Peningkatan Volume Ekspor Senjata Menuju Rezim Agresor Al Saud
Bersamaan dengan eskalasi kritik negara-negara Eropa menyusul penjualan senjata ke Arab Saudi, Kementerian Ekonomi Jerman menyatakan telah merilis ijin ekspor senjata senilai 148 juta euro ke Arap Saudi pada triwulan ketiga 2017. DPA melaporkan, pada periode yang sama tahun 2016, angka ekspor senjata Jerman ke Arab Saudi hanya mencapai 41 juta euro.
Muncul kritikan luas di dalam dan luar negeri untuk menghentikan penjualan senjata ke Arab Saudi dengan alasan agresinya ke Yaman. Selama itu, volume ekspor senjata Jerman ke Arab Saudi meningkat empat kali lipat.
Peningkatan angka ekspor itu terjadi di saat berdasarkan pengumuman Perserikatan Bangsa-Bangsa, rakyat Yaman sedang menghadapi ancaman krisis pangan dan krisis kemanusiaan tragis akibat agresi Arab Saudi dan kroninya.
Sementara itu, negara-negara Barat pengklaim pembela hak asasi manusia, alih-alih berusaha menghentikan agresi rezim Saudi dan sekutunya, justru melengkapi persenjataan rezim Al Saud. Hubungan negara-negara Eropa dengan Arab Saudi, membongkar puncak kemunafikan dan hipokritas pemerintah Eropa pengklaim demokrasi, nilai-nilai kemanusiaan dan hak asasi manusia (HAM).
Politik eksploitasi pemerintah-pemerintah Barat terhadap isu demokrasi dan HAM memang bukan hal baru. Pada hakikatnya, pemerintah-pemerintah Barat memanfaatkan isu-isu tersebut untuk menyukseskan tujuan-tujuan mereka. Bagi mereka, nilai-nilai demokrasi, kemanusiaan dan etika itu sepenuhnya relatif. Penggunaan seluruh sarana untuk membantu kepentingan mereka adalah legal, termasuk jika harus melanggar HAM, demokrasi dan etika.
Contoh nyatanya adalah pelanggaran terhadap nilai-nilai kemanusiaan dalam hubungan harmonis negara-negara Eropa dengan rezim agresor Al Saud. Tidak ada kaitannya antara sistem despotik dan politik pelanggar HAM Arab Saudi dengan slogan-slogan yang dikoarkan Eropa soal demokrasi dan HAM. Akan tetapi pemerintah-pemerintah Eropa justru menilai Arab Saudi sebagai mitra strategisnya dan menutup mata terhadap kondisi politik di Arab Saudi serta berbagai kejahatan Riyadh di negara-negara regional khususnya Yaman.
Mengapa Arab Saudi menjadi mitra pemerintah Eropa dan Amerika Serikat di kawasan, di saat rezim Al Saud adalah pemain utama dalam pengokohan dan perluasan gerakan-gerakan Takfiri serta eskalasi krisis di Timur Tengah?
Jawabannya tidak lain adalah penyerapan petrodolar Arab Saudi untuk menjaga agar mesin-mesin industri dan pabrik-pabrik senjata Eropa dan Amerika Serikat tetap berputar di bawah bayang-bayang krisis dan instabilitas di kawasan.
Hanya karena instabilitas dan krisis tersebut, Barat termasuk Eropa dapat menjual persenjataan mereka dan membantu perekonomian mereka dengan menebar krisis dan provokasi di kawasan. Pada hakikatnya, Arab Saudi adalah pelaksana seluruh politik Barat di Timur Tengah. Melalui penebaran kebencian, perselisihan dan gejolak di antara negara-negara kawasan, Arab Saudi mengobarkan perang dan krisis.
Dengan cara tersebut, Arab Saudi ingin mengesankan diri sebagai "saudara lebih tua" bagi negara-negara Arab lain. Dalam hal ini, bangsa Arab tertindas dan miskin Yaman menjadi korban politik Arab Saudi. Yaman harus menebus dari keputusannya untuk keluar dari pengaruh negatif Riyadh. Sementara negara-negara Eropa dan Amerika Serikat menutup mata di hadapan kejahatan Arab Saudi karena pertimbangan posisi rezim Al Saud di kawasan dan kekayaan minyaknya. (MZ)