Upaya Pemimpin Eropa untuk Mencegah Perang Barat-Rusia
https://parstoday.ir/id/news/world-i115418-upaya_pemimpin_eropa_untuk_mencegah_perang_barat_rusia
Kanselir Jerman Olaf Scholz – sebagai pemimpin negara Uni Eropa yang paling penting dan ekonomi terbesar benua itu – berkunjung ke Kiev dan Moskow untuk mencari solusi politik atas krisis Ukraina.
(last modified 2025-07-30T06:25:16+00:00 )
Feb 15, 2022 15:49 Asia/Jakarta

Kanselir Jerman Olaf Scholz – sebagai pemimpin negara Uni Eropa yang paling penting dan ekonomi terbesar benua itu – berkunjung ke Kiev dan Moskow untuk mencari solusi politik atas krisis Ukraina.

Kunjungan ini sangat penting di tengah beredarnya kabar tentang rencana serangan Rusia ke Ukraina dalam beberapa hari mendatang.

Scholz melakukan perjalanan ke Kiev pada Senin (14/2/2022) untuk bertemu dengan Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky. Dalam pertemuan itu, Kanselir Jerman menyebut mobilisasi pasukan Rusia di dekat perbatasan Ukraina tidak dapat dibenarkan dan mengancam Moskow dengan sanksi ekonomi.

"Sanksi yang diusulkan akan berdampak parah pada ekonomi Rusia," kata Scholz.

Dia mengatakan isu Ukraina bergabung dengan NATO tidak ada dalam agenda untuk saat ini, dan kami terkejut dengan fokus Rusia pada masalah itu.

"Jerman mendukung Ukraina dan sejauh ini telah mengucurkan bantuan 2 miliar euro ke Kiev dan siap untuk melanjutkan dukungan ini," tegas Kanselir Jerman.

Scholz juga akan berkunjung ke Moskow pada hari Selasa untuk bertemu dengan Presiden Rusia Vladimir Putin. Dia menekankan aktivitas militer Rusia di dekat perbatasan Ukraina tidak dapat dibenarkan dan bahwa agresi ini akan memiliki konsekuensi, yang akan kami tekankan selama lawatan kami ke Moskow.

Negara-negara Barat dan NATO melancarkan propaganda anti-Rusia dan menuduh negara itu akan segera menginvasi Ukraina. Dengan alasan ini, AS dan NATO telah meningkatkan kehadiran militernya di Eropa Timur.

Pemerintah Moskow menyatakan keprihatinan tentang peningkatan itu dan mengatakan tidak memiliki rencana untuk menyerang negara mana pun. Kremlin membantah tuduhan tentang rencana serangan ke Ukraina, dan menegaskan bahwa Barat telah meningkatkan ketegangan dengan mengerahkan pasukan dan mendukung Ukraina.

Ukraina terus menerima persenjataan dari negara-negara sekutu.

Meski Eropa memihak pada Amerika Serikat dalam krisis Ukraina, tetapi mereka tidak mengambil sikap yang seragam. Di satu sisi, para pejabat Eropa menuduh Rusia bersiap untuk menyerang Ukraina, tetapi di sisi lain, mereka takut akan konsekuensi mengerikan jika perang antara NATO dan Rusia pecah di Eropa.

Perdana Menteri Hungaria, Viktor Orban mengatakan kebijakan dan strategi pejabat Uni Eropa telah gagal dan sanksi terhadap Rusia telah membentur jalan buntu.

Sekarang para pejabat tinggi Eropa mencoba untuk mencegah perang di Eropa Timur. Beberapa hari lalu, Presiden Prancis Emmanuel Macron bertemu dengan Vladimir Putin di Moskow dan kemudian mengklaim bahwa Presiden Rusia berjanji akan meredam ketegangan dalam krisis Ukraina.

Kanselir Jerman juga berkunjung ke Moskow untuk membujuk para pemimpin Kremlin agar mengurangi ketegangan dan mengejar solusi damai untuk krisis saat ini antara Rusia dan Ukraina.

Sayangnya, para pemimpin Eropa terus mengabaikan tuntutan utama Rusia yaitu agar menolak Ukraina bergabung dengan NATO. Pemerintah Kiev juga menekankan bahwa keanggotaan Ukraina di NATO masih menjadi sebuah prioritas mereka.

Juru bicara pemerintah Ukraina, Sergey Nikiforov mengatakan jalan ini (keanggotaan di NATO) tidak hanya tercermin dalam konstitusi, tetapi juga direstui penuh oleh para pejabat dan masyarakat.

Dengan demikian, upaya politik para pemimpin Eropa, termasuk Kanselir Jerman, tampaknya tidak akan berhasil karena Rusia dan Barat sama-sama mempertahankan posisi mereka.

Terlebih lagi, parlemen Rusia telah mengagendakan pertemuan untuk memberikan pengakuan kepada wilayah Luhansk dan Donetsk di timur Ukraina. Dengan pengakuan ini, Rusia dapat secara resmi mengirim pasukannya atas permintaan pemerintah di kedua wilayah tersebut. Moskow sejauh ini membantah kehadiran resmi pasukan Rusia di timur Ukraina. (RM)