Kebijakan Rapuh Bahrain
Menteri Luar Negeri Bahrain, Khalid bin Ahmad Al Khalifa di akun Twitternya mengatakan, "Ketika kita tengah sibuk melawan ancaman nyata dan saat ini Republik Islam Iran yang fasis, kita tidak boleh terlibat konfrontasi dan percekcokan dengan Amerika hanya karena masalah parsial."
Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Bahram Qassemi saat mereaksi cuitan menlu Bahrain terkait Republik Islam Iran menandaskan, semakin rendah dan lebih rendah Anda membuat komentar tentang Iran sebagai lambang sejarah dan peradaban kuno dan mulia.
Menlu Bahrain demi menarik perhatian petinggi Amerika dan Israel, sebelumnya juga menyatakan isu Quds masalah parsial dan tidak ada untungnya cekcok dengan Amerika terkait isu Palestina.
Sikap palsu ini dirilis petinggi Bahrain yang pemerintahannya telah kehilangan legalitas dan kebanggaannya hanya mengiringi kebijakan Amerika dan Israel di kawasan.
Menurut pandangan menlu Bahrain, ancaman saat ini di kawasan adalah Iran dan ia merekomendasikan negara Arab lainnya untuk tidak terlibat konfrontasi dengan Amerika Serikat hanya karena masalah parsial.
Isyarat menlu Bahrain ini sejaitnya reaksi pasif atas voting hari Kamis (21/12) Majelis Umum PBB atas resolusi mendukung al-Quds yang diratifikasi dengan suara 128 mendukung, 9 menentang dan 35 abstain. Berdasarkan resolusi ini, PBB tidak akan pernah mengakui Jerusalem sebagai ibukota Israel.
Statemen menlu Bahrain digulirkan sebagai bentuk kekhawatiran atas kecaman oleh sejumlah negara Arab saat mereaksi keputusan AS mengakui secara resmi al-Quds sebagai ibukota rezim Zionis Israel. Namun begitu, baik AS maupun rezim yang rapuh seperti Bahrain tidak akan mampu menjustifikasi dakwaan palsunya terhadap Iran melalui klaim-klaim tak berdasar dan ucapan besarnya.
Apa yang ditekankan berulang kali oleh Rahbar atau pemimpin besar Iran, transformasi cepat di tingkat regional dan internaisonal membutuhkan peningkatan analisa dan kesadaran atas beragam isu serta kepemilikan independensi dan identitas. Sejarah membuktikan bahwa meski adanya beragam konspirasi, makar, pengobaran krisis palsu, Palestina hingga pembebasan total masih menjadi isu utama dunia Islam.
Tapi tak diragukan lagi Bahrain tanpa dukungan AS dan Arab Saudi tidak mampu melanjutkan aksi-aksi represifnya. Oleh karena itu, demi keberlangsungannya, rezim Al Khalifa terpaksa membayar dukungan ini dengan retorika kasar dan berlebihan anti Iran.
Bahwa menlu Bahrain menilai Palestina sebagai isu parsial dan Iran sumber kekhawatiran utama menunjukkan bahwa Manama tidak memiliki kedalaman politik dan kelemahan dalam pemahaman atas isu-isu global.
Interpretasi lain dari statemen menlu Bahrain ini adalah pelayanan kepada Amerika dan Israel bagi pemimpin Bahrain tak ubahnya bersandar pada angin. (MF)