Kontrak Senjata Besar-besaran Penguasa Arab di Pameran Militer IDEX
Uni Emirat Arab mengabarkan penandatanganan kontrak senilai 1,2 milyar dolar di hari pertama pameran internasional industri senjata, IDEX.
Brigjen Rashid Mohammed Al Shamsi, Juru Bicara pameran militer IDEX mengatakan, UEA di hari pertama pameran yang digelar di Abu Dhabi, menandatangani kontrak senilai 1,2 milyar dolar dan diharapkan hingga akhir penyelenggaraan pameran ini, pekan depan, nilai kontrak itu bertambah menjadi 5,3 milyar dolar. UEA dalam pameran ini menjadi tuan rumah 1.200 perusahaan yang khusus bergerak di bidang militer.
Adam Thomas, Jubir Kementerian Pertahanan Inggris di sela pameran internasional industri militer "IDEX 2017" di Abu Dhabi, UEA menuturkan, pada tahun 2015 kami menjual persenjataan senilai 7,7 milyar pound ke negara-negara Arab Teluk Persia.
Prakarsa negara-negara Arab khususnya UEA dalam menggelar berbagai pameran industri militer dan membeli senjata dalam jumlah besar terus dilakukan padahal kondisi perekonomian dalam negeri negara-negara itu mengalami krisis akut akibat penurunan harga minyak dunia dan karena menganut sistem ekonomi yang bergantung pada minyak dan tidak bersandar pada infrastruktur.
UEA dan negara-negara Arab anggota Dewan Kerjasama Teluk Persia, P-GCC mengalami banyak tantangan akibat penurunan harga minyak dunia. Dana Moneter Internasional, IMF baru-baru ini dalam laporannya mengatakan, UEA terpaksa melakukan pemangkasan anggaran yang signifikan akibat penurunan harga minyak, langkah ini tidak pernah terjadi sejak tahun 2009.
Diperkirakan proses penambahan utang negara-negara Arab hingga tahun 2020 akan terus berlanjut dan UEA akan berubah menjadi negara Arab pengutang terbesar. Negara-negara Arab Teluk Persia menganut sistem perekonomian yang bergantung pada minyak. Perekonomian semacam ini menarik perhatian khusus dari negara-negara Barat terutama Amerika Serikat terhadap negara-negara Arab.
Salah satu alasan Barat yang dipakai untuk menjual senjata ke negara-negara Arab Teluk Persia adalah isu Iranfobia. Mereka memaksa negara-negara Arab Teluk Persia untuk membeli senjata-senjata canggih atas dasar klaim-klaim infaktual. Barat juga memposisikan dirinya sebagai pendukung negara-negara Arab otoriter itu di kawasan.
Sejumlah penguasa Arab dengan pembelian besar-besaran senjata Barat secara praktis telah mengubah kawasan Teluk Persia menjadi gudang senjata Barat dan hal ini terjadi di saat negara-negara Arab tidak punya kemampuan dan sumber daya manusia untuk mengoperasikan senjata-senjata canggih tersebut tanpa bantuan pakar militer Barat. Jalinan hubungan dan jual beli senjata kepada negara-negara pendukung terorisme memicu kekhawatiran para pakar Barat terkait perluasan terorisme di seluruh dunia.
Lawrence Davidson, Dosen di Universitas West Chester, Inggris terkait hal ini mengatakan :
"Saya takut karena logika yang dipakai Perdana Menteri Inggris tidak begitu jelas bagi saya. Saya menduga hubungan dekat dengan dengan Arab Saudi terkait dengan penjualan senjata, serta menjaga harga minyak dan sampai batas tertentu stabilitas. Akan tetapi saya ragu hubungan semacam ini dapat membantu mewujudkan keamanan dalam kehidupan warga Inggris."
Dalam kondisi seperti ini, para pengamat percaya pembelian senjata oleh negara-negara Arab kawasan adalah jalan untuk menyelamatkan perekonomian negara-negara Barat yang tengah dilanda krisis dan mencegah kebangkrutan kartel-kartel senjata mereka. Kontrak senjata raksasa negara-negara Arab kawasan ditandatangani di saat negara-negara itu hanya merupakan pangkalan militer bagi Amerika di kawasan, dan hingga sekarang belum pernah mendapat ancaman apapun dari negara lain. Di sisi lain, Saudi justru melancarkan agresi militer dan menyulut perang di Yaman dengan dukungan sejumlah negara lain seperti UEA sehingga meningkatkan eskalasi ketegangan di kawasan. (HS)