Israel Ungkapkan Kekhawatiran atas Peningkatan Kekuatan Hizbullah
-
Gadi Eizenkot.
Kepala Staf Gabungan Militer rezim Zionis Israel mengungkapkan kekhawatiran atas peningkatan kekuatan Hizbullah Lebanon yang kian hari bertambah.
Gadi Eizenkot mengungkapkan kekhawatirannya tersebut dalam sebuah pidato menandai 21 tahun bencana helikopter yang terjadi pada tahun 1997, dimana 73 tentara IDF (Israel Defense Forces) kehilangan nyawa mereka saat dua pesawat bertabrakan di dekat perbatasan utara dengan Lebanon.
Ia menuding Hizbullah telah melanggar resolusi Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa (DK-PBB) dengan menurunkan unit-unitnya di kawasan yang seharusnya ditarik.
"Kelompok teror Hizbullah melanggar resolusi DK-PBB, mempertahankan kehadiran militernya di kawasan, memiliki sistem senjata dan meningkatkan kemampuan militernya," kata Eizenkot pada hari Selasa (30/1/2018) seperti dikutip Haaretz.
Ia menegaskan, untuk menghadapi ancaman ini, IDF telah bekerja siang dan malam untuk memastikan kesiapan dan pencegahan.
"Kami akan melakukan segala sesuatu yang diperlukan untuk menjaga perbatasan utara Israel dengan aman dan tenang," ujarnya.
Kepala Staf Gabungan Militer rezim Zionis menjelaskan, tantangan kami adalah menjaga kesiapan, memperdalam pengetahuan musuh, mengurangi kemampuannya dan memperluas sejauh mungkin keamanan dan kenyataan sipil.
Sebelumnya, apa yang disebut rezim Zionis sebagai "upaya Republik Islam Iran untuk memperluas jejak militernya ke Lebanon dan Suriah" merupakan tema penting yang dibahas antara Benjamin Netanyahu, Perdana Menteri rezim Zionis dan Vladimir Putin, Presiden Rusia bertemu di Moskow pada hari Senin.
Berbicara kepada wartawan setelah pertemuan tersebut, Netanyahu mengatakan bahwa ia telah memberitahu Putin tentang adanya pabrik rudal berpemandu yang saat ini "dalam proses pembangunan" oleh Iran di Lebanon.
"Rudal ini menimbulkan ancaman serius bagi Israel," kata Netanyahu. Menurutnya, Israel bertekad untuk mencegah pembangunan mereka.
Rezim Zionis dalam dua perang sebelumnya; yaitu dalam agresi militer ke Lebanon dan ke Jalur Gaza mengalami kerugian besar dan terpaksa menarik pasukannya. (RA)