Uni Eropa Kaji Inisitif Damai Cina untuk Perang Ukraina
https://parstoday.ir/id/news/world-i140634-uni_eropa_kaji_inisitif_damai_cina_untuk_perang_ukraina
Kepala Kebijakan Luar Negeri Uni Eropa menyampaikan kritik terhadap kelemahan proposal perdamaian Cina untuk mengakhiri perang di Ukraina, sambil mengumumkan bahwa Uni Eropa akan menyelidiki inisiatif tersebut.
(last modified 2026-03-03T08:52:08+00:00 )
Feb 27, 2023 10:59 Asia/Jakarta
  • Uni Eropa Kaji Inisitif Damai Cina untuk Perang Ukraina

Kepala Kebijakan Luar Negeri Uni Eropa menyampaikan kritik terhadap kelemahan proposal perdamaian Cina untuk mengakhiri perang di Ukraina, sambil mengumumkan bahwa Uni Eropa akan menyelidiki inisiatif tersebut.

Menanggapi pergerakan Barat di dekat perbatasan Rusia, Presiden Vladimir Putin mengeluarkan instruksi operasi militer khusus di Donbass sekaligus memenuhi permintaan bantuan militer dari Donetsk dan Luhansk di Ukraina timur.

Rusia mengumumkan bahwa operasi di Ukraina bukanlah awal dari perang, tapi sebaliknya dikakukan untuk  mencegah perang dunia.

Ketika perang di Ukraina berlanjut, tekanan diplomatik dan ancaman internasional serta sanksi terhadap Rusia semakin masif dilancarkan negara-negara Barat, terutama AS.

Kepala Kebijakan Luar Negeri Uni Eropa Josep Borrell dalam sebuah pernyataan yang dirilis hari Minggu (26//2/2023) menyinggung proposal perdamaian Cina untuk menyelesaikan perang antara Rusia dan Ukraina.

"Cina menyampaikan pandangan politiknya secara tertulis tentang penyelesaian damai, yang bukan merupakan rencana perdamaian, dan sebagian besar merupakan pengulangan posisi negara ini," ujar Borrell.

"Uni Eropa memiliki pandangan senada dengan beberapa poin dalam proposal Cina, tapi ada beberapa poin penting yang terlewatkan dalam inisitif ini," kata Borrell.

"Masalah utama proposal ini tidak bisa membedakan mana agresor dan korban," tegasnya.

Sebelumnya, Presiden AS Joe Biden telah menolak propasal perdamaian yang diusulkan Cina, dengan mengatakan, "Saya tidak melihat apa pun dalam proposal ini, dan jika dijalankan tidak ada yang mendapatkan manfaat darinya, selain Rusia."(PH)