Kebengisan Israel Bunuh Balita Palestina dan Kebungkaman Pengklaim HAM
-
Mohammad Haitham al-Tamimi
Empat hari sudah berlalu dari kejahatan rezim Zionis Israel membunuh balita 3 tahun Palestina.
Empat hari lalu dan akibat tembakan tentara rezim Zionis di Tepi Barat, seorang pemuda dan anak Palestina yang berusia 3 tahun bernama Mohammad Haitham al-Tamimi terluka. Balita Palestina ini akhirnya menghembuskan nafasnya di Ramallah karena cidera parah yang ia derita akibat tembakan rezim pembantai anak (Israel).
Pembantaian anak bukan kejahatan saat ini rezim Zionis Israel, tapi merupakan catatan panjang rezim ini selama 74 tahun. Sejak tahun 2000 hingga 2022, sekitar 2500 anak Palestina gugur. Middle East Eye dalam laporannya menulis, analisa statistik kekerasan tak terhitung rezim Zionis menunjukkan bahwa tahun 2022 tercatat sebagai tahun paling mematikan bagi warga Palestina di Tepi Barat Sungai Jordan sejak Intifada kedua. Selama tahun tersebut, sedikitnya 220 warga Paelstina gugur akibat serangan rezim Zionis di seluruh wilayah pendudukan, di mana 48 di antara syuhada tersebut adalah anak-anak. Selama enam bulan dari tahun 2023, sebanyak 28 anak Palestina yang tak berdosa terluka dan gugur di tangan rezim penjajah Israel.
Anak-anak Palestina ketika gugur di tangan pemukim dan tentara Zionis, pada dasarnya mereka tidak melakukan kejahatan apa pun, kecuali karena mereka seorang Palestina. Militer Israel sebelumnya bahkan menggugurkan Hamzah Nassar, 12 tahun yang tengah berpuasa.
Pembantaian anak-anak berubah menjadi "kejahatan biasa" dan berkelanjutan rezim ini. Ayed Abu Eqtaish, Direktur Defense for Children International - Palestine (DCIP) dalam statemennya mengatakan, pembunuhan ilegal anak-anak Palestina telah berubah menjadi hal biasa, karena pasukan Israel semakin diberdayakan untuk menggunakan kekuatan mematikan yang disengaja dalam situasi yang tidak dibenarkan; Ini adalah kejahatan perang tanpa konsekuensi.
Kejahatan rezim Israel terhadap rakyat Palestina terjadi di tengah kebungkaman para pengklaim pembela HAM. Amerika Serikat dan Eropa yang berulang kali berbicara mengenai Hak Asasi Manusia (HAM) dan mengklaim menjaga HAM di seluruh negara dunia, hanya puas menyaksikan tewasnya anak-anak di tangan militer Israel, dan secara praktis membuktikan bahwa mereka meyakini bahwa anak-anak Palestina tidak seperti anak-anak Eropa dan Amerika, anak-anak Palestina tidak berhak hidup. Respon internasional sepertinya sebuah genosida tengah terjadi. Menurut pandangan pengklaim palsu HAM, genosida jika dilakukan oleh rezim Zionis, bukan sebuah kejahatan, bahkan jika korbanya adalah anak-anak yang tidak berdosa dan tertindas.
Apa yang mendorong rezim Zionis semakin berani melakukan kejahatan seperti ini dan kejahatan lain terhadap rakyat Palestina adalah sikap tebang pilih dan dukungan kekuatan Barat dan PBB terhadap kejahatan seperti ini. Terbunuhnya anak-anak Ukraina di perang sama halnya dengan genosida, tapi gugurnya anak-anak Palestina adalah bukti dari pembelaan diri rezim Zionis.
Sekaitan dengan ini, Juru bicara Kemenlu Iran, Nasser Kanaani seraya menjelaskan bahwa Mohammad Haitham al-Tamimi, bocah tiga tahun dan anak tak berdosa ke-8 Palestina yang gugur di tangan rezim pembantai anak (Israel) tahun ini, mengatakan, "Perang dukungan para pembela rezim Zionis dalam kelanjutan kejahatan harian ini, memiliki konsekuensi dan tanggung jawab dari sudut pandang hukum dan internasional."