Analis Lebanon: "Pertempuran Karbala", Peringatan bagi AS dan Israel
https://parstoday.ir/id/news/west_asia-i184114-analis_lebanon_pertempuran_karbala_peringatan_bagi_as_dan_israel
Pars Today – Seorang analis Lebanon memperingatkan bahwa setiap kesalahan perhitungan rezim Israel terhadap Lebanon akan memicu perang besar-besaran.
(last modified 2026-01-14T10:37:56+00:00 )
Jan 14, 2026 17:36 Asia/Jakarta
  • Analis Lebanon, Emad Khashman
    Analis Lebanon, Emad Khashman

Pars Today – Seorang analis Lebanon memperingatkan bahwa setiap kesalahan perhitungan rezim Israel terhadap Lebanon akan memicu perang besar-besaran.

Menurut laporan Pars Today, Emad Khashman, analis politik Lebanon, dengan menyinggung ancaman rezim Zionis terhadap negara itu, memperingatkan bahwa pengalaman sejarah konfrontasi dengan Israel menunjukkan bahwa operasi “terbatas” sering kali berubah menjadi perang yang lebih luas akibat perkembangan di lapangan dan kesalahan perhitungan. Khashman mengatakan bahwa meningkatnya ancaman Israel mengenai agresi atau invasi baru terhadap Lebanon telah memunculkan konsep “pertempuran eksistensial yang menentukan” di kalangan kelompok perlawanan. Hal ini muncul di tengah pembahasan mengenai berbagai skenario, mulai dari operasi militer terbatas hingga perang yang lebih luas dengan tujuan politik dan keamanan yang melampaui dimensi militer tradisional.

 

Ia menambahkan bahwa peningkatan ketegangan ini terjadi dalam konteks yang kompleks, dipengaruhi oleh indikator-indikator yang menunjukkan adanya lampu hijau terselubung dari Amerika Serikat serta tekanan internal dan eksternal yang saling terkait dengan tujuan melucuti senjata perlawanan dan menghapus peran defensifnya. Situasi ini menempatkan Lebanon pada momen penentu terkait identitas, pengambilan keputusan, dan kedaulatannya — bukan sekadar sebuah konfrontasi militer.

 

Analis politik Lebanon itu menegaskan bahwa penilaian para penjajah menunjukkan setiap kemungkinan agresi terhadap Lebanon — jika terjadi — karena kekhawatiran Israel mengenai rapuhnya front dalam negeri dan keseimbangan deterensi yang ada, akan tetap terbatas dalam cakupan. Tindakan tersebut akan berfokus pada tekanan politik dan militer, tanpa berubah menjadi perang regional besar-besaran.

 

Khashman juga menyinggung pernyataan terbaru Shiekh Naim Qassem, sekjenHizbullah, mengenai kesiapan perlawanan untuk menghadapi “pertempuran Karbala” jika diperlukan, melawan proyek Israel–Amerika. Ia menilai bahwa ungkapan tersebut bukan sekadar emosional atau retorika, melainkan memiliki dimensi intelektual, politik, dan militer yang mendalam, sehingga membutuhkan analisis cermat atas makna dan pesan yang dikandungnya.

 

Analis itu kemudian menjelaskan konsep “konfrontasi Karbala”. Menurutnya, istilah tersebut, sebagaimana digunakan dalam wacana perlawanan, bukan berarti mencari kematian atau terjun ke dalam pertempuran tanpa perhitungan. Sebaliknya, istilah itu menunjukkan kesiapan untuk menanggung tingkat pengorbanan tertinggi demi membela kebenaran dan menolak menyerah, serta mengubah apa yang dianggap sebagai kelemahan menjadi kekuatan moral dan kekuatan yang mampu menimbulkan efek deterensi.

 

Ia menambahkan bahwa pernyataan Shiekh Naim Qassem merupakan kelanjutan dari pendekatan strategis yang sebelumnya telah disampaikan oleh Sayid Hassan Nasrallah, mantan sekjen Hizbullah, dan yang secara praktis telah diterapkan dalam konfrontasi-konfrontasi terbaru. Fakta-fakta di lapangan menunjukkan kegagalan militer Israel — meskipun mendapat dukungan langsung dari Amerika Serikat — dalam mencapai tujuannya, termasuk ketidakmampuan untuk menduduki desa-desa perbatasan serta kerugian besar yang mereka derita.

 

Khashman menegaskan bahwa pesan-pesan tersirat dalam pengumuman “pertempuran Karbala” terutama ditujukan kepada Israel, bahwa setiap agresi tidak akan berlangsung tanpa biaya. Pesan itu juga ditujukan kepada Amerika Serikat, bahwa tekanan politik tidak akan berhasil di tempat di mana perang telah gagal. Dan kepada rakyat Lebanon, bahwa perlawanan tidak mencari perang, tetapi juga tidak akan menyerah. Ia menutup dengan menekankan bahwa konfrontasi ini pada hakikatnya telah berubah menjadi pertarungan kehendak, yang tidak menerima tindakan setengah-setengah. (MF)