Skenario Baru Barat untuk Mengubah Keseimbangan di Laut Merah
https://parstoday.ir/id/news/west_asia-i184984-skenario_baru_barat_untuk_mengubah_keseimbangan_di_laut_merah
Seiring dengan semakin dekatnya berakhirnya masa tugas misi pengamat Perserikatan Bangsa-Bangsa di Provinsi Al-Hudaydah, Yaman, berbagai analisis menunjukkan terbentuknya sebuah skenario baru dalam dinamika kawasan; sebuah skenario yang menurut para pengamat bertujuan mengubah keseimbangan keamanan di Laut Merah dan menyiapkan landasan untuk memasukkan Yaman ke dalam fase konflik baru.
(last modified 2026-02-03T09:55:34+00:00 )
Feb 03, 2026 16:52 Asia/Jakarta
  • Skenario Baru Barat untuk Mengubah Keseimbangan di Laut Merah

Seiring dengan semakin dekatnya berakhirnya masa tugas misi pengamat Perserikatan Bangsa-Bangsa di Provinsi Al-Hudaydah, Yaman, berbagai analisis menunjukkan terbentuknya sebuah skenario baru dalam dinamika kawasan; sebuah skenario yang menurut para pengamat bertujuan mengubah keseimbangan keamanan di Laut Merah dan menyiapkan landasan untuk memasukkan Yaman ke dalam fase konflik baru.

Misi pengamat internasional PBB yang dibentuk setelah Perjanjian Stockholm pada Januari 2019 untuk mengawasi gencatan senjata di Al-Hudaydah, selama beberapa tahun terakhir dianggap sebagai salah satu penghalang internasional terpenting terhadap dimulainya kembali perang besar-besaran di pesisir barat Yaman.

Keputusan Dewan Keamanan untuk melakukan perpanjangan terakhir selama dua bulan atas misi ini, yang akan berakhir pada awal April, kini telah menjadi pusat spekulasi politik dan keamanan. Para analis tidak memandang berakhirnya misi pengamat PBB di Al-Hudaydah semata-mata sebagai langkah teknis, melainkan sebagai bagian dari penataan ulang strategis Barat dan sekutunya untuk meningkatkan tekanan terhadap Sana’a dan mengubah konstelasi Laut Merah. Dalam paket berita Pars Today ini, disajikan tinjauan atas perkembangan terbaru di Yaman sebagai berikut:

Penataan Ulang Barat di Pesisir Barat Yaman

Menurut laporan media kawasan, Amerika Serikat, Inggris, dan rezim Zionis, dengan koordinasi langsung Arab Saudi, berupaya menghapus penghalang internasional terakhir di pesisir barat Yaman; sebuah langkah yang disertai penolakan Rusia dan kekhawatiran Tiongkok di Dewan Keamanan. Moskow memperingatkan bahwa penarikan tergesa-gesa misi PBB dapat menciptakan kekosongan keamanan berbahaya yang dampaknya tidak hanya terbatas pada Yaman, tetapi juga akan mengancam keamanan Laut Merah. Beijing juga memperingatkan konsekuensi kemanusiaan dan gangguan terhadap proses penyaluran bantuan.

Peran Inggris dan Kembalinya Arab Saudi ke Arena

Para analis meyakini bahwa Inggris pada tahap ini memainkan peran sebagai pengarah politik dan keamanan; sebuah peran yang mengingatkan pada sejarah panjang London dalam dinamika Bab al-Mandab. Arab Saudi juga, setelah kegagalan strategi maritim Amerika, kembali didorong ke garis depan sebagai aktor operasional regional.

Kegagalan Daya Cegah Maritim Amerika

Kolonel Mujib Shamsan, pakar militer Yaman, menilai perkembangan terbaru di Yaman sebagai hasil dari kegagalan daya cegah maritim Amerika Serikat. Menurutnya, kehadiran kapal perusak dan sistem pertahanan udara canggih tidak hanya gagal menghentikan operasi Yaman, tetapi juga membebani Washington dengan biaya yang besar. Dari sudut pandangnya, Amerika kini berupaya mengalihkan peran lapangan kepada Arab Saudi dan Inggris, baik untuk mengurangi biayanya sendiri maupun untuk menutupi kegagalan strategisnya. Washington, setelah gagal menyerang Yaman, menghindari keterlibatan langsung dalam fase yang lebih mahal dan menempatkan sekutu-sekutu regional di garis depan; sebuah keputusan yang dapat membawa konsekuensi ekonomi dan keamanan yang berat bagi Arab Saudi.

Dari Konfrontasi Militer ke Tekanan Ekonomi

Selain dimensi militer, dimensi ekonomi dari skenario ini juga menonjol. Para analis berbicara tentang upaya menggantikan perang langsung dengan blokade ekonomi dan tekanan terhadap kehidupan masyarakat; sebuah pendekatan yang tujuan akhirnya disebut untuk mematahkan tekanan Yaman terhadap rezim Zionis dan mengurangi dampak blokade terhadap Pelabuhan Eilat.

Upaya Mengubah Narasi Konflik

Salah satu poros utama skenario ini adalah mengubah hakikat konflik dari konfrontasi Yaman dengan rezim Zionis dan para pendukung Baratnya menjadi konflik “Arab–Arab” dalam ranah keamanan maritim.

Para pengamat meyakini bahwa penghapusan misi PBB dapat membuka jalan bagi tindakan-tindakan provokatif di pesisir barat dan pengosongan praktis terhadap Perjanjian Stockholm. Namun, penilaian lapangan menunjukkan bahwa ketergantungan pada instrumen dan aktor-aktor yang selama bertahun-tahun gagal, kecil kemungkinannya akan menciptakan persamaan baru yang menguntungkan para perancang skenario ini; terlebih lagi karena kemampuan militer Yaman telah meningkat secara signifikan dibandingkan masa lalu.(PH)