Rasionalitas Hizbullah hadapi Dikte Hariri
Sekitar sepekan setelah kembali dari Riyadh ke Beirut, Saad Al Hariri terus menabuh genderang perpecahan di Lebanon dengan melancarkan tudingan baru kepada Hizbullah. Tapi Hizbullah menyikapinya dengan kepala dingin dan menegaskan kesiapannya untuk melakukan dialog nasional.
Kedatangan Hariri kembali mengguncang dunia politik Lebanon yang belum lama menikmati masa tenang. Pada 4 November lalu, Saad Al-Hariri menyampaikan pengunduran diri dari jabatannya sebagai perdana menteri ketika berada di Riyadh. Tapi kemudian pengunduran diri tersebut ditangguhkan setelah dia kembali ke Lebanon. Barangkali yang masih menjadi pertanyaan, apakah Hariri hingga kini masih berada dalam tekanan dikte rezim Al Saud atau tidak ?
Fakta di lapangan menunjukan Hariri masih berada dalam pengaruh Riyadh. Alih-alih menyuarakan persatuan nasional sebagai perdana menteri Lebanon, Saad Al-Hariri justru sibuk menabuh genderang konfrontasi dengan Hizbullah dan gerakan muqawama di negaranya sendiri.
Pasalnya, dalam pertemuan dengan dewan tinggi syariah di Dar Al-Fatwa Lebanon, Hariri mengatakan tidak akan menerima sikap kubu Hizbullah Lebanon yang mempengaruhi sesama saudara Arab maupun keamanan dan stabilitas mereka.
Statemen tersebut dikemukakan Saad Al-Hariri di saat pusat riset Washington dalam analisisnya menyebut plot Riyadh terhadap Hariri membentur dinding, dan pengunduran diri tersebut gagal mewujudkan kepentingan Riyadh.
Sejatinya, dikte klise Riyadh terhadap Hizbullah yang disampaikan kembali oleh Saad Al-Hariri menunjukkan dirinya masih belum melepaskan keterikatannya dengan Riyadh. Meskipun pihak kerajaan Arab Saudi memperlakukan dirinya secara tidak hormat, tapi kepentingan ekonomi, terutama kucuran dana senilai 9 milyar dolar untuk aktivitas ekonominya yang hendak ditagih dari Arab Saudi menyebabkan pejabat tinggi Lebanon ini tetap menjalankan dikte Riyadh.
Meskipun menghadapi gelombang tekanan dari Saad Al-Hariri, tapi Hizbullah konsisten mengambil jalan rasional dan kebijaksanaan politiknya dengan menyerukan persatuan nasional dan menghindari perpecahan di dalam negeri Lebanon. Terkait hal ini, pejabat hubungan internasional Hizbullah dalam sebuah acara di Haret El Fikani mengungkapkan, "Kami siap untuk berdialog dan bekerja sama dengan semua pihak dalam menghadapi dikte asing demi meraih kesepakatan dengan mitra di dalam negeri".
Tampaknya, Hizbullah sedang mencegah terulangnya kembali peristiwa krisis politik antara tahun 2013 hingga 2016 yang menimpa Lebanon. Oleh karena itu, Hizbullah senantiasa menegaskan urgensi menjaga persatuan nasional, dan menghalangi implementasi plot Al Saud yang akan mempengaruhi pemilu legislatif 2018.
Kini, Arab Saudi dan pendukungnya di Lebanon, kubu 14 Maret, mengkhawatirkan semakin menguatnya pengaruh gerakan muqawama pasca kekalahan Daesh di Suriah dan Irak. Berlanjutnya sikap anti Hizbullah yang dilancarkan kubu Hariri di Lebanon lebih banyak bertujuan untuk meraih dukungan lebih besar dari rakyat negara Arab ini dalam pemilu legislatif mendatang.(PH)