Mengapa AS Menganggap Ikhwanul Muslimin sebagai Ancaman Teroris?
https://parstoday.ir/id/news/world-i181030-mengapa_as_menganggap_ikhwanul_muslimin_sebagai_ancaman_teroris
Pars Today – Donald Trump, Presiden Amerika Serikat, melalui penandatanganan sebuah perintah eksekutif terhadap Ikhwanul Muslimin, telah memasukkan sejumlah cabangnya ke dalam daftar pemeriksaan untuk penetapan sebagai “organisasi teroris asing.”
(last modified 2025-11-25T12:07:31+00:00 )
Nov 25, 2025 18:59 Asia/Jakarta
  • Presiden AS, Donald Trump
    Presiden AS, Donald Trump

Pars Today – Donald Trump, Presiden Amerika Serikat, melalui penandatanganan sebuah perintah eksekutif terhadap Ikhwanul Muslimin, telah memasukkan sejumlah cabangnya ke dalam daftar pemeriksaan untuk penetapan sebagai “organisasi teroris asing.”

Donald Trump, Presiden Amerika Serikat, menandatangani sebuah perintah yang berdasarkan ketentuannya, sejumlah cabang atau subunit Ikhwanul Muslimin akan diperiksa guna kemungkinan penetapan sebagai apa yang disebut organisasi teroris asing serta teroris global khusus. Dengan menandatangani perintah eksekutif tersebut, Trump juga memerintahkan para menteri untuk mengambil langkah-langkah yang diperlukan dalam waktu 45 hari setelah laporan disusun.

 

Keputusan Trump ini memicu banyak reaksi di tingkat internasional dan pada kenyataannya mencerminkan upaya Amerika Serikat untuk membatasi pengaruh Ikhwanul Muslimin di negara-negara Asia Barat.

 

Ikhwanul Muslimin, yang didirikan pada tahun 1928 di Mesir, dengan cepat memperluas pengaruhnya di negara-negara Arab. Setelah kejatuhan Hosni Mubarak, kelompok ini berhasil mengantarkan Mohamed Morsi ke kursi kepresidenan, namun setelah kudeta Abdel Fattah el-Sisi pada tahun 2013, kelompok tersebut dipandang sebagai ancaman serius bagi keamanan dalam negeri dan stabilitas regional. Perintah Trump secara khusus menargetkan cabang-cabang kelompok ini di Lebanon, Mesir, dan Yordania, yang dapat memengaruhi hubungan Amerika Serikat dengan negara-negara tersebut. Sebaliknya, negara-negara seperti Arab Saudi dan Uni Emirat Arab, yang memandang Ikhwanul Muslimin sebagai ancaman bagi stabilitas mereka, kemungkinan besar akan mendukung langkah ini.

 

Salah satu konsekuensi lain dari perintah tersebut adalah meningkatnya tekanan internasional terhadap kelompok-kelompok perlawanan seperti Hizbullah Lebanon dan Hamas, yang dalam menghadapi musuh Zionis juga memperoleh dukungan dari Ikhwanul Muslimin. Keputusan ini juga dapat memperumit interaksi kelompok-kelompok tersebut dengan negara-negara lain di kawasan serta para aktor internasional. Selain itu, kelompok-kelompok yang sebelumnya mendapat dukungan finansial dan persenjataan dari beberapa negara Arab mungkin akan menghadapi tekanan yang lebih besar dan berkurangnya dukungan internasional terhadap mereka.

 

Namun, dampak perintah Trump ini tidak terbatas pada negara-negara seperti Lebanon dan Mesir. Pada tingkat kawasan, negara-negara seperti Turki, yang selalu dikenal sebagai pendukung Ikhwanul Muslimin, kemungkinan akan menunjukkan reaksi diplomatik dan keamanan terhadap keputusan tersebut. Turki selama ini mendukung Ikhwan dan menampung banyak anggota kelompok tersebut. Karena itu, setiap tekanan dari Amerika Serikat kepada Turki untuk mengadopsi pendekatan anti-Ikhwan dapat meningkatkan ketegangan antara kedua negara. Selain itu, keputusan ini dapat membawa dampak luas terhadap hubungan Amerika Serikat dengan negara-negara lain seperti Rusia dan Tiongkok, yang dalam sejumlah krisis memberikan dukungan kepada kelompok-kelompok Islam dan mungkin memandang perintah tersebut sebagai ancaman terhadap keamanan kawasan mereka.

 

Adapun mengenai Qatar, yang secara tradisional merupakan pendukung Ikhwanul Muslimin, keputusan ini dapat memiliki dampak signifikan. Qatar, yang dalam beberapa tahun terakhir memberikan dukungan kepada Ikhwanul Muslimin di berbagai negara, mungkin akan menghadapi tekanan politik dan diplomatik yang lebih besar dari Amerika Serikat dan para sekutunya. Negara ini juga mengalami ketegangan dengan beberapa negara Arab seperti Mesir dan Arab Saudi terkait isu Ikhwanul Muslimin. Oleh karena itu, memasukkan Ikhwanul Muslimin ke dalam daftar teroris dapat menempatkan Qatar dalam posisi yang sulit.

 

Pada akhirnya, perintah Trump tersebut tidak hanya menunjukkan peningkatan tekanan terhadap Ikhwanul Muslimin, tetapi juga merupakan sebuah langkah strategis dalam rangka mengubah kebijakan Amerika Serikat di negara-negara Asia Barat dan menghadapi apa yang dianggapnya sebagai ancaman keamanan. Perintah ini dapat membuka jalan bagi perubahan signifikan dalam hubungan regional serta perubahan besar dalam kebijakan negara-negara kawasan. Dalam situasi di mana dinamika politik dan keamanan di negara-negara Asia Barat berubah dengan cepat, keputusan Trump ini dipandang sebagai salah satu elemen kunci dalam mengubah kalkulasi regional dan dapat menimbulkan dampak luas pada tahun-tahun mendatang.

 

Secara keseluruhan, perintah eksekutif ini bukan hanya sebuah tindakan antiterorisme, melainkan bagian dari strategi yang lebih besar untuk mengubah keseimbangan kekuasaan di kawasan. Keputusan tersebut tidak hanya meningkatkan tekanan politik dan keamanan terhadap berbagai cabang Ikhwanul Muslimin serta kelompok-kelompok sehaluan, tetapi juga berpotensi mengubah konfigurasi aliansi dan konfrontasi di tingkat regional maupun global. Dampaknya dapat berupa terbentuknya barisan politik baru, meningkat atau menurunnya dukungan internasional terhadap arus Islam politik, dan bahkan munculnya krisis-krisis yang lebih kompleks. Masa depan akan menunjukkan apakah tekanan tersebut akan membatasi pengaruh kelompok-kelompok ini atau justru membuka jalan bagi perubahan-perubahan baru yang tidak terduga. (MF)