Rezim Al Khalifa Gunakan Senjata Terlarang untuk Tumpas Demonstran
Lebih dari 37 warga Bahrain di distrik al-Diraz terluka setelah mereka diserbu aparat keamanan rezim Al Khalifa ketika berdemo untuk memprotes eksekusi mati tiga aktivis Bahrain pada 15 Januari 2017. Al-Diraz dikepung aparat keamanan rezim Al Khalifa sejak tujuh bulan lalu.
Menurut jaringan televisi al-Lu'lu'a, sejak diumumkan pelaksanaan hukuman mati terhadap tahanan polisi, warga Bahrain di distrik al-Diraz telah berulang kali menggelar unjuk rasa.
Aparat keamanan rezim Al Khalifa menggunakan senjata terlarang dan bom gas beracun untuk membubarkan demonstrasi.
Gerakan Pemuda al-Diraz mengumumkan bahwa aparat rezim Al Khalifa secara sengaja menarget para pengunjuk rasa di bagian-bagian sensitif tubuh mereka, di mana hingga sekarang terdapat tiga kasus peluru yang menyasar kepala, dan satu kasus peluru yang mengenai sekitar mata.
Sejumlah demonstran yang berada di dekat posisi target juga mengalami pendaraan.
Tembakan gas beracun aparat keamanan rezim Al Khalifa ke kawasan penduduk dan rumah-rumah masyarakat juga menyebabkan banyak warga yang mengalami sesak nafas terutama anak-anak.
Rezim Al Khalifa pada 15 Januari 2017 mengeksekusi tiga aktivis Bahrain;Abbas al-Samea, Sami Mushaima dan Ali al-Singace, atas tuduhan menyerang petugas polisi di wilayah al-Diah, Manama pada 3 Maret 2014.
Sejak 14 Februari 2011, rakyat Bahrain bangkit melawan kediktatoran rezim Al Khalifa. Mereka berunjuk rasa damai untuk menuntut kebebasan, keadilan, penghapusan diskriminasi dan berdirinya pemerintahan pilihan rakyat.
Namun, tuntutan damai rakyat Bahrain itu disambut dengan kekerasan oleh rezim Al Khalifa. Dengan bantuan pasukan Arab Saudi, rezim ini menumpas para aktivis dan revolusioner Bahrain. (RA)