Rezim Zionis
Kegagalan Rezim Zionis, dari Kebuntuan Intelijen hingga Eskalasi Ketegangan Keamanan
-
Tentara Zionis
Pars Today - Terungkapnya ketidakmampuan dinas intelijen rezim Zionis untuk menyusup ke kepemimpinan Hamas, bersamaan dengan intensifikasi operasi militer di Tepi Barat, peringatan tentang kemampuan rudal Iran, dan laporan tentang infiltrasi intelijen Tehran ke dalam struktur keamanan Israel, telah menghadirkan krisis berlapis bagi rezim Zionis. Krisis yang berkisar dari kelemahan intelijen hingga kekhawatiran strategis.
Setelah Operasi Badai Al-Aqsa pada 7 Oktober 2023, rezim Zionis menghadapi gelombang pertanyaan tentang efektivitas struktur keamanan dan intelijennya. Dalam beberapa bulan terakhir, media berbahasa Ibrani telah menerbitkan banyak laporan yang mengungkapkan kesenjangan yang dalam dalam dinas intelijen, meningkatnya ketidakamanan di wilayah pendudukan, dan meningkatnya kekhawatiran tentang perkembangan regional.
Serangkaian laporan ini menunjukkan bahwa Tel Aviv tidak hanya gagal untuk menahan ancaman eksternal, tetapi juga menghadapi tantangan kompleks di internal.
Pengakuan Kegagalan Intelijen terhadap Hamas
Surat kabar berbahasa Ibrani Yediot Ahronoth menulis dalam sebuah laporan bahwa lembaga keamanan rezim Zionis belum mampu menggunakan mata-mata di antara para pemimpin gerakan Hamas selama dua dekade terakhir.
Menurut laporan ini, Shin Bet, Mossad, dan Unit ke-504 tentara Israel, meskipun telah bertahun-tahun mengendalikan dan mengepung Jalur Gaza, gagal memperoleh sumber intelijen yang efektif di tingkat tinggi Hamas. Korang ini, mempertanyakan bagaimana Tel Aviv tetap tidak menyadari perkembangan kurang dari 100 kilometer dari Tel Aviv, menganggap kegagalan ini sebagai salah satu akar utama dari kejutan keamanan 7 Oktober.
Badai Al-Aqsa, Pukulan Terbesar bagi Reputasi Keamanan Israel
Otoritas Israel telah menggambarkan operasi 7 Oktober sebagai "kegagalan intelijen dan militer terbesar" dalam sejarah rezim Zionis. Sebuah peristiwa yang, menurut para analis, telah sangat merusak citra tentara dan dinas keamanan Israel di tingkat regional dan internasional.
Laporan Yedioth Ahronoth menekankan bahwa bahkan tentara bayaran berpangkat rendah pun tidak memberikan informasi berharga sebelum operasi ini, yang telah menjadikan Hamas sebagai "musuh paling keras kepala" Tel Aviv.
Intensifikasi Operasi Militer di Tepi Barat
Sebagai kelanjutan dari suasana keamanan yang tegang, tentara Israel telah mengumumkan dimulainya "operasi keamanan" skala besar di kota Qabatiya di selatan Jenin, di Tepi Barat.
Menurut pernyataan tentara, unit-unit pasukan terjun payung, unit khusus Dofdwan, pasukan Shin Bet, dan polisi perbatasan telah memasuki daerah tersebut dengan tujuan yang disebut "memerangi terorisme". Media Palestina melaporkan bahwa serangan itu melibatkan penggunaan buldoser militer dan tembakan senjata berat, dan menyusul serangan di utara wilayah pendudukan yang menewaskan dua Zionis.
Kekhawatiran Strategis Israel tentang Kemampuan Rudal Iran
Pada saat yang sama, media Israel melaporkan bahwa para pejabat rezim semakin khawatir tentang kemampuan rudal Iran. Situs koran Yedioth Ahronoth mengklaim bahwa Benjamin Netanyahu akan bertemu dengan Donald Trump dengan membawa berkas tentang kemampuan rudal Iran.
Menurut media ini, para pejabat Israel telah memperingatkan bahwa produksi ratusan rudal per bulan oleh Iran dapat menimbulkan ancaman yang setara dengan bom nuklir taktis. Sebuah klaim yang sebelumnya dibantah oleh Tehran, yang menekankan bahwa program rudalnya murni bersifat defensif.
Laporan tentang Infiltrasi Intelijen Iran ke dalam Struktur Israel
Dalam perkembangan terbaru, beberapa media berbahasa Ibrani melaporkan infiltrasi Iran ke dalam rantai komando tentara Israel. Menurut laporan ini, seorang teknisi yang bekerja untuk Kementerian Perang Israel telah ditangkap atas tuduhan kerja sama intelijen dengan Iran dan dikatakan telah memperoleh akses ke informasi sensitif melalui dirinya. Meskipun para pejabat Israel belum memberikan tanggapan yang jelas, publikasi berita ini telah meningkatkan kekhawatiran tentang kerentanan keamanan Tel Aviv.
Perkembangan ini, mulai dari pengakuan kegagalan intelijen terhadap Hamas hingga peringatan strategis tentang Iran dan peningkatan operasi militer di Tepi Barat, menunjukkan krisis multidimensi dalam struktur keamanan rezim Zionis. Krisis yang telah membuat prospek stabilitas dan keamanan rezim ini semakin tidak pasti.(sl)