Engkau Adalah Hiasan Orang-Orang Yang Beribadah
-
Imam Sajjad as
Suatu malam, Imam Ali bin Husein as sedang mengerjakan salat dimana seekor ular datang mendekatinya.
Imam yang sedang khusyu mengerjakan salat tidak tahu bahwa ada seekor ular pelan-pelan mendekatinya dan menggigit jarinya. Meski Imam merasa kesakitan, namun beliau tidak menunjukkan reaksinya. Setelah selesai salat, beliau tahu bahwa ular itu adalah setan. Dia menyamar sebagai ular untuk mengganggu konsentrasi Imam. Oleh karena itu Imam menghadapinya dengan keras dan berkata, “Menjauhlah! Laknat Allah bagimu, hai setan!”
Setan menjauh dari tempat itu dan Imam kembali mengerjakan salatnya. Pada saat itu, ada suara di dekat telinganya dan tiga kali berkata, “Sesungguhnya engkau adalah Zainul Abidin. Dari sejak saat itu, Imam Sajjad digelari dengan “Zainul Abidin” [hiasannya orang-orang yang beribadah].
Tangan Kesembuhan
Imam Muhammad Baqir as meriwayatkan; suatu hari seseorang mendatangi ayahku, Ali bin Husein as dalam keadaan sangat sedih dan menangis. Ayahku menanyakan tentang kesedihannya. Dia menjawab, “Wahai Putra Rasulullah! Anda melihat bahwa saya punya luka di wajah dan para tabib tidak mampu mengobatinya. Sementara masyarakat Kufah merendahkan saya dan mengatakan, “Bila memang sebagaimana yang engkau katakan bahwa Ali bin Husein adalah orang yang adil, maka pasti dia sudah meminta kepada Allah, agar lukamu yang tak bisa terobati hilang dari wajahmu.”
Imam dengan ramah berkata padanya, “Mendekatlah padaku, sehingga aku selesaikan masalahmu.”
Ia mendekat kepada Imam dan Imam meletekkan tangannya ke luka orang tersebut sambil membaca zikir, kemudian berkata, “Kembalilah ke rumahmu dan lihatlah cermin! Lihatlah apakah ada bekas luka ataukah tidak?”
Orang itu pulang ke rumahnya dan melihat cermin, namun tidak ada bekas luka di wajahnya.
Balas Dendam Mukhtar
Minhal merupakan salah seorang sahabat Mukhtar Tsaqafi* dari Kufah menuju Madinah untuk menemui Imam Sajjad as. Ketika dia bertemu Imam Sajjad, Imam bertanya kepadanya, “Minhal! Apa yang engkau ketahui tentang kabar Harmalah?”
Minhal menjawab, “Dia sekarang berada di Kufah dan melanjutkan kehidupannya yang hina.”
Imam mengangkat kedua tangannya ke atas dan berkata, “Ya Allah, berikan rasa panas api kepada Harmalah.” Beliau mengucapkan kalimat ini sebanyak tiga kali.
Ketika Minhal kembali ke Kufah, ketika itu adalah masa pemerintahan Mukhtar. Setelah beberapa waktu, Minhal memutuskan untuk menemui Mukhtar. Begitu Mukhtar melihat Minhal, dia berkata, “Hai Minhal! Engkau belum pernah datang untuk mengucapkan selamat padaku?”
Minhal menjelaskan bahwa beberapa waktu berada di Madinah di sisi Imam Sajjad as...tiba-tiba sejumlah orang dengan tergesa-gesa mendatangi Mukhtar dan mengabarkan bahwa Harmalah terlaknat telah tertangkap.
Begitu mata Mukhtar tertuju pada Harmalah, ia langsung bersyukur kepada Allah kemudian memerintahkan agar memotong tangan dan kaki Harmalah dan membakarnya.
Minhal spontan berkata, “Subhanallah!”
Mukhtar berkata, “Hai Minhal! Bertasbih dalam kondisi apapun itu bagus, hanya saja sekarang engkau mengucapkan tasbih dengan tujuan apa?”
Minhal menceritakan masalah pertemuannya dengan Ali bin Husein dan kutukannya. Pada saat itu Mukhtar turun dari kudanya dan bersujud dan berkata, “Syukur pada Allah karena hajat Imam umat Islam telah terlaksanakan dengan tangan Mukhtar.”
*Mukhtar Tsaqafi sendiri merupakan salah seorang pecinta Ahlul Bait Rasulullah Saw dan dengan pertolongan Allah, dia berhasil membalas dendam para pezalim yang hadir dalam tragedi Asyura.
Semoga Allah Merahmati Kalian!
Hai orang-orang! Dalam perbedaan malam dan siang ada sebuah kebun dimana orang-orang baik berkelana di tengah-tengahnya dan orang-orang yang bertakwa memanfaatnya taman-taman bunganya. Semoga Allah merahmati kalian. Berusahalah kalian dengan membaca al-Quran di awal malam dan dengan berdoa serta beristighfar di akhir malam, lanjutkanlah acara ini dan ketika siang tiba, jamulah diri kalian dengan meninggalkan dosa. Karena dosa-dosa kecil ini juga yang akan mendorong kalian kepada keburukan.
Imam Sajjad senantiasa menasihati masyarakat dengan ucapan-ucapannya yang indah dan meminta mereka untuk memikirkan kematian supaya pikiran-pikiran kotor tidak mendatangi mereka.
Ketahuilah bahwa kematian senantiasa membayangi kalian. Semoga Allah menjadikan kita termasuk orang-orang yang memanfaatkan pemahaman dirinya sendiri dan ilmu pengetahuan bermanfaat bagi diri mereka.
Ambilkan Mangkok-Mangkok Itu!
Dinukil dari Imam Shadiq as bahwa beliau berkata, “Kakekku Ali bin Husein as senantiasa memperhatikan orang-orang miskin, para budak perempuan dan budak lelaki yang ada di tengah-tengah masyarakat. Suatu hari beliau berpuasa. Pada hari itu juga beliau menyembelih kambing dan memasak dagingnya dengan berbagai macam menu. Ketika Magrib beliau mendekati bejana yang ada dan berkata, “Ambilkan mangkok-mangkok itu!” Kemudian beliau membagikan semua makanan itu kepada orang-orang miskin. Ketika sudah dikumandangkan azan, Imam Sajjad berbuka puasa dengan sedikit roti dan kurma. (Emi Nur Hayati)
Sumber: Sad Pand va Hekayat; Imam Sajjad as