Israel Mengail Ikan di Kolam Krisis Dunia Arab
Krisis yang tiada henti menimpa dunia Arab saat ini merupakan kondisi yang sangat diharapkan oleh rezim Zionis Israel.
Kantor berita Tunisia hari Minggu (15/10/2017) melaporkan sebuah seminar yang digelar ormas pendukung Palestina di negara ini untuk membahas masalah pemulihan hubungan negara-negara Arab dengan rezim Zionis, dan pengaruhnya terhadap benua Afrika. Para pembicara dalam seminar ini mengkhawatirkan sikap sebagian pemimpin negara Arab yang menjalin hubungan dengan Israel. Tidak hanya itu, mereka juga merisaukan pengaruh rezim Zionis di dunia Arab dan juga benua Afrika.
Selama kurun waktu yang tidak terlalu jauh, salah satu masalah terpenting dunia Arab adalah konfrontasi dengan Israel. Negara-negara Arab termasuk memiliki pandangan yang hampir seirama mengenai masalah Israel sebagai musuh bersama dan tidak boleh menjalin hubungan dengan rezim Zionis.
Masalah ini di lapangan juga dibuktikan dengan tekanan terhadap negara yang menjalin hubungan dengan Israel. Misalnya, Qatar yang membuka kantor perdagangan Israel di Doha antara tahun 2000 hingga 2008, mendapatkan tekanan dari negara-negara Arab lainnya, sehingga di tahun 2008 terpaksa menutup kantor perwakilan bisnis Israel di negara itu.
Tapi dalam waktu yang tidak terlalu lama semua berubah. Dunia Arab saat ini sedang berbalik arah meninggalkan sikap sebelumnya dengan mengambil langkah kooperatif dengan rezim Zionis. Pada saat yang sama, rangkaian krisis meletus beriringan tanpa henti dari krisis Irak, Suriah, Libya hingga Yaman. Tidak hanya itu, dunia Arab juga dikoyak oleh friksi sesama tetangga negara Arab seperti pertikaian antara Arab Saudi yang didukung Uni Emirat Arab (UEA), Bahrain dan Mesir dengan Qatar.
Belum selesai masalah tersebut, muncul krisis baru antara Kurdistan Irak dengan pemerintah pusat Baghdad. Tipe ketiga dari krisis lain yang menimpa dunia Arab adalah gelombang protes dan ketidakpuasan rakyat terhadap rezim-rezim Arab, sebagaimana menimpa Bahrain, Mesir dan Yordania.
Rangkaian konflik ini menunjukkan instabilitas di dunia Arab yang memang rentan dilanda krisis. Tentu saja tidak ada yang diuntungkan dari krisis ini. Sebab tidak ada yang mau rumahnya sendiri terbakar, demikian juga dengan rakyat negara-negara di kawasan dunia Arab. Tampaknya, hanya Israel yang bersorak-sorai menikmati rentetan kekacauan di dunia Arab. Sebab, tujuan utama berdirinya rezim Zionis di Timur Tengah untuk mengacaukan kawasan tersebut, dan menjadi satu-satunya rezim yang berdiri dengan tenang.
Peneliti sejarah dan ketua Ansar Palestina di Tunisia, Murad al-Yaqubi mengatakan, Kini sebagian negara di benua Afrika mulai memiliki alasan untuk menjalin hubungan dengan Israel, sebab negara-negara Arab sendiri sudah menjalin hubungan dengan rezim Zionis.
Kini, rezim Zionis tidak cukup hanya memanfaatkan konflik yang menimpa dunia Arab, bahkan terus-menerus meningkatkanya supaya kian berkobar. Salah satu contoh jelasnya adalah dukungan Tel Aviv terhadap pemisahan diri Kurdistan Irak dari pemerintahan pusat Baghdad. Selain itu, Israel juga memprovokasi supaya friksi antara Arab Saudi dan Qatar semakin tinggi.
Ironisnya, negara-negara Arab yang kaya saat ini bukannya memperluas investasi di dunia Arab dan kawasan Afrika demi meningkatkan pengaruhnya. Tapi, mereka justru memanfaatkan kekayaannya untuk menimbulkan kekacauan di dunia Arab dan dunia Islam dengan mengamini dikte Barat, terutama AS. Dari pada membelanjakan uangnya untuk membeli alutsista dan senjata yang dipergunakan untuk membunuh sesama bangsa Arab, seharusnya negara-negara Arab berpengaruh seperti Saudi berkontribusi nyata dalam mewujudkan perdamaian dan keamanan regional. Tapi, mereka justru mengambil jalan lain, dengan merusak "pekarangan rumahnya" sendiri demi menyenangkan Israel.