Berakhirnya Gencatan Senjata di Suriah dan Klaim Palsu AS
Militer Suriah mengumumkan berakhirnya gencatan senjata di negara Arab ini. Gencatan senjata selama sepekan ini diwarnai dengan pelanggaran terang-terangan oleh militer Amerika Serikat, namun Negeri Paman Sam ini justru mengklaim bahwa Rusia gagal memenuhi kewajibannya.
Gencatan senjata di Suriah diterapkan sejak hari Senin, 12 September 2016. Perjanjian tersebut merupakan hasil kesepakatan antara AS dan Rusia. Isi utama dari kesepakatan ini adalah penerapan gencatan senjata, pembebasan jalan Castello oleh militer Suriah, kontrol terhadap tindakan pasukan oposisi moderat oleh AS dan pengiriman bantuan kemanusiaan.
Sebenarnya, sejak awal telah jelas bahwa pemerintah AS tidak akan komitmen dengan gencatan senjata. Perjanjian ini hanya memberikan peluang bagi kelompok-kelompok dan milisi bersenjata untuk keluar dari pengepungan dan tekanan militer Suriah, pasukan Muqawama dan jet-jet tempur Rusia.
Setelah 48 jam berlalu dari gencatan senjata, AS dan Rusia saling menuduh telah gagal melaksnakan perjanjian tersebut. Kementerian Luar Negeri Rusia menuduh AS enggan untuk melaksanakan komitmennya dan berlindung di balik kata-kata.
Sementara itu, kelompok-kelompok bersenjata dan teroris berulang kali melanggar gencatan senjata dan mengklaim bahwa terdapat perselisihan di antara mereka dan tidak semua kelompok komitmen untuk mematuhi gencatan senjata.
Yang pasti, AS telah melakukan pelanggaran gencatan senjata dengan terang-terang dengan menyerang posisi-posisi militer Suriah. Pada Sabtu malam, 17 September 2016, lima jet tempur AS menyerang posisi militer Suriah di Deir Ezzor dan menyebabkan lebih dari 60 tentara Suriah tewas dan 100 lainnya terluka. AS mengklaim bahwa pasukan Suriah itu dikira sebagai pasukan teroris Takfri Daesh.
Pejabat-pejabat Suriah mengatakan, AS sedang berperan sebagai Angkatan Udara Daesh di timur laut Suriah dan rezim Zionis Israel juga memainkan peran yang sama di barat daya Suriah. Meskipun AS mengklaim serangannya tidak disengaja, namun bukti menunjukkan bahwa kejahatan tersebut merupakan tindakan yang disengaja dan telah diagendakan sebelumnya melalui koordinasi dengan teroris.
Peralatan canggih militer AS semakin membuktikan klaim palsu Pentagon terkait ketidaksengajaannya untuk menyerang posisi militer Suriah. Sebab, dengan peralatan canggih yang dimilikinya, militer AS akan sangat mudah untuk mengidentifikasi pangkalan militer Suriah dan tempat berkumpulnya para teroris.
Serangan militer AS terhadap posisi pasukan Suriah membuktikan kembali bahwa AS dan sekutunya memanfaatkan gencatan senjata sebagai peluang untuk mengurangi volume serangan terhadap kelompok-kelompok teroris di Suriah.
Kini setelah gencatan senjata berakhir, Menteri Luar Negeri AS kembali menjadikan Rusia sebagai target tuduhannya. Ia mengklaim bahwa Moskow gagal menjalankan komitmennya untuk menjalankan gencatan senjata, sebab pemerintah Suriah yang mengumumkan berakhirnya perjanjian ini dan tugas untuk menekan Suriah berada di pundak Rusia.
Di sisi lain, Riyad Hijab, Ketua Komite Tinggi Oposisi Suriah pada Senin, 19 Semtember 2016 mengatakan, Komite Tinggi Oposisi Suriah telah menawarkan prakarsanya untuk masa depan Suriah melalui perundingan, di mana negosiasi ini akan membuka jalan untuk memasuki masa transisi politik dan pemindahan kekuasaan yang meliputi pengunduran Bashar al-Assad dari kekuasan. Riyad mengarahkan pernyataannya tersebut kepada delegasi-delegasi diplomatik internasional di sela-sela Sidang Majelis Umum PBB di New York.
Menurut Riyad, dokumen (prakasa) yang telah diselesaikan di London pada awal bulan September itu meliputi sebuah proses dengan tiga tahap untuk periode transisi politik di Suriah. Tentunya, ini juga akan dimulai dengan gencatan senjata permanen, yang mengecualikan operasi militer terhadap teroris.
Pernyataan Riyad Hijab tersebut menunjukkan bahwa AS dan oposisi bersenjata Suriah tidak memiliki pandangan kemanusiaan terhadap gencatan senjata, bahkan mereka sepakat dengan gencatan senjata hanya untuk mencegah penguatan posisi militer Suriah di medan-medan tempur. (RA)