Lampu Hijau Saudi dan Bahrain kepada Israel
https://parstoday.ir/id/news/west_asia-i49429-lampu_hijau_saudi_dan_bahrain_kepada_israel
Menteri Luar Negeri Saudi menyatakan, ketika solusi permanen untuk konflik Israel-Palestina tercapai, negara-negara Arab akan mengakui Israel. Hal itu disampaikan Adel al-Jubeir dalam sebuah wawancara dengan sebuah saluran televisi Perancis.
(last modified 2026-04-16T09:59:01+00:00 )
Jan 07, 2018 13:16 Asia/Jakarta

Menteri Luar Negeri Saudi menyatakan, ketika solusi permanen untuk konflik Israel-Palestina tercapai, negara-negara Arab akan mengakui Israel. Hal itu disampaikan Adel al-Jubeir dalam sebuah wawancara dengan sebuah saluran televisi Perancis.

Dalam beberapa hari terakhir, Bahrain telah menjadi fokus perencanaan pengkhianatan dalam proses kompromi di wilayah. Sebelumnya, sebuah delegasi Bahrain baru saja melakukan perjalanan ke wilayah Palestina pendudukan (Israel), yang diindikasi sebagai penindaklanjutan normalisasi hubungan Arab Saudi dengan rezim Zionis.

Normalisasi hubungan Bahrain dengan Israel tidak terbatas dalam beberapa waktu terakhir saja, namun telah bergulir sejak tahun 1994, ketika Menteri Lingkungan Hidup Israel kala itu, berkunjung ke Manama memimpin sebuah delegasi tingkat tinggi dengan dalih berpartisipasi dalam sebuah konferensi lingkungan hidup.

Raja Bahrain, Hamad bin Isa al-Khalifah

Juga, pada awal tahun 2000, Putra Mahkota Bahrain bertemu dengan mantan presiden Israel, Shimon Peres, di Davos Economic Summit, yang berujung pada penutupan kantor sanksi Israel di Bahrain. Juga pada tahun 2008, Raja Bahrain secara pribadi bertemu dengan Menteri Luar Negeri Israel Shimon Peres dan Tzipi Livni di sela-sela konferensi dialog antar agama di New York.

Koran Times terbitan Inggris, baru-baru dalam situsnya mengutip sumber-sumber AS dan Arab mengungkap indikasi normalisasi hubungan Arab Saudi dan Bahrain dengan Israel.

Arab Saudi, sebagai pencetus gerakan perdamaian dengan Israel di kawasan, selalu mencari cara untuk normalisasi hubungan negara-negara Arab dengan Israel. Salah satu langkah Arab Saudi dalam hal ini adalah Inisiatif Perdamaian Arab yang dipresentasikan oleh Riyadh pada tahun 2002, dan dinilai sebagai peta jalan bagi Arab Saudi untuk memperluas hubungannya dengan rezim penjajah Quds.

Arab Saudi belum menjalin hubungan resmi dengan rezim tersebut sejak berdirinya Israel. Namun selalu memiliki hubungan terselubung dengan rezim Zionis dan telah mengiringi kebijakan Israel di kawasan. Arab Saudi sedang memperluas hubungan dengan Israel di saat rezim Zionis adalah musuh pertama dan kolektif dunia Islam.

Sejalan dengan kepentingan Barat dan rezim Zionis, Al Saud mengambil langkah destruktif terhadap bangsa Palestina dan pengkhianatan Al Saud terhadap Palestina dapat disaksikan dengan jelas pada "Prakarsa Damai Arab" yang keburukan dari prakarsa tersebut tidak lebih kecil dari langkah-langkah damai Mesir dan Yordania dalam menandatangani kesepakatan damai dengan rezim Zionis.

Parkarsa Damai Arab diajukan Arab Saudi pada tahun 2002. Prakarsa itu disebut sebagai plot berbahaya melawan tuntutan rakyat Palestina karena mengabaikan sebagian besar hak bangsa tertindas ini, termasuk hak-hak pengungsi Palestina dan kezaliman terhadap para tahanan Palestina, serta pengakuan terhadap rezim pendudukan Quds.

Menjalin hubungan dengan Israel adalah garis merah opini publik terhadap rezim ilegal penjajah tersebut. Namun Arab Saudi dan Bahrain telah melanggar garis merah ini dan telah memberikan lampu hijau kepada Israel, di mana hal ini akan memperburuk kondisi kedua rezim monarki tersebut yang saat ini sudah banyak menghadapi kasus.(MZ)