Operasi Pembebasan Mosul dan Kehancuran Daesh
Keberhasilan pasukan gabungan Irak dalam operasi pembebasan kota Mosul dari pendudukan Daesh (ISIS) telah menyebabkan kelompok teroris Takfiri ini kocar kacir dari kota strategis tersebut.
Operasi pembebasan kota Mosul dimulai pada Senin diri hari, 17 Oktober 2016 atas instruksi Haider al-Abadi, Perdana Menteri Irak yang sekaligus sebagai Panglima Angkatan Bersenjata negara ini.
Sekitar 60.000 pasukan militer dan polisi Irak bersama dengan pasukan relawan dan Peshmerga Kurdi berpartisipasi dalam operasi ini. Daesh menyerang dan menduduki kota Mosul –kota terbesar kedua Irak– di pusat Provinsi Nineveh pada tanggal 10 Juni 2014.
Brigadir Jenderal Haider Fadhil, Komandan Pasukan Khusus Irak pada Selasa (1/11/2016) mengatakan bahwa serangan terhadap posisi-posisi Daesh di dalam kota Mosul telah dimulai.
Menurut sebuah sumber lokal di Provinsi Nineveh, anasir-anasir Daesh mengosongkan markasnya di pangkalan militer al-Ghozlani Mosul dan menutup penjara-penjara rahasia mereka.
Militer dan pasukan relawan Irak serta pasukan Peshmerga Kurdi memainkan perannya dalam operasi pembebasan kota Mosul. Sampainya pasukan gabungan Irak ke pintu-pintu masuk kota Mosul dan dimulainya serangan terhadap berbagai posisi Daesh menunjukkan kesuksesan operasi tersebut.
Haider al-Abadi, PM Irak dalam kunjungannya ke medan tempur di Provinsi Nineveh pada Senin, meyakinkan penduduk Mosul bahwa pasukan keamanan Irak akan mampu membasmi Daesh dan kelompok teroris ini tidak memiliki tempat di Irak.
Al-Abadi menegaskan, pembebasan Provinsi Nineveh dari pendudukan Daesh merupakan tujuan mulia. Tujuan ini terwujud dalam tekad kuat pasukan Irak dalam operasi pembebasan kota Mosul.
Tekad yang didukung rakyat tersebut juga telah menghalangi Amerika Serikat untuk menciptakan hambatan dalam proses pembebasan kota Mosul.
Beberapa hari lalu, AS mengungkapkan permintaan penghentian operasi pembebasan kota Mosul ketika operasi ini mencapai kesuksesan besar, di mana pasukan relawan memiliki peran menonjol dalam operasi ini.
Perang psikologis AS dan Turki terhadap pasukan relawan Irak dengan tujuan apa yang disebut sebagai dukungan kepada Ahlussunnah di Mosul tidak mampu memajukan tujuan-tujuan ilegal kedua negara itu.
Klaim dukungan AS kepada warga Sunni di kota Mosul dilontarkan ketika penduduk kota ini mengalami hari-hari sulit dan kesengsaraan sejak pendudukan Daesh pada Juni 2014. Namun AS tidak berupaya untuk membantu mereka.
Dalam kondisi seperti saat ini, pasukan relawan Irak dalam kerangka kepentingan nasional telah berubah menjadi pasukan strategis untuk memerangi terorisme. Pasukan mobilisasi rakyat ini sekarang sedang melumpuhkan Daesh di Mosul.
Tuduhan-tuduhan AS dan Turki yang dialamatkan kepada pasukan relawan rakyat Irak dengan dalih mendukung warga Ahlussunnah di kota Mosul dalam beberapa terakhir tidak bermakna lagi, sebab warga Sunni adalah pihak yang paling dirugikan atas pendudukan Daesh dan pasukan relawan Irak sedang dalam upaya serius untuk memberantas kelompok teroris tersebut.
Operasi pembebasan kota Mosul merupakan pertunjukkan kekuatan dan persatuan seluruh etnis, kelompok dan suku di Irak di garis terdepan untuk memberantas teroris Daesh. PM Irak –dengan bersandar pada komponen penting ini– berjanji kepada penduduk Provinsi Nineveh untuk menumpas Daesh hingga ke akar-akarnya.
Persatuan semua elemen masyarakat dan militer Irak serta sikap tegas pemerintah Haider al-Abadi telah mencegah upaya penyerahan inisiatif operasi pembebasan kota Mosul kepada koalisi pimpinan AS. Posisi kuat dan berdaulat pemerintah Irak bersama dengan rakyat negara ini telah membuat operasi pembebasan Mosul berjalan di jalur yang benar dan tidak ada konspirasi yang bisa mencegah keberhasilan operasi itu. (RA)