Bagaimana Venezuela Menjadi Pelopor Pertumbuhan Ekonomi di Amerika Latin?
-
Pertumbuhan ekonomi Venezuela
Pars Today - Venezuela, dengan berhasil melewati hambatan sanksi, mencatat tingkat pertumbuhan ekonomi tertinggi di Amerika Latin pada tahun 2025.
Menurut laporan Pars Today, sementara Amerika Serikat dengan penerapan sanksi ilegal paling keras, blokade ekonomi, dan kini ancaman serangan militer berusaha menundukkan bangsa Venezuela, Komisi Ekonomi Perserikatan Bangsa-Bangsa untuk Amerika Latin dan Karibia (CEPAL) dalam sebuah laporan mengejutkan bagi Barat menyatakan bahwa Venezuela, dengan melewati hambatan sanksi, berhasil mencatat tingkat pertumbuhan ekonomi tertinggi di kawasan pada tahun 2025.
Lembaga di bawah PBB ini pada hari Selasa (16/12/2025), melalui publikasi neraca awal ekonomi regional, menegaskan kegagalan kebijakan tekanan maksimum Amerika Serikat terhadap Caracas. Berdasarkan laporan ini, Venezuela dengan pertumbuhan 6,5 persen pada tahun 2025 berada di puncak tabel pertumbuhan ekonomi kawasan. Laporan ini menjadi bukti nyata keberhasilan model “ekonomi perlawanan” pemerintah Bolivarian dalam menghadapi imperialisme.
Laporan ini juga menegaskan bahwa Venezuela pada tahun 2024 mencatat pertumbuhan mengesankan sebesar 8,5 persen dan melanjutkannya pada tahun 2025 (6,5 persen), jauh melampaui rata-rata pertumbuhan kawasan yang hanya 2,3 hingga 2,4 persen. Angka ini menunjukkan bahwa ekonomi Venezuela tidak hanya bertahan dari konspirasi eksternal, tetapi juga sedang mengalami kebangkitan kembali.
Laporan ini menegaskan bahwa Venezuela pada tahun 2024 mencatat pertumbuhan mengesankan sebesar 8,5 persen dan melanjutkannya pada tahun 2025 (6,5 persen), jauh melampaui rata-rata pertumbuhan kawasan yang hanya 2,3 hingga 2,4 persen. Angka ini menunjukkan bahwa ekonomi Venezuela tidak hanya bertahan dari konspirasi eksternal, tetapi juga sedang mengalami kebangkitan kembali.
Bagian lain dari laporan CEPAL, yang membantah propaganda media Barat, menyoroti keberhasilan pemerintah Nicolás Maduro dalam mengendalikan inflasi. Lembaga internasional ini mengakui bahwa inflasi di Venezuela, yang dikenal dengan ideologi sosialisnya, dalam satu tahun turun lebih dari 87 persen. Venezuela berhasil keluar dari kondisi hiperinflasi (akibat perang mata uang yang dilancarkan musuh negara ini) dan mencapai tingkat inflasi yang dapat dikelola. Pencapaian ini dianggap sebagai salah satu keberhasilan makroekonomi paling penting dalam beberapa tahun terakhir.
Berdasarkan laporan terbaru PBB, Venezuela berhasil tampil sebagai pelopor pertumbuhan ekonomi di Amerika Latin. Salah satu faktor utama lonjakan ini adalah penurunan drastis inflasi. Venezuela, yang selama bertahun-tahun bergulat dengan krisis hiperinflasi, mampu menurunkan inflasi lebih dari 87 persen dalam satu tahun dan membawanya ke tingkat yang dapat dikelola. Pencapaian besar ini menciptakan stabilitas relatif di pasar domestik dan membuka jalan bagi pertumbuhan produksi serta investasi.
Faktor lain adalah peningkatan produksi minyak dan energi. Meskipun menghadapi sanksi eksternal, pemerintah Venezuela berhasil memulihkan sebagian kapasitas minyaknya dan meningkatkan ekspor energi. Hal ini membawa lebih banyak devisa bagi negara, memperkuat cadangan mata uang asing, dan mendukung pembiayaan proyek-proyek domestik.
Selain itu, diversifikasi ekonomi melalui dukungan terhadap sektor pertanian, industri, dan jasa memainkan peran penting dalam pertumbuhan ini. Sektor swasta dan pemerintah, meskipun menghadapi keterbatasan akibat sanksi, melakukan investasi baru dalam produksi domestik. Upaya ini mengurangi ketergantungan tunggal pada minyak dan memberi kontribusi lebih besar dari sektor lain terhadap pertumbuhan ekonomi.
Dari sisi sosial, penurunan inflasi dan peningkatan produksi membawa perbaikan relatif dalam kondisi hidup masyarakat. Walaupun masalah struktural masih ada, stabilitas ekonomi berhasil menciptakan kepercayaan relatif di masyarakat serta membuka peluang untuk menurunkan pengangguran dan meningkatkan lapangan kerja.
Di tingkat regional, kinerja Venezuela menjadi semakin penting ketika banyak negara Amerika Latin menghadapi pertumbuhan rendah dan resesi. Sementara ekonomi besar seperti Brasil dan Chili hanya mencatat pertumbuhan sekitar 2,5 persen, Venezuela dengan pertumbuhan lebih dari dua kali lipat rata-rata kawasan berhasil memperoleh posisi istimewa.
Secara keseluruhan, Venezuela dengan kombinasi penurunan inflasi, peningkatan produksi minyak, diversifikasi ekonomi, dan investasi domestik berhasil menjadi pelopor pertumbuhan ekonomi di Amerika Latin dalam beberapa tahun terakhir. Pencapaian ini memiliki arti khusus dalam kondisi resesi regional, meskipun keberlanjutannya tetap membutuhkan reformasi struktural dan pencabutan hambatan eksternal.
Tampaknya pemerintahan Trump, yang seperti pemerintahan Amerika sebelumnya berfokus pada upaya melemahkan dan akhirnya menggulingkan pemerintahan kiri Venezuela serta Presiden Nicolás Maduro, paling terkejut dengan laporan PBB mengenai pertumbuhan ekonomi signifikan Venezuela.
Venezuela, dengan cadangan lebih dari 300 miliar barel minyak atau sekitar 17 persen dari cadangan yang diketahui dunia, memiliki posisi strategis. Tiongkok adalah pemain asing terbesar dalam industri minyak negara ini, dan pengurangan pengaruh Tiongkok di belahan bumi barat disebut sebagai salah satu prioritas keamanan nasional pemerintahan Trump.
Menurut laporan The New York Times, motivasi utama di balik tekanan politik, ekonomi, dan militer pemerintahan Donald Trump terhadap pemerintah Nicolás Maduro adalah akses Amerika Serikat ke cadangan besar minyak dan gas Venezuela.
Koran ini menambahkanm meskipun secara terbuka operasi militer dan peningkatan tekanan terhadap Venezuela dibenarkan dengan alasan memerangi perdagangan narkoba, fokus utama Washington di balik layar adalah mengendalikan dan memperoleh akses ke cadangan minyak terbesar dunia di negara Amerika Latin ini.(sl)