Saudi, HAM dan Standar Ganda Barat
https://parstoday.ir/id/news/west_asia-i30952-saudi_ham_dan_standar_ganda_barat
Human Rights Watch (HRW) dalam laporan terbarunya menyerukan penghentian segera penjualan senjata kepada Arab Saudi. Laporan tersebut menyebut rezim Al Saud bersama koalisi Arab bentukannya yang didukung Amerika Serikat serta Inggris, sejak Maret 2015 lalu memulai agresi militer ilegal terhadap Yaman, yang mengakibatkan rumah, pasar, gedung sekolah, pabrik dan masjid porak-poranda.
(last modified 2025-07-30T02:55:16+00:00 )
Jan 15, 2017 14:37 Asia/Jakarta

Human Rights Watch (HRW) dalam laporan terbarunya menyerukan penghentian segera penjualan senjata kepada Arab Saudi. Laporan tersebut menyebut rezim Al Saud bersama koalisi Arab bentukannya yang didukung Amerika Serikat serta Inggris, sejak Maret 2015 lalu memulai agresi militer ilegal terhadap Yaman, yang mengakibatkan rumah, pasar, gedung sekolah, pabrik dan masjid porak-poranda.

Berpijak pada data Komisaris Tinggi HAM PBB, laporan HRW  secara terbuka menegaskan bahwa serangan udara Arab Saudi terhadap Yaman telah mengakibatkan ribuan warga sipil negara tetangganya itu tewas dan terluka.

Eskalasi serangan udara rezim Saudi terhadap Yaman berlangsung di tengah sikap pasif negara-negara Barat yang memicu reaksi kecaman keras organisasi Hak Asasi Manusia semacam HRW, dan menyerukan dihentikannya penjualan senjata kepada rezim Al Saud. Pasalnya, tanpa pasokan senjata dan alutsista serta dukungan intelijen dari negara-negara Barat terutama Amerika dan Inggris, Arab Saudi tidak bisa melanjutkan serangan udaranya ke Yaman dan meneruskan pembantaian warga sipil negara Arab ini, termasuk perempuan dan anak-anak.

Data statistik penjualan senjata negara-negara Barat terhadap Arab Saudi menunjukkan angka yang sangat besar. Penjualan senjata dan alutsista Amerika selama beberapa tahun terakhir senilai miliaran dolar. Di tahun 2016, Amerika menjual berbagai amunisi dan roket kepada Riyadh senilai 1,1 miliar dolar yang dipergunakan untuk menyulut perang semakin berkobar di Yaman.

Selain itu, data resmi yang dikeluarkan organisasi pendukung gerakan anti perdagangan senjata menunjukkan, Arab Saudi menjadi konsumen senjata terbesar Inggris. Sejak tahun 2010, Riyadh menerima alutsista dan senjata dari London senilai lebih dari 6,7 miliar poundsterling. Pada hari Rabu lalu, menteri pertahanan Inggris dalam statemennya mengakui bahwa negaranya menjual 500 unit bom cluster kepada Arab Saudi. Terkait hal ini, televisi France 24 melaporkan krisis di Yaman yang semakin memburuk:

Kondisi kemanusiaan di negara ini sangat kritis akibat pemboman, tidak adanya akses air dan listrik. kelaparan merajalela. Anak-anak menjadi korban pertama perang ini. Organisasi non pemerintah yang terjun di lokasi menyesalkan sikap pasif publik internasional. Ribuan anak menjadi menjadi korban akibat perang yang telah dimulai sejak dua tahun lalu. Perang di Yaman hingga kini menyebabkan 1.400 orang anak tewas, dan mengakibatkan dua ribu sekolah porak-poranda. 

Tampaknya, Amerika dan Inggris justru mengail di air keruh dengan memanfatkan berlanjutnya agresi militer Arab Saudi di Yaman untuk mendongkrak perolehan laba dan membuka lapangan kerja bagi ribuan warganya di sektor industri senjata dan alutsista. Oleh karena itu, Washington dan London menutup mata atas berlanjutnya kejahatan dan tragedi kemanusian yang diciptakan koalisi Arab pimpinan rezim Al Saud selama 22 bulan agresi militer di Yaman. Terkait hal ini, HRW kembali menyerukan penghentian penjualan senjata kepada rezim Al Saud:

Lebih dari empat ribu orang warga sipil tewas dalam serangan udara koalisi Saudi di Yaman, dan tujuh ribu orang lainnya cidera. Bersamaan dengan itu, AS dan Inggris terus melanjutkan penjualan senjata kepada Arab Saudi.

Masalah ini menunjukkan standar ganda AS dan Inggris dalam masalah penegakkan hak asasi manusia. Sepak terjang kedua negara Barat tersebut menyulut protes bukan hanya lembaga HAM semacam HRW. Bahkan, komisi pengawasan penjualan senjata di Majelis Rendah Inggris menyerukan supaya pemerintah Inggris menangguhkan sementara penjualan senjata kepada Arab Saudi. Terkait hal ini, Ahmad Qanis, jurnalis Yaman  menyampaikan komentarnya mengenai kunjungan anggota parlemen Inggris Andrew Mitchell ke Yaman:

Dalam konferensi pers, dia mengatakan Inggris tiga puluh tahun lalu menjual bom (bom cluster) kepada Arab Saudi. Bom-bom ini merupakan warisan perang dingin. Tapi jelas sekali bom cluster yang dipergunakan di Yaman adalah jenis bom baru buatan Inggris.Akibatnya terjadi kontradiksi antara sepak terjang Inggris dalam aksi kemanusiaan di Yaman, dan  tindakannya mempersenjatai Arab Saudi dengan bom cluster demi melanjutkan pembunuhan warga Yaman.

Ketua komisi pengawasan penjualan senjata di Majelis Rendah Inggris mendesak pemerintah Inggris menangguhkan penjualan senjata ke Arab Saudi. Chris White menilai ketidakpedulian London terhadap laporan mengenai penggunaan bom cluster dan serangan udara jet tempur Arab Saudi terhadap warga sipil Yaman  mencoreng citra Inggris di mata publik internasional.(PH)