Mengapa Protes terhadap Netanyahu di Israel Terus Berlanjut ?
https://parstoday.ir/id/news/west_asia-i145086-mengapa_protes_terhadap_netanyahu_di_israel_terus_berlanjut
Gelombang unjuk rasa yang belum pernah terjadi sebelumnya terhadap Perdana Menteri dan kabinet rezim Zionis telah berlangsung 18 pekan berturut-turut, dan akan terus berlanjut.
(last modified 2026-03-03T08:52:08+00:00 )
May 08, 2023 07:50 Asia/Jakarta

Gelombang unjuk rasa yang belum pernah terjadi sebelumnya terhadap Perdana Menteri dan kabinet rezim Zionis telah berlangsung 18 pekan berturut-turut, dan akan terus berlanjut.

Salah satu pemicu utama aksi protes besar-besaran di dalam internal rezim Zionis ini mengenai rencana reformasi yudisial yang diusung kabinet baru yang dipimpin Benjamin Netanyahu. Selain itu, demonstrasi tersebut menyuarakan penentangan terhadap korupsi Netanyahu, istrinya, dan beberapa anggota kabinet Israel.

Netanyahu menghadapi empat kasus korupsi yang masih terbuka di peradilan Israel sejak empat tahun lalu. Kasus-kasus ini dikenal di media sebagai kasus 1000, 2000, 3000 dan 4000.

Dalam kasus ini, Netanyahu dituduh melakukan penyuapan, penipuan, dan pengkhianatan kepercayaan. Sarah Netanyahu, istrinya, juga dituduh menyalahgunakan posisi suami dan secara pribadi menggunakan anggaran pemerintah untuk kepentinganya sendiri.

Sarah Netanyahu menggunakan uang untuk perawatan ayahnya dari kantong kabinet rezim Zionis. Padahal, lebih dari 360 ribu warga Israel tidak bisa mendapatkan cukup obat untuk mengatasi penyakit mereka.

Lebih dari itu, laporan Kementerian Kehakiman Rezim Zionis menunjukkan sebuah dakwaan terhadap Sarah Netanyahu yang dituduh menghabiskan 350 ribu shekel atau sekitar 100 ribu dolar yang diambil dari anggaran pemerintah untuk memesan makanan dari restoran mahal. Sementara di kediaman perdana menteri terdapat juru masak resmi, dan dia dilarang menyiapkan makanan dari manapun, karena alasan keamanan dan protokoler.

 

 

Selama beberapa tahun terakhir, Netanyahu berusaha keras untuk menutup kasus korupsi yang melilit dirinya dan istrinya, namun gagal. Meskipun sistem peradilan Israel gagal mencegah Netanyahu menjadi perdana menteri, tapi, tidak menutup kasus-kasus yang melilit Netanyahu. Oleh karena itu, setelah menjabat kembali sebagai Perdana Menteri rezim Zionis pada Desember 2021, Netanyahu mencoba melemahkan sistem peradilan dan meningkatkan kekuasaan yudisial kabinet dan Knesset dengan mengajukan rencana reformasi yudisial.

Langkah tersebut menyulut demonstrasi terus-menerus di wilayah pendudukan, karena para pengunjuk rasa percaya bahwa Netanyahu sedang mencoba untuk menutup kasus korupsi yang dihadapinya.

Kelanjutan protes ratusan ribu orang Zionis menyebabkan Netanyahu menangguhkan rencana reformasi peradilan. Tetapi aksi protes belum berakhir dan terus berlanjut dalam bentuk yang meluas. Sambil bersikeras melakukan demonstrasi, para pengunjuk rasa menuntut pencopotan Netanyahu dari jabatan perdana menteri Israel.

 

 

Dalam perkembangan terakhir, Gali Baharav-Miara, Penasihat Yudisial Kabinet Rezim Zionis mengatakan,"Jika Netanyahu setuju untuk mengaku bersalah dan menggunakan mekanisme pengakuan bersalah untuk menutup kasusnya, maka jaksa penuntut akan membebaskan dari hukuman penjara yang akan dihadapi Netanyahu,". Dia menambahkan, "Setelah mengakui pelanggaran tersebut, Netanyahu akan dihukum atas tuduhan pengkhianatan kepercayaan, tetapi tuduhan menerima suap akan dicabut darinya. Oleh karena itu, dia akan meninggalkan panggung politik,".

Sepak terjang Netanyahu yang selama ini terus menyangkal pelanggaran aturan yang dilakukannya, dan berupaya menekan sistem peradilan, menunjukkan bahwa dia masih memilih tetap memegang kekuasaan, meskipun dibayangi ancaman kurungan penjara yang menguntitnya. Pada saat yang sama gelombang protes massa Zionis terus-menerus melancarkan aksinya yang akan menghancurkan mimpi indah Netanyahu, dan mengantarkan ke arah bencana besar. Badai krisis yang disulut Netanyahu, tidak hanya akan menghancurkan dirinya sendiri, bahkan mengarah pada kehancuran Israel.(PH)