Menyimak Kedatangan Ketua Biro Politik Taliban ke Kabul
-
Mulla Abdul Ghani Baradar
Ketua Biro Politik Taliban dilaporkan telah tiba di Kabul, Afghanistan.
Berbagai sumber yang dekat dengan Taliban menyatakan, Mulla Abdul Ghani Baradar tiba di Kabul dan perundingan untuk membentuk pemerintah baru di negara ini dimulai.
Ketua Biri Politik Taliban di Qatar meninggalkan Doha hari Selasa (17/8/2021) dan tiba di Kandahar, Afghanistan.
Sekaitan dengan ini, salah satu Juru bicara Taliban, Suhail Shaheen mengatakan, kelompok ini menilai Cina dan Turki sebagai sekutu terpentingnya di bidang rekonstruksi Afghanistan.
Shaheen menambahkan,”Kami saat ini sangat membutuhkan persahabatan, dukungan dan kerja sama dengan Turki ketimbang dengan negara lain. Afghanistan memiliki kekayaan alam besar, namun karena hancurnya infrastruktur oleh penjajajh, maka tidak ada peluang untuk menambang kekayaan ini.”
Kedatangan ketua Biro Politik Taliban yang sebelumnya disebut-sebut akan terjadi dalam waktu dekat sebagai pemimpin kelompok ini, termasuk peristiwa yang patut diperhatikan di Afghanistan setelah tumbangnya pemerintahan Mohammad Ashraf Ghani, mantan presiden negara ini dan berkuasanya Taliban atas kota Kabul serta berbagai negara bagian lainnya.
Dengan tibanya Mulla Abdul Ghani Baradar di Kabul, berbagai laporan menunjukkan percepatan dialog terkait masa depan politik negara ini.
Mengingat Mulla Baradar sebagai ketua Biro Politik Taliban, diprediksikan agenda perundingan mendatang kelompok ini dengan faksi lain di Afgahanistan fokus pada pembentukan pemerintahan baru dan dengan demikian dapat dikatakan bahwa Mulla Baradar akan memiliki pengaruh besar dipengambilan keputusan di bidang ini.
Meski sejak menguasai Kabul pada 15 Agustus lalu, Taliban telah memulai perundingan dengan Dewan Koordinasi Afghanistan yang terdiri dari Abdullah Abdullah, Hamid Karzai dan Gulbuddin Hekmatyar, namun sampai saat ini belum jelas apa keinginan Taliban terkait model pemerintahan mendatang, yang menurut pejabat kelompok ini sebuah pemerintahan komprehensif dengan partisipasi seluruh etnis dan kaum.
Dari satu sisi meski Taliban menekankan pembentukan pemerintahan komprehensif di Afghanistan, namun keraguan terkait teralisasinya janji dan juga saham faksi serta etnis di pemerintahan ini semakin meningkat.
Sebagian statemen jubir kantor Biro Politik Taliban di Qatar terkait bahwa Turki dan Cina mitra strategis di masa mendatang dan rekonstruksi Afghanistan dapat memperjelas sebagian ambiguitas bentuk pemerintahan milisi ini Afghanistan termasuk di bidang hubungan dengan negara lain.
Terkait pemilihan Turki dan Cina sebagai mitra strategis dengan Taliban di masa depan Afghanistan, ada pandanganbahwa Taliban ingin memanfaatkan potensi dan kapasitas finansial serta ekonomi Cina sebagai kekuatan ekonomi kedua terbesar dunia untuk merealisasikan janjinya soal pembangunan dan kemajuan Afghanistan.
Sementara Turki yang juga disebutkan distatemen Shaheen, diperkirakan karena pertimbangan politik dan mazhab Partai Keadilan dan Pembangunan (PKK) Turki, di mana Taliban berharap mampu memanfaatkan bantuan teknis dan insinyur Turki di proses rekonstruksi Afghanistan.
Sepertinya Taliban kedepannya tidak dapat mengabaikan tuntutan rakyat Afghanistan dan bertindak secara sepihak, karena milisi ini tahu betul bahwa mereka tidak dapat mengambil alih pemerintahan masa depan dengan paksa.
Dengan demikian, selama sepekan lalu petinggi Taliban menekankan pentingnya pembentukan pemerintahan menyeluruh dengan partisipasi seluruh etnis di Afghanistan. (MF)