Mengapa AS Khawatirkan Perubahan Tatanan Dunia ?
Komunitas intelijen Amerika Serikat dalam laporan terbarunya menyampaikan kekhawatiran tentang upaya Cina untuk mengubah tatanan dunia, dan risiko keamanan yang dihadapi Washington.
Laporan tersebut mengungkapkan,"Di tahun-tahun mendatang, Amerika Serikat dan sekutunya akan menghadapi lingkungan keamanan yang kompleks. Lingkungan ini didominasi oleh dua tantangan strategis kritis yang bersinggungan satu sama lain dan secara praktis akan mengintensifkan konsekuensi keamanannya,".
Dari laporan ini setidaknya dua masalah utama muncul. Pertama, kekuatan besar, kekuatan regional yang muncul, dan aktor non-negara akan berusaha mendominasi tatanan dunia. Mereka akan bersaing satu sama lain untuk menciptakan kondisi dan aturan yang akan membentuk tatanan tersebut dalam beberapa dekade mendatang.
Kedua, tantangan global bersama, termasuk perubahan iklim dan keamanan serta kesehatan, datang bersamaan ketika dunia sedang mengatasi epidemi Covid-19, dan menghadapi masalah ekonomi yang disebabkan oleh kerawanan energi dan pangan.
Tampaknya, Washington mengkhawatirkan perubahan mendasar tatanan dunia akibat perkembangan pasca Perang Dingin di kancah internasional, dengan kemunculan kekuatan internasional baru, terutama Cina, dan Rusia sebagai kekuatan internasional seiring dengan munculnya aktor regional yang berpengaruh, dan juga perubahan ekonomi dunia.
Simbol dari perubahan ini ditandai dengan penggantian bertahap Kelompok 20 yang terdiri dari kekuatan ekonomi global dan ekonomi berkembang berdampingan dengan kekuatan ekonomi regional, yang berarti berakhirnya dominasi ekonomi Barat dan munculnya kekuatan ekonomi baru di kancah regional dan global.
Selain itu, kekuatan rival Barat, yaitu Cina dan Rusia, bersama dengan ekonomi baru seperti India, Brasil, dan Afrika Selatan, yang semuanya merupakan anggota kelompok BRICS, secara khusus ingin menciptakan sistem multipolar, bukan unipolar.

Cina dan Rusia percaya bahwa perkembangan internasional dan realitas sistem dunia mendukung sistem multipolar. Sementara Amerika Serikat masih bersikeras mempertahankan sistem unipolar dan mencoba memainkan peran polisi dunia dalam mengejar tujuan dan tuntutannya secara unilateral.
Meningkatnya kerja sama dan kemitraan antara Rusia dan Cina selalu menghadapi reaksi negatif dari blok Barat, terutama dari Amerika Serikat. Sebab, Washington mengkhawatirkan peningkatan terus-menerus kekuatan dan pengaruh Beijing dan Moskow di arena regional dan internasional. Oleh karena itu, Barat melakukan segala upaya untuk menampilkan citra Cina dan Rusia sebagai ancaman bagi kawasan Timur dan Eurasia, juga dunia.
Pejabat militer dan keamanan senior pemerintahan Biden telah berulang kali menyatakan Cina sebagai tantangan geopolitik terpenting bagi Amerika Serikat, dan mengklaim bahwa Beijing bermaksud mengubah sistem internasional berdasarkan tatanan multipolar.
Pada saat yang sama, mereka menganggap Rusia sebagai ancaman besar bagi Amerika Serikat dan sekutunya di Eropa, dan menekankan tekad mereka untuk mencegah Rusia memenangkan perang di Ukraina. Laporan komunitas intelejen AS menyebutkan bahwa persaingan strategis antara Amerika Serikat dan sekutunya dengan bloka Cina dan Rusia atas dunia akan menjadi sangat penting dalam menentukan siapa dan apa yang akan membentuk narasi di tengah tindakan Rusia di Ukraina.
Tampaknya perhatian terpenting Amerika Serikat mengenai peningkatan persaingan Cina dengan Amerika dan upaya Beijing untuk menjadi kekuatan ekonomi pertama di dunia dan aktor internasional yang menentukan. Dalam hal ini, laporan komunitas intelijen Amerika menyebutkan, "Cina memiliki kemampuan memadai untuk melakukan upaya langsung guna mengubah tatanan berbasis aturan global di semua bidang dan di berbagai kawasan."
Dalam pertemuan dengan Komisi Intelijen Senat AS, Avril Haines, Direktur Intelijen Nasional mengatakan, "Cina dalam aspek ekonomi, teknologi, politik dan militer menjadi tantangan Amerika di seluruh dunia, dan tetap menjadi prioritas yang tak tertandingi untuk Amerika."(PH)