Putaran Baru Serangan Turki ke Irak
-
jet tempur Turki
Televisi al-Sumariya Irak melaporkan pemboman daerah perbatasan di provinsi Erbil dan Sulaimaniyah di Irak utara oleh jet tempur Turki.
Tanpa menyebut kerugian dan kemungkinan jatuhnya korban akibat serangan tersebut, al-Sumariya menyebutkan, wilayah Sidkan, Rwandoz dan Suran di utara Erbil, serta wilayah Bashder di Sulaimaniya, menjadi sasaran serangan jet tempur Turki.
Bombardir Irak utara oleh jet tempur Turki itu harus dinilai sebagai putaran baru agresi Turki terhadap negara tetangganya. Selama beberapa tahun terakhir, agresi militer Turki ke negara-negara tetangga, khususnya Irak dan Suriah, telah menjadi prioritas dalam agenda kerja para pemimpin pemerintah Ankara, dan umumnya "warga sipil” yang menjadi korban dan menyebabkan kerusakan serius pada fasilitas publik.
Bersamaan dengan serangan jet tempur Turki ke Irak, beberapa sumber menggarisbawahi persiapan pemerintah Ankara untuk membangun pangkalan militer di pegunungan Katkin di daerah perbatasan Kurdistan Irak. Disebutkan, "Militer Turki telah maju 17 kilometer ke wilayah Kurdistan Irak dan berusaha membangun pangkalan militer di wilayah tersebut.”
Faktanya adalah bahwa pemerintah Ankara telah berulang kali menyerang wilayah teritorial Irak dalam beberapa tahun terakhir dengan dalih menumpas pasukan Partai Buruh Kurdistan Turki (PKK). Agresi tersebut menuai reaksi tajam dari pemerintah Irak dan negara-negara lain di kawasan dan bahkan global. Dalam hal ini, partai-partai oposisi, mayoritas warga Turki memprotes dan mengutuk kebijakan pemerintah Ankara menyerang wilayah Irak dan Suriah.
Pemerintah Baghdad telah berulang kali mereaksi tegas operasi militer Turki di wilayah Irak dan menuntut penarikan mundur pasukan Turki dari negara itu. Namun, pemerintah Ankara tidak memperhatikan permintaan ini. Namun agresi militer Turki ke Irak biasanya menyulut berbagai respon dari berbagai kelompok etnis Irak.
Misalnya, pada tahap sebelumnya invasi militer Turki ke Irak, para pemimpin Kurdi membulatkan tekad mereka untuk membentuk negara independen dan memecah Irak. Namun intrik para pemimpin Kurdi, yang bahkan disertai dengan referendum melepas wilayah Kurdistan dari pemerintah Irak. Bahkan pemerintah Kurdistan Irak menghadapi banyak rintangan dan akhirnya gagal.
Hambatan utama untuk mencapai tujuan kemerdekaan Kurdistan Irak adalah penentangan dari Turki dan Republik Islam Iran. Sementara itu, oposisi global, terutama penentangan kekuatan besar terkait langkah para pemimpin Kurdi Irak, belum memberikan pengaruh besar dalam hal ini. Bagaimanapun, harus dikatakan bahwa serangan militer Turki ke wilayah Kurdistan Irak dan penyudutan mereka, akan mempercepat realisasi berbagai tuntutan jangka panjang masyarkaat Kurdi Irak.(MZ)