Lawatan Erdogan ke Negara-negara Arab
https://parstoday.ir/id/news/west_asia-i32944-lawatan_erdogan_ke_negara_negara_arab
Presiden Turki, Recep Tayyip Erdogan melakukan safari ke berbagai negara Arab. Tanggal 12 Februari, Ia berkunjung ke Bahrain dan pada 13 Februari mengunjungi Arab Saudi yang kemudian dilanjutkan ke Qatar pada 14 Februari.
(last modified 2025-07-30T02:55:16+00:00 )
Feb 15, 2017 13:41 Asia/Jakarta

Presiden Turki, Recep Tayyip Erdogan melakukan safari ke berbagai negara Arab. Tanggal 12 Februari, Ia berkunjung ke Bahrain dan pada 13 Februari mengunjungi Arab Saudi yang kemudian dilanjutkan ke Qatar pada 14 Februari.

Erdogan dalam kunjungannya ke Bahrain bertemu dengan Sheikh Hamad bin Isa Al Khalifa, raja Bahrain dan di Riyadh, Ia bertemu dengan Raja Salman bin Abdulaziz membicarakan pengokohan hubungan bilateral serta transformasi regional khususnya krisis Suriah. Sementara itu, di Doha, Erdogan bertemu dengan Emir Qatar, Sheikh Tamim dan berdialog mengenai sejumlah isu.

 

Erdogan yang bermimpi menghidupkan kembali imperium Ottoman, dewasa ini tidak memiliki kondisi yang baik di dalam negeri. Erdogan melalui kebijakan non konfrontatif dengan negara tetangganya dan menghindari permusuhan di kawasan Timur Tengah berhasil memperkuat perekonomian Turki. Namun ternyata, Erdogan selama aksi protes warga Arab di tahun 2011 dan selanjutnya, sama seperti pemimpin Riyadh dan Qatar, terlibat tensi di berbagai negara tetangga serta memainkan peran penting dalam meningkatkan kerusuhan di kawasan.

 

Kebijakan Erdogan bukan saja gagal mensukseskan kecenderungan neo Ottoman, bahkan proses pengokohan posisinya di Turki sendiri terhenti serta Ankara mulai memasuki fase instabilitas.

 

Bashar al-Sayid Ahmad, reporter Russia al-Youm melaporkan, ....”Transformasi terbaru memaksa Ankara -pasca kudeta gagal- merevisi koalisinya. Erdogan pasca kudeta gagal ini, melalui peninjauan ulang prediksinya, mulai memiliki pandangan realistis dan memilah antara teman dan musuh.”

 

Maraknya aksi teror di berbagai wilayah Turki dan kudeta Juli 2016 serta aksi pembersihan pasca kudeta gagal tersebut, gerakan oposisi dan anti Erdogan serta partainya di Turki mulai meningkat. Selain itu, meluasnya operasi teror membuat sektor pariwisata negara ini melemah dan tentu saja merusak perekonomian Turki, khususnya dengan hilangnya sejumlah lapangan pekerjaan.

 

Mengingat kondisi ini, kunjungan Erdogan ke Bahrain dan Arab Saudi menuai protes luas khususnya dari pada dosen negara ini. Meyakinkan para pemimpin Arab untuk menanam investasi di Turki termasuk tujuan lawatan Erdogan ke tiga negara Arab tersebut. Bahkan dialog seputar krisis Suriah juga memiliki motif ekonomi.

 

Mohammad Ibrahim, reporter televisi Aljazeera melaporkan, “...Ankara menampilkan citra sekutu kuat bagi negara-negara Arab kawasan Teluk Persia dan kunjungan Erdogan ke negara-negara ini mengindikasikan peningkatan hubungan kedua pihak serta kedalaman kesepakatan yang ada antara Turki dan negara Arab Teluk Persia di berbagai isu regional khususnya krisis Suriah.”

 

Menteri Luar Negeri Arab Saudi, Adel al-Jubeir pekan lalu di Ankara mengatakan, Arab Saudi dan Turki memiliki sikap yang sama terkait Suriah, namun perilaku Turki selama beberapa bulan terakhir menunjukkan manuver negara ini di krisis Suriah dan pengunduran dari kebijakan awal yang bertumpu pada pelengseran Bashar al-Assad dari kekuasaan.

 

Erdogan ketika berharap investasi dari Bahrain, Arab Saudi dan Qatar, para pemimpin ketiga negara Arab kaya minyak ini mengalami kondisi yang tak baik di dalam negeri. (MF)