AS dan Turki Lancarkan Manuver Baru Anti-Irak
https://parstoday.ir/id/news/west_asia-i37948-as_dan_turki_lancarkan_manuver_baru_anti_irak
Perdana menteri Irak dalam konferensi pers di Baghdad hari Jumat (19/5) mengkritik rencana pernyelenggaraan pertemuan Jenewa atas inisiatif AS dan Istanbul prakarsa Turki.
(last modified 2026-02-13T17:18:09+00:00 )
May 20, 2017 18:20 Asia/Jakarta

Perdana menteri Irak dalam konferensi pers di Baghdad hari Jumat (19/5) mengkritik rencana pernyelenggaraan pertemuan Jenewa atas inisiatif AS dan Istanbul prakarsa Turki.

Haider Al-Abadi menyebut pertemuan yang didukung  dinas intelejen internasional itu tidak disetujui oleh Irak.

Di bagian lain statemennya, Al-Abadi menyampaikan selamat atas kemenangan terbaru penumpasan teroris Daesh di Mosul. Perdana menteri Irak mengatakan, Kini, negara ini memasuki tahap akhir dari pertempuran menghadapi terorisme dan operasi Mosul sebagai pelajaran besar bagi teroris yang tidak akan pernah terlupakan.

Operasi pembebasan Mosul yang dimulai sejak Oktober 2016 lalu hingga kini diikuti oleh puluhan ribu orang tentara dan rakyat Irak. Wilayah Mosul timur secara penuh telah berhasil dibebaskan dari cengkeraman kelompok teroris Daesh. Pasukan Irak melanjutkan operasi militer di wilayah barat sejak Februari 2017. Masalah tersebut meningkatkan kekhawatiran para pihak pendukung teroris, dan mereka melanjutkan konspirasi untuk menjegal kesuksesan Irak menumpas teroris.

Oleh karena itu, salah satu isu utama program dan tujuan konferensi yang digelar di Jenewa dan Istanbul mendatang untuk membahas isu sektarian, kondisi Sunni di Irak pasca pembebasan wilayah negara ini dari kelompok teroris Daesh. Pemerintah Turki menggelar konferensi yang diplot oleh AS dengan dukungan finansial Arab Saudi dan Qatar.

Irak saat ini berada dalam kondisi sensitif. Negara-negara Barat dan Arab berupaya memanfaatkan kondisi tersebut untuk membenamkan bonekanya di Irak pasca pembebasan penuh negara Arab itu dari cengkeraman kelompok teroris Daesh. Skenario Timur Tengah Baru yang dikibarkan AS menggunakan isu sektarian untuk menyulut konflik baru di Irak dengan melibatkan sejumlah negara kawasan, terutama Arab Saudi dan Turki.

Kinerja AS, Saudi dan Turki selama beberapa tahun terakhir di Irak menunjukkan masalah terorisme sebagai alat bagi mereka mewujudkan kepentingannya di kawasan. Isu sektarian terus-menerus ditebar untuk memprovokasi api perang baru di Irak. Sebab kepentingan mereka akan terwujud dengan berlanjutnya konflik dan instabilitas di negara Arab itu.

Pemerintah Ankara sejak akhir 2015 mengirimkan ratusan tentaranya secara ilegal ke wilayah Irak dan menempatkan pasukannya di kamp militer Bashiqa dengan dalih melatih pasukan Peshmerga dalam menghadapi kelompok teroris. Reaksi rakyat dan pemerintah Irak terhadap sepak terjang destruktif Turki di negaranya menyebabkan skenario Ankara membentur dinding. Demikian juga dengan skenario AS yang gagal di Irak.