Apakah Sikap Kontradiktif Saudi Bukti Kemenangan Qatar ?
https://parstoday.ir/id/news/west_asia-i70606-apakah_sikap_kontradiktif_saudi_bukti_kemenangan_qatar
Hampir dua tahun ketegangan Qatar dengan empat negara Arab lain yaitu Arab Saudi, Uni Emirat Arab, Bahrain dan Mesir berlangsung, dan pemerintah Saudi tercatat melakukan dua langkah kontradiktif terkait Qatar yang seolah membuktikan kebingungan Riyadh dalam menghadapi Doha.
(last modified 2025-07-30T06:25:16+00:00 )
May 29, 2019 11:56 Asia/Jakarta
  • Emir Qatar
    Emir Qatar

Hampir dua tahun ketegangan Qatar dengan empat negara Arab lain yaitu Arab Saudi, Uni Emirat Arab, Bahrain dan Mesir berlangsung, dan pemerintah Saudi tercatat melakukan dua langkah kontradiktif terkait Qatar yang seolah membuktikan kebingungan Riyadh dalam menghadapi Doha.

Ketegangan Qatar dengan empat negara Arab, tiga anggota Dewan Kerjasama Teluk Persia, PGCC yaitu Saudi, UEA dan Bahrain, ditambah Mesir, terjadi sejak Juni 2017.

Alasan utama ketegangan ini adalah kebijakan luar negeri Qatar yang dinilai tidak sejalan dengan kebijakan Saudi. Empat negara Arab itu sudah menetapkan 13 syarat bagi Qatar agar negara ini lepas dari cengkeraman blokade dan sanksi, namun Doha menyebut syarat-syarat itu melanggar independensi dan kedaulatan negara ini sehingga harus ditolak.

Dua tahun berlalu sejak ketegangan itu muncul, Qatar bukan saja tunduk para syarat-syarat yang diajukan empat negara Arab, ia dalam bentuk tertentu bahkan menegaskan independensi dan kedaulatan negaranya, dan tampak menjadi pemenang pertarungan sensitif ini.

Sebagian pihak menilai posisi di atas angin Qatar ini telah menyebabkan Saudi kebingungan dan marah dalam menghadapi sikap Doha.

Baru-baru ini Riyadh menuduh Doha lemah dan tidak proaktif, serta menuntut pemindahan salah satu kantor UNESCO dari Doha ke Jeddah atau Manama.

Surat kabar Al Akhbar, Saudi sehubungan dengan hal ini menulis, seorang pejabat UNESCO mengatakan, Saudi secara resmi meminta Sekjen UNESCO untuk memindahkan kantor perencanaan pendidikan lembaga itu dari Doha ke Jeddah atau Manama. Pejabat Riyadh kepada Sekjen UNESCO mengatakan bahwa Qatar lemah di bidang pendidikan dan pemberdayaan, melanggar sebagian program kerja dan memberikan laporan yang bertentangan dengan kenyataan.

empat negara Arab bertemu di Kairo, Mesir

Pada saat yang sama Saudi melakukan banyak upaya untuk mengundang Emir Qatar, Syeikh Tamim bin Hamad Al Thani ke pertemuan terkait petinggi negara-negara Arab anggota PGCC.

Kementerian Luar Negeri Qatar mengumumkan, Raja Saudi, Salman bin Abdulaziz mengundang Syeikh Tamim bin Hamad Al Thani untuk menghadiri pertemuan luar biasa PGCC pada 30 Mei 2019 di kota suci Mekah.

Saudi memprakarsai pertemuan Mekah untuk membahas serangan terbaru drone militer Yaman ke fasilitas minyak negara itu dan insiden peledakan di Al Fujairah, UEA.

Sejumlah laporan menyebutkan, Saudi sedang berupaya menggelar pertemuan anggota PGCC di Mekah dengan partisipasi Emir Qatar.

Sikap kontradiktif Saudi ini ternyata mendapat balasan negatif dari Qatar yang justru memprotes keras kebijakan luar negeri Riyadh dan menegaskan kekalahan Saudi di hadapan Qatar.

Editor surat kabar Al Arab, Qatar menulis, Riyadh mengundang Emir Qatar untuk menghadiri pertemuan Mekah, namun pada saat yang sama menyebut pemerintah Doha sebagai teroris.

Wakil Ketua Dewan Kota Pusat Qatar, Central Municipal Council (CMC), Hamad Lahdan Saqr Al Hassan Al Mohannadi di laman Twitternya menulis, sungguh aneh Sekjen PGCC mengundang Qatar untuk menghadiri pertemuan luar biasa, tapi apakah ia tidak tahu bahwa Qatar diblokade oleh tiga negara anggotanya. Apakah ia tidak tahu bahwa PGCC sejak dua tahun lalu berhenti beroperasi karena memboikot Qatar. (HS)