (17/12/2021), penguasaan informasi pemerintah Sanaa dan pengaruhnya di kalangan militer dan komandan tinggi pasukan yang berafiliasi dengan Mansour Hadi di Ma'rib sejauh ini telah menyingkirkan 53 komandan tinggi pasukan koalisi pimpinan Arab Saudi.
Menurut laporan itu, tewasnya satu demi satu para komandan Mansour Hadi telah menyebabkan ketakutan dan kecemasan di antara para komandan lainnya dan menimbulkan kekhawatiran terhadap pasukan koalisi pimpinan Arab Saudi di Ma'rib.
Dalam beberapa bulan terakhir, pasukan dan komite rakyat Yaman memperketat pengepungan terhadap Provinsi Ma'rib dari tiga arah di utara, selatan dan barat Yaman. Mereka juga terus bergerak maju menuju kota Ma'rib dan berusaha untuk membebaskan kota ini dari pasukan koalisi.
Agresi militer Arab Saudi dan sekutunya ke Yaman telah menewaskan dan melukai ratusan ribu warga negara ini dan memaksa empat juta orang mengungsi. Lebih dari 85% infrastruktur vital Yaman juga hancur dan rakyat di negara ini sangat kekurangan makanan dan obat-obatan.
Badan-badan PBB, termasuk Organisasi Kesehatan Dunia dan UNICEF, telah berulang kali memperingatkan bahwa rakyat Yaman terus menghadapi kelaparan dan bencana kemanusiaan yang belum pernah terjadi sebelumnya dalam satu abad terakhir.
Naim Qassem: Kedubes AS di Lebanon Kelola Perang atas Hizbullah
Wakil Sekjen Hizbullah Lebanon mengatakan, Amerika Serikat memegang kendali perang terhadap kelompok-kelompok perlawanan di kawasan dan Lebanon, dan Kedutaan Besar AS di Beirut, memainkan peran utama.
Sheikh Naim Qassem, Selasa (14/12/2021) memprotes serangan yang dilancarkan AS dan sekutunya di Lebanon serta kawasan terhadap Hizbullah, dan menurutnya serangan ini memang ditujukan terhadap kelompok perlawanan.
Dikutip situs El Nashra, Naim Qassem menjelaskan, serangan terorganisir terhadap Hizbullah, dan kelompok perlawanan lain di Lebanon serta kawasan terus berlangsung dengan kendali AS.
Ia menambahkan, Gerakan 14 Maret Lebanon, dan beberapa kelompok lain terlibat dalam serangan AS ini, dan Kedubes AS di Lebanon mengelola serangan-serangan yang menargetkan Hizbullah, kelompok perlawanan dan senjatanya.
"Lebanon yang kami harapkan adalah Lebanon yang bebas dari penjajahan, tidak menjadi pengikut siapa pun, dilindungi oleh tiga elemen bangsa yaitu militer, rakyat dan kelompok perlawanan, serta memiliki kekuatan pencegahan di hadapan rezim Zionis Israel," imbuhnya.
Naim Qassem menegaskan, "Orang-orang yang merusak Lebanon dengan perang saudara dan pembunuhan, tidak berhak menentukan masa depan Lebanon, dan mengaku mewakili negara ini. Orang-orang yang mendahulukan Israel daripada Hizbullah, tidak berhak memimpin dan menentukan masa depan negara."
Warga Bahrain Lanjutkan Protes Penahanan Aktivis Politik
Sejumlah warga Bahrain melanjutkan aksi protes terhadap penahanan aktivis politik oleh rezim Al Khalifa.
Gerakan Al-Wefaq Bahrain di akun Twitternya hari Minggu (12/12/2021) menulis, "Orang-orang di daerah Al-Sanabs kembali berdemonstrasi untuk menuntut pembebasan tanpa syarat para tahanan politik Bahrain."
"Aksi unjuk rasa ini diadakan sebagai bentuk solidaritas terhadap Abdul Jalil al-Sankis, seorang aktivis HAM Bahrain yang saat ini mendekam di balik jeruji besi.
Al-Sankis, seorang cendekiawan dan aktivis sipil Bahrain berada di penjara rezim Al-Khalifa sejak 2011 dan telah melakukan mogok makan selama beberapa waktu untuk memprotes perlakuan buruk sipir penjara terhadap dirinya.
Pada hari Minggu, Pusat Hak Asasi Manusia Bahrain mengumumkan tindakan terbaru rezim Al-Khalifa terhadap penentang normalisasi hubungan dengan rezim Zionis, termasuk 14 warga negara ini telah ditangkap selama protes tersebut.
Pada September 2020, Bahrain menandatangani perjanjian normalisasi dengan rezim Zionis yang disebut "Kesepakatan Abraham" yang dimediasi Presiden AS, Donald Trump pada September 2020, dan sejak itu secara resmi menjalin hubungan diplomatik dengan Tel Aviv.(PH)