Protes Rusia atas Kehadiran Pasukan AS di Dekat Iran
https://parstoday.ir/id/news/world-i100512-protes_rusia_atas_kehadiran_pasukan_as_di_dekat_iran
Penentangan Rusia atas kehadiran militer Barat terutama Amerika Serikat, dan anggota Pakta Pertahanan Atlantik Utara, NATO di wilayah Asia Tengah dan Kaukasus Selatan, terus berlanjut.
(last modified 2025-07-30T02:55:16+00:00 )
Jul 04, 2021 16:16 Asia/Jakarta
  • pasukan AS di Afghanistan
    pasukan AS di Afghanistan

Penentangan Rusia atas kehadiran militer Barat terutama Amerika Serikat, dan anggota Pakta Pertahanan Atlantik Utara, NATO di wilayah Asia Tengah dan Kaukasus Selatan, terus berlanjut.

Utusan Presiden Rusia untuk Afghanistan, Zamir Kabulov menganggap kehadiran pasukan Amerika Serikat di kawasan Asia Barat, tidak bisa ditoleransi.

Ia mengatakan, penarikan pasukan AS dari Afghanistan tidak boleh menjadi alasan pengiriman kembali pasukan negara itu ke kawasan, dan menjadi dalih pendirian pangkalan militer di negara-negara Asia Tengah, juga di negara-negara tetangga Iran.

AS dan sekutunya pada tahun 2001 dengan dalih memerangi terorisme, dan menjaga keamanan di Afghanistan, menginvasi negara ini dan memulai pendudukan.

Pendudukan Afghanistan menciptakan peperangan, konflik dan kehancuran infrastruktur ekonomi negara ini, serta menyebarluaskan ketidakamanan, terorisme dan produksi narkotika di kawasan.

Setelah 20 tahun menduduki Afghanistan, AS mengumumkan akan menarik pasukannya dari negara itu hingga 11 September 2021.

Meski kehadiran AS di Afghanistan tidak menghasilkan apa pun kecuali malapetaka dan penderitaan serta berbagai permasalahan akibat ketidakamanan, namun sepertinya pejabat AS saat ini tengah bersiap memindahkan pasukannya dari Afghanistan ke salah satu negara Asia Tengah.

Menurut laporan yang ditulis media-media Barat, opsi terbesar para komandan militer AS untuk memindahkan pasukan negara itu dari Afghanistan adalah wilayah Asia Tengah.

Utusan khusus Presiden Rusia untuk Afghanistan, Zamir Kabulov

 

Sepertinya opsi ini adalah opsi paling serius yang dipilih AS, khususnya karena hubungan negara ini dengan tiga kekuatan asing di kawasan Asia Tengah dan Kaukasus Selatan yaitu Iran, Rusia dan Cina terus memburuk, dan ketiga negara ini tidak menghendaki kembalinya AS ke kawasan.

Oleh karena itu pemerintah AS harus membuktikan kepada negara-negara kawasan Asia Tengah bahwa keuntungan finansial dan politik yang dihasilkan dari kerja sama dengan AS jauh lebih besar dari kerugian yang mungkin timbul akibat ketidakpuasan Iran, Rusia dan Cina.

Jelas, pemerintah AS tidak akan mudah untuk membuktikan ini, karena lebih dari satu dekade terakhir bangsa-bangsa kawasan Asia Tengah sudah memahami kenyataan bahwa AS tidak siap menjadi kekuatan pengimbang Iran, Rusia dan Cina di kawasan.

Sehubungan dengan hal ini salah satu lembaga think tank di AS, The Carnegie Endowment for International Peace mengumumkan, negara-negara Asia Tengah tidak tertarik menjadi pangkalan militer AS, dan Washington setelah menarik pasukan dari Afghanistan harus mencari solusi lain.

Sekalipun kehadiran militer AS di kawasan dianggap tidak mungkin bahkan oleh lembaga-lembaga Barat sendiri, namun negara-negara Barat terutama AS saat ini tengah membangun jaringan sosial, dan media yang bisa dikontrol di sejumlah negara Asia Tengah.

Aktivitas agen-agen pemerintah AS di Kirgiztan dan Uzbekistan sepertinya lebih intens dibandingkan dengan negara Asia Tengah lain. Akan tetapi tetap saja nampak sulit bagi AS untuk menjadikan kedua negara ini pangkalan militer.

Hal ini terutama karena lebih dari 30 persen perekonomian kedua negara itu bergantung pada Rusia. Oleh karena itu kecil kemungkinan keduanya bersedia menyerahkan wilayahnya kepada AS untuk dijadikan pangkalan militer. (HS)