Transformasi Timur Tengah 29 November 2019
-
Dukungan rakyat Irak terhadap ulama
Transformasi Timur Tengah sepekan terakhir diwarnai sejumlah isu penting di antaranya mengenai perkembangan demonstrasi di Irak dan penyerangan terhadap Konsulat Iran di Najaf.
Isu lainnya tentang rencana rezim Zionis melarang total Aktivitas UNRWA, Hizbullah menegaskan urgensi pembentukan pemerintahan baru Lebanon, PBB mengecam serangan jet tempur Saudi di Yaman, militer suriah menembak jatuh drone Turki, dan lima warga Bahrain divonis penjara seumur hidup.
Anggota Parlemen Irak: AS Tunggangi Protes Rakyat !
Anggota komisi keamanan dan pertahanan parlemen Irak menilai AS menunggangi aksi protes rakyat di negaranya, dan berperan besar dalam mengalihkan protes tersebut demi kepentingan Washington.
Karim Alawi mengatakan pemerintah Irak tidak akan mengizinkan pihak asing untuk campur tangan dalam urusan internal dalam negeri Irak, termasuk masalah demonstrasi rakyat.
"Pejabat Irak tidak pernah memberikan izin bagi pihak asing mengintervensi masalah protes rakyat," ujar anggota dewan legislatif Irak.
Sebelumnya, Kementerian Pertahanan Irak hari Minggu menegaskan bahwa pihak ketiga bertanggung jawab atas pembunuhan serta penargetan demonstran dan pasukan keamanan demi mengobarkan kekacauan di Irak.
Gelombang kedua unjuk rasa rakyat Irak dimulai pada tanggal 25 Oktober untuk memprotes kondisi perekonomian yang memburuk. Hingga kini demonstrasi terus berlanjut, meskipun semakin menurun dari sebelumnya.
Irak Kecam Serangan terhadap Konsulat Iran di Najaf
Kementerian Luar Negeri Irak Kamis pagi mengeluarkan pernyataan mengutuk keras serangan yang dilakukan para perusuh terhadap konsulat Iran di Najaf.
Kementerian Luar Negeri Irak menyebut aksi tersebut bertujuan untuk merusak hubungan baik antara kedua negara.
Pada Rabu malam, sekelompok penyerang bertopeng menyerang konsulat Republik Islam Iran di Najaf dan membakar sebagian bagunan diplomatik itu yang memanfaatkan berlanjutnya aksi protes rakyat Irak yang menuntut perbaikan kondisi ekonomi.
Dilaporkan, sebagai 47 orang pertugas keamanan Irak terluka dalam serangan itu.
Menurut laporan media, para diplomat Iran telah dievakuasi sebelum terjadi serangan itu.
Sebelumnya, terjadi penyerangan terhadap konsulat Iran di kota Basra dan Karbala.
Sejumlah sumber mengungkapkan dukungan finansial sejumlah negara Arab terhadap para perusuh di Irak.
Kepala polisi Basra, juga menegaskan bahwa rezim Zionis, Arab Saudi dan UEA bekerja untuk mengganggu perdamaian dan stabilitas di Irak.
Lindungi Tempat Suci, Peralatan Militer Dikerahkan ke Najaf
Pasukan sukarelawan rakyat Irak mengerahkan peralatan militer ke kota Najaf untuk melindungi tempat ziarah dan kantor-kantor Marja Muslim Syiah negara itu, menyusul kerusuhan yang dipicu sekelompok orang tak dikenal.
Fars News (28/11/2019) melaporkan, sumber media Irak mengabarkan pengiriman peralatan militer dan kendaraan lapis baja ke wilayah lama kota Najaf untuk menjaga tempat ziarah dan kantor-kantor Marja.
Seorang pakar keamanan Irak, Hisham Al Hashimi di akun Twitternya menulis, unit tempur Al Abbas, salah satu elemen Hashd Al Shaabi dan dekat dengan para Marja di Najaf, sudah mengirim peralatan militernya ke kota suci itu.
Sebagaimana ditulis situs Mawazine News, Al Hashimi mengatakan, peralatan militer ini dikirim ke Najaf untuk melindungi tempat-tempat ziarah, wilayah lama kota Najaf dan kantor-kantor Marja serta sekolah agama.
Sekelompok penyerang berkedok, Rabu (27/11) malam menyerang kantor konsulat Iran di kota Najaf dan membakar sebagian gedung.
Rezim Zionis akan Larang Total Aktivitas UNRWA
Rezim Zionis berupaya mengesahkan undang-undang yang melarang aktivitas badan internasional di Baitul Maqdis yang didudukinya, terutama menutup akses terhadap Badan PBB Urusan Pengungsi Palestina (UNRWA).
Pusat Informasi Palestina melaporkan, Nir Barakat, anggota Knesset dan mantan wali kota Quds yang diduduki rezim Zionis, hari Kamis (28/11) mengatakan UNRWA saat ini digunakan sebagai alat untuk menghasut dan membenci Israel di wilayah Palestina yang diduduki.
Dilaporkan, rancangan undang-undang yang melarang aktivitas UNRWA akan ditandatangani sejak awal 2020 oleh para pemimpin partai Likud, Yisrael Beiteinu dan beberapa partai Zionis lainnya.
Pada Januari 2018, AS memotong hibahnya sebesar 300 juta dolar kepada UNRWA untuk menekan Palestina agar menerima prakarsa kesepakatan abad.
UNRWA memberikan bantuan kepada sekitar 6 juta pengungsi Palestina di Tepi Barat, Jalur Gaza, Yordania, Lebanon dan Suriah, dan pemotongan anggaran yang dilakukan AS telah menimbulkan krisis keuangan besar bagi badan tersebut.
Hizbullah Tegaskan Urgensi Pemerintahan Baru Lebanon
Wakil Sekretaris Jenderal Hizbullah, Sheikh Naim Qassim menyerukan segera dipilihnya perdana menteri untuk pembentukan pemerintahan baru Lebanon.
Sheikh Qassim mengatakan krisis yang melanda Lebanon saat ini telah mempengaruhi berbagai aspek kehidupan masyarakat.
"Bahaya kevakuman politik meningkat setiap hari. Oleh karena itu, perdana menteri harus dipilih secepatnya untuk membentuk pemerintahan baru," ujar wakil sekjen Hizbullah.
Di bagian lain statemennya, ulama terkemuka Lebanon ini menekankan bahwa Hizbullah senantiasa menentang segala bentuk provokasi sektarian dari agama, mazhab, maupun kedaerahan, dan selalu menganjurkan kebebasan berekspresi dan berpolitik.
Sebelumnya, Saad al-Hariri mengundurkan diri dari jabatan perdana menteri dan menolak membentuk kabinet baru.
Presiden Lebanon Michel Aoun menyatakan akan segera memperkenalkan perdana menteri baru untuk membentuk kabinet.
Aoun menegaskan dalam situasi saat ini tidak akan mentolerir tuntutan baru, dan semua pihak harus bahu-membahu membantu mengatasi krisis nasional Lebanon.
Militer Suriah Tembak Jatuh Drone Turki
Militer Suriah berhasil menembak jatuh UAV angkatan bersenjata Turki di daerah sekitar Qamishli, wilayah timur laut Suriah yang berada di dekat perbatasan Turki.
Kantor berita Suriah, SANA melaporkan, drone militer ini ditembak jatuh di desa Hamu dekat kota Qamishli, di provinsi al-Hasakah.
Media Suriah juga melaporkan, pasukan negara Arab ini berhasil memukul mundur tentara Turki dan kelompok-kelompok bersenjata pendukungnya di desa Tal Al-Laban di pinggiran barat daerah Tal Tamar di provinsi Hasakah.
Invasi militer Turki di wilayah utara Suriah dimulai pada hari Rabu, 9 Oktober 2019 dengan dalih menumpas terorisme dan membersihkan perbatasan Suriah-Turki dari militan Kurdi yang disebut Ankara sebagai teroris.
Menghadapi invasi militer Turki tersebut, pihak Kurdi Suriah meminta bantuan pemerintah Damaskus untuk mengambil kendali wilayah utara Suriah dan mendukung perlawanan terhadap serangan Turki.
Presiden Suriah Bashar al-Assad menekankan bahwa militer negaranya akan mengusir agresor keluar dari teritorial negara Arab ini.
PBB Kecam Serangan Jet tempur Saudi di Yaman
Ketua komite koordinasi pasukan internasional di provinsi al-Hudaydah, wilayah barat Yaman mengecam keras serangan jet tempur Arab Saudi baru-baru ini.
Letjen Abhijit Guha dalam sebuah pernyataan hari Rabu (27/11) mengatakan, eskalasi serangan jet tempur Arab Saudi sangat bertentangan dengan ketenangan relatif yang sedang diupayakan di provinsi ini setelah didirikan pusat-pusat pemantauan di al-Hudaydah.
"Serangan-serangan ini mengancam keselamatan anggota Komite Koordinasi Pasukan Internasional. Padahal komite ini bertanggung jawab untuk memantau gencatan senjata yang sesuai dengan kesepakatan Swedia," ujar pejabat keamanan PBB ini.
Koalisi agresor Yaman yang dipimpin rezim Al Saud baru-baru ini melancarkan serangan udara lebih dari 20 kali di berbagai daerah di provinsi al-Hudaydah di wilayah barat Yaman.
Perundingan damai putaran keempat Yaman digelar Desember 2018 di Stockholm, Swedia, yang melibatkan berbagai kubu Yaman dan dipimpin Martin Griffiths selaku wakil khusus sekretaris jenderal PBB urusan Yaman.
Berbagai langkah untuk mengakhiri perang Yaman yang telah ditempuh sejauh ini terhenti akibat pelanggaran yang dilakukan Arab Saudi dan sekutunya.
Lima Warga Bahrain Divonis Penjara Seumur Hidup
Pengadilan rezim Al-Khalifa menjatuhkan vonis penjara seumur hidup terhadap lima orang warga Bahrain yang mengkuti aksi protes terhadap pemerintah Manama.
Pengadilan Bahrain hari Rabu (27/11) menjatuhkan hukuman penjara seumur hidup terhadap lima orang dengan tuduhan hendak menghancurkan ATM bank, dan fasilitas publik lainnya, meskipun tidak didukung bukti yang kuat.
Dari kelima orang ini, terdapat seorang remaja Syiah Bahrain bernama Abdul Hadi Rajab.
Sementara itu, Najah Youssef, seorang wanita Bahrain yang telah menghabiskan beberapa waktu di penjara Al Khalifa mengatakan bahwa rezim Al Khalifa meniksa fisik dan mental para tahanan, meskipun mereka mengklaim menghormati hak-hak tahanan.
"Pasukan keamanan Bahrain juga memukuli tahanan dan mengancam akan membunuh anak-anak mereka, juga tidak mengizinkan para tahanan untuk melakukan aktivitas keagamaan mereka," tutur Najah Youssef.
Bahrain dilanda gelombang protes rakyat sejak 2007, yang menyerukan reformasi politik di negara Arab ini.(PH)