Al-Bukhaiti: Negara Agresor harus Merevisi Perhitungan Perdamaian
https://parstoday.ir/id/news/west_asia-i118140-al_bukhaiti_negara_agresor_harus_merevisi_perhitungan_perdamaian
Anggota Dewan Politik pemerintah Penyelamatan Nasional Yaman terkait gencatan senjata dua bulan mengatakan, negara-negara agresor harus mempertimbangkan kembali perhitungannya untuk meraih perdamaian berkesinambungan dan komprehensif di Yaman.
(last modified 2026-04-05T11:58:22+00:00 )
Apr 02, 2022 13:44 Asia/Jakarta
  • Al Bukhaiti
    Al Bukhaiti

Anggota Dewan Politik pemerintah Penyelamatan Nasional Yaman terkait gencatan senjata dua bulan mengatakan, negara-negara agresor harus mempertimbangkan kembali perhitungannya untuk meraih perdamaian berkesinambungan dan komprehensif di Yaman.

Utusan khusus PBB untuk Yaman Hans Grundberg Jumat (1/4/2022) malam mengumumkan, pemerintah Penyelamatan Nasional Yaman dan Koalisi Saudi menyetujui usulan gencatan senjata dua bulan oleh PBB yang akan diberlakukan mulai pukul 19:00 Sabtu (2/4/2022).

Menurut laporan al-Mayadeen Sabtu (2/4/2022), Mohammad al-Bukhaiti mengungkapkan, "Meski kepatuhan janji negara-negara agresor dan panggilan hati nurani mereka tidak dapat dipercaya, tapi kali ini gencatan senjata berbeda di bawah serangan terbaru militer dan komite rakyat Yaman ke Arab Saudi."

Militer bersama komite rakyat Yaman Sabtu dini hari lalu dan dalam membalas pelanggaran berulang gencatan serta blokade Yaman, menyerang instalasi perusahaan Aramco di Jeddah dan sejumlah pusat penting lain di Riyadh dengan rudal.

Arab Saudi dengan dukungan Amerika Serikat, Uni Emirat Arab (UEA) dan sejumlah negara lain melancarkan agresi militer ke Yaman sejak Maret 2015 dan memblokade total dari darat, udara dan laut terhadap negara ini.

Perang yang dikobarkan Arab Saudi beserta sekutunya di Yaman sampai saat ini telah menewaskan dan melukai ratusan ribu warga Yaman serta memaksa empat juta orang mengungsi.

Agresi militer Arab Saudi ini juga menghancurkan lebih dari 85 persen infrastruktur Yaman dan membuat negara ini menghadapi krisis makanan dan obat-obatan.

Menurut pengumuman PBB, Yaman menghadapi krisis kemanusiaan terparah di dunia. Saat ini 80 persen dari 29 juta penduduk Yaman membutuhkan bantuan untuk melanjutkan hidup. (MF)