Sanaa Serukan Negara-Negara Islam Berperan Menghadapi Agresi Saudi ke Yaman
-
Gedung Kementerian Luar Negeri Yaman
Pars Today - Kementerian Luar Negeri Yaman dalam sebuah pernyataan meminta negara-negara Islam menjalankan peran positif dalam mengakhiri agresi dan blokade yang diberlakukan terhadap negara ini yang telah berlangsung lebih dari satu dekade.
Menurut laporan IRNA, mengutip jaringan Al-Masirah, Sabtu, 17 Oktober 2026, Kementerian Luar Negeri dan Urusan Migran Yaman dalam sebuah pernyataan menyambut sidang ke-52 Dewan Menteri Luar Negeri Organisasi Kerja Sama Islam yang dijadwalkan berlangsung pada 17 dan 18 Oktober (25 dan 26 Mehr) di Bagdad, ibu kota Irak, berharap pertemuan ini tidak menerima kebohongan besar yang dipropagandakan rezim Saudi terhadap rakyat Yaman, yaitu bahwa warga Yaman menargetkan Makkah dan Madinah.
Kementerian Luar Negeri dan Urusan Migran Yaman menilai klaim Arab Saudi bahwa Makkah Mukarramah dan Madinah Munawwarah ditargetkan oleh warga Yaman sebagai penghinaan besar terhadap rakyat yang bersedia mengorbankan nyawa mereka untuk tempat-tempat suci Islam, dan meminta negara-negara Islam bertindak sesuai dengan ayat "Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu."
Pernyataan itu menegaskan bahwa tuntutan Sanaa adil dan wajar serta tidak tidak masuk akal, dan berkaitan dengan hak-hak sah, yaitu mengakhiri agresi dan blokade yang telah menimbulkan penderitaan besar bagi rakyat Yaman.
Kemenlu Yaman dengan menyebut bahwa rezim Saudi selama 12 tahun menargetkan warga sipil khususnya perempuan dan anak-anak serta infrastruktur nonmiliter termasuk rumah, rumah sakit, sekolah, bandara, pabrik, jalan, jembatan, ladang, tangki air, pasar, masjid, dan lainnya, menambahkan bahwa rezim Saudi melalui blokade ekonomi, tidak membayar gaji, menutup Bandara Internasional Sanaa, dan memblokade pelabuhan, menggunakan kelaparan sebagai senjata perang dan menyebabkan krisis kemanusiaan terbesar di era maju ini.
Kementerian ini menyatakan bahwa kejahatan dan pembantaian yang dilakukan rezim Saudi terhadap warga sipil dan infrastruktur nonmiliter terdokumentasi dan nyata serta tidak boleh diabaikan oleh dunia Islam atau nurani umat manusia.
Kemenlu Yaman sekali lagi menegaskan, "Rezim Saudi yang memulai agresi ke Yaman adalah rezim yang sama yang memulai konflik terbaru dengan menargetkan Bandara Sanaa, dan sejak itu hingga kini melakukan lebih dari 2.000 serangan udara terhadap warga sipil dan infrastruktur nonmiliter Yaman, yang menuntut sikap bertanggung jawab dari negara-negara Islam."
Pernyataan ini menegaskan bahwa propaganda yang diterbitkan rezim Saudi terhadap Sanaa adalah bohong dan Sanaa siap membahas klaim ini dengan negara mana pun yang adil dan netral.
Kementerian Luar Negeri Yaman pada akhir pernyataannya menegaskan bahwa transportasi maritim di Laut Merah aman dan eskalasi ketegangan oleh rezim Saudi merupakan ancaman bagi keamanan tersebut.
"Kementerian Luar Negeri Yaman meminta negara-negara Islam menjalankan peran positif dalam mengakhiri agresi dan blokade terhadap Yaman yang berlangsung lebih dari satu dekade. Menyambut sidang ke-52 Dewan Menteri Luar Negeri OKI pada 17–18 Oktober di Bagdad, Yaman berharap pertemuan itu tidak menerima propaganda rezim Saudi bahwa warga Yaman menargetkan Makkah dan Madinah, yang dinilai sebagai penghinaan besar terhadap rakyat yang bersedia berkorban untuk tempat suci Islam."(Sail)