Dukungan Arab Atas Kebijakan AS terhadap Iran
https://parstoday.ir/id/news/west_asia-i59642-dukungan_arab_atas_kebijakan_as_terhadap_iran
Presiden Amerika Serikat Donald Trump, telah meningkatkan sikap konfrontatifnya terhadap Iran dalam beberapa bulan terakhir. Sikap ini sedang dikejar pada tingkat regional dan internasional dengan memaksakan sanksi sepihak di bidang perdagangan, perbankan, dan ekspor minyak Iran, dan ia juga membentuk aliansi di Timur Tengah untuk melawan Tehran.
(last modified 2025-07-30T02:55:16+00:00 )
Jul 07, 2018 12:10 Asia/Jakarta
  • Presiden Donald Trump dan para pemimpin Arab.
    Presiden Donald Trump dan para pemimpin Arab.

Presiden Amerika Serikat Donald Trump, telah meningkatkan sikap konfrontatifnya terhadap Iran dalam beberapa bulan terakhir. Sikap ini sedang dikejar pada tingkat regional dan internasional dengan memaksakan sanksi sepihak di bidang perdagangan, perbankan, dan ekspor minyak Iran, dan ia juga membentuk aliansi di Timur Tengah untuk melawan Tehran.

Beberapa rezim Arab di kawasan mengira bahwa dengan mendukung klaim-klaim AS terhadap Iran, mereka dapat membangun sebuah tempat untuk dirinya. Dalam hal ini, Menteri Luar Negeri Bahrain, Khalid bin Hamad Al Khalifa dalam sebuah komentar – yang bertujuan mencari simpati Arab Saudi dan AS – menuding Iran sebagai perusak stabilitas regional.

Dia mengklaim bahwa Iran sedang menghadapi gejolak ekonomi sehingga mengancam akan memutuskan ekspor minyak regional di Timur Tengah jika pengiriman minyak Iran diblokir.

Komentar itu mengacu pada pernyataan Presiden Hassan Rouhani dalam acara ramah tamah dengan masyarakat Iran di Swiss beberapa hari lalu. Dalam menanggapi ancaman AS untuk menyetop ekspor minyak Iran ke titik nol, Rouhani mengatakan, "Arti dari pernyataan Trump tentang penghentian ekspor minyak Iran adalah bahwa ekspor minyak regional akan terhenti."

Sekutu AS di kawasan tentu saja memandang keikutsertaan mereka dengan kebijakan Trump sebagai sebuah kesempatan. Karena, mereka hanya akan tetap eksis dengan mendukung setiap krisis yang diciptakan Washington di Timur Tengah.

Klaim tak berdasar Bahrain terhadap Iran tidak begitu mengejutkan, karena negara itu menjadi tuan rumah pangkalan AS di kawasan dan bagian dari puzzle instabilitas di Timur Tengah. Namun, klaim-klaim seperti ini tidak akan menyelesaikan masalah yang dihadapi rezim Manama.

Jelas bahwa AS akan menggunakan semua instrumen untuk mencapai tujuannya dan dukungan dari rezim-rezim diktator di kawasan adalah penting bagi Trump.

Televisi Aljazeera dalam sebuah analisa menulis, "Gedung Putih tidak sendirian di sini dan para pemimpin rezim Zionis berdiri di samping Washington, dan mereka mengambil tindakan anti-Iran dari tiga front."

AS ingin menciptakan ketegangan dan konflik di kawasan, dan beberapa sekutunya juga akan mengikuti kebijakan tersebut.

Namun, bersikeras untuk melanjutkan kebijakan ini sama seperti mengulangi kesalahan bersejarah dengan konsekuensi yang berat bagi kawasan dan dunia. Para penguasa Gedung Putih selalu salah perhitungan sejak kemenangan Revolusi Islam di Iran sampai sekarang.

Selama era perang yang dipaksakan, beberapa negara Arab di Teluk Persia telah menjadi korban dari kebijakan intervensif Amerika. Jadi, sudah seharusnya mereka belajar dari pengalaman dan bersikap realistis, serta tidak mengulangi kesalahan di masa lalu, karena ini hanya akan membawa penyesalan.

Republik Islam memandang kepentingannya dalam menciptakan keamanan, perdamaian, dan stabilitas di kawasan. Iran akan mengambil tindakan balasan demi menjaga stabilitas dan keamanan di Timur Tengah.

Tehran memiliki banyak opsi dan jika diperlukan, negara ini dapat mengakhiri seluruh komitmennya di bawah perjanjian nuklir. (RM)