Kemarahan Rakyat Irak terhadap Arogansi AS
https://parstoday.ir/id/news/west_asia-i79599-kemarahan_rakyat_irak_terhadap_arogansi_as
Jet-jet tempur Amerika Serikat pada 13 Maret lalu, menyerang markas pasukan Hashd al-Shaabi dan militer Irak di Provinsi Salahudin, Babel, Basrah, dan Karbala. Serangan ini memicu reaksi luas dari para pejabat dan rakyat Irak.
(last modified 2026-04-16T09:59:01+00:00 )
Mar 16, 2020 07:25 Asia/Jakarta

Jet-jet tempur Amerika Serikat pada 13 Maret lalu, menyerang markas pasukan Hashd al-Shaabi dan militer Irak di Provinsi Salahudin, Babel, Basrah, dan Karbala. Serangan ini memicu reaksi luas dari para pejabat dan rakyat Irak.

AS mengklaim bahwa aksi itu merupakan balasan terhadap serangan ke pangkalan militer al-Taji di Provinsi Salahudin dan menuding pasukan Hashd al-Shaabi sebagai pelakunya, tapi sama sekali tidak menunjukkan bukti untuk mendukung klaimnya itu.

Komando Operasi Gabungan Irak menganggap alasan yang dilontarkan oleh AS sebagai sebuah kebohongan.

Menurut anggota Koalisi Negara Hukum di parlemen Irak, Aliyah Nasif, para agen CIA dan antek-antek Amerika merekayasa serangan ke pangkalan al-Taji sehingga Washington memiliki alasan untuk menyerang markas Hashd al-Shaabi dan kelompok-kelompok perlawanan Irak.

“Setiap orang yang mempelajari fakta serangan roket ke pangkalan al-Taji, akan memahami bahwa operasi ini merupakan sebuah rekayasa dan pelakunya adalah kontraktor keamanan yang punya hubungan dengan CIA,” ungkapnya.

AS sepertinya mengejar dua tujuan penting melalui klaim-klaim palsu dan propaganda miring ini. Pertama, menciptakan kembali ancaman kelompok-kelompok teroris di Irak sehingga militer AS punya alasan untuk melanjutkan kehadirannya di negara itu. Kedua, serangan AS bertujuan untuk memperlemah Hashd al-Shaabi dan kelompok-kelompok perlawanan Irak.

Ilustrasi tentara Amerika dan pasukan Hashd al-Shaabi.

Pemerintah AS memandang pengaruh kuat Hashd al-Shaabi dalam struktur kekuasaan Irak, bertentangan dengan kepentingan dan keamanan Washington dan rezim Zionis. Oleh karena itu, mereka menyerang posisi Hashd al-Shaabi di berbagai wilayah Irak.

AS berusaha mengobarkan kekacauan di Irak dan kemudian menuding pasukan Hashd al-Shaabi sebagai pelakunya. Mereka ingin merusak citra dan reputasi Hashd al-Shaabi di tengah rakyat Irak.

Di sisi lain, Washington mencoba menciptakan perpecahan antara pemerintah Baghdad dan Hashd al-Shaabi serta kubu perlawanan di Irak. Pada dasarnya, salah satu alasan utama campur tangan AS dalam proses penyusunan kabinet baru di Irak adalah menghadirkan sebuah pemerintahan yang menentang Hashd al-Shaabi dan kubu perlawanan.

Namun, ada dua hal yang bisa dipahami dari reaksi para tokoh dan politisi Irak terhadap arogansi AS. Pertama, mayoritas tokoh dan politisi Irak mendukung peran Hashd al-Shaabi di negara itu. Kedua, mereka menganggap tindakan AS sebagai pelanggaran atas kedaulatan negara, karena serangan itu dilakukan dari dalam wilayah Irak terhadap rakyat Irak.

Tindakan tersebut akan memperkuat tekad rakyat Irak untuk mengusir pasukan Amerika dari negara mereka. Anggota Komisi Keamanan dan Pertahanan Parlemen Irak, Karim Alaiwi mengatakan jika AS bersikeras mempertahankan pasukannya di Irak, maka opsi militer akan dipertimbangkan.

Sementara itu, anggota Koalisi Negara Hukum di parlemen Irak, mengatakan kehadiran pasukan Amerika di Irak lebih berbahaya dan lebih mematikan daripada virus Corona. Mansour al-Baiji meminta pemerintah mengambil tindakan yang diperlukan untuk melaksanakan keputusan parlemen tentang pengusiran pasukan AS dari Irak. (RM)