Kondisi Aden
Arab Saudi dan Uni Emirat Masih Ribut di Yaman Selatan
-
Milisi di Aden
Meski telah dicapai kesepakatan Riyadh, friksi antara pemerintahan Abd Rabbu Mansur Hadi yang berafiliasi dengan Arab Saudi dan Dewan Transisi Selatan (STC) pro Uni Emirat Arab (UEA) di Yaman selatan masih tetap kuat.
Seperti dilaporkan MNA Ahad (17/11) mengingat STC tidak komitmen dengan perjanjian Riyadh dan menolak menyerahkan pusat pemerintahan di Aden kepada kubu Mansur Hadi, maka pemerintahan yang berafiliasi dengan Saudi ini tidak dapat kembali ke Aden.
Pemerintah Mansur Hadi dan STC baru-baru ini menandatangani kesepakatan di Riyadh. Berdasarkan kesepakatan ini, dalam tempo 30 hari akan dibentuk pemerintahan baru dengan komposisi seimbang antara kubu Mansur Hadi dan Dewan Transisi Selatan dari 24 menteri dan setelah enam hari dari pembentukan kabinet, pemerintahan Mansur Hadi akan kembali ke Aden, sebagai ibukota sementara Yaman.
Sejak empat bulan lalu, bentrokan antara anasir pemerintah Mansur Hadi dan milisi STC semakin meningkat dan pada akhirnya milisi pro Uni Emirat Arab berhasil menguasai Aden.
Arab Saudi dengan dukungan AS, Uni Emirat Arab dan sejumlah negara lain melancarkan agresi militer ke Yaman sejak Maret 2015 dan memblokade negara ini dari darat, udara dan laut.
Sementara itu, negara-negara yang tergabung dengan koalisi Arab setelah menyaksikan bahwa perang Yaman sia-sia, mereka mulai keluar dari koalisi ini dan hanya Emirat dan Arab Saudi yang masih melibatkan pasukannya di perang ini. (MF)