Mengapa Kejahatan Bermotif Kebencian Agama dan Ras terus Meningkat di Inggris?
https://parstoday.ir/id/news/world-i183594-mengapa_kejahatan_bermotif_kebencian_agama_dan_ras_terus_meningkat_di_inggris
Pars Today – Kejahatan yang bermotif kebencian agama dan ras di Inggris menunjukkan tren yang meningkat.
(last modified 2026-01-04T13:31:04+00:00 )
Jan 04, 2026 20:28 Asia/Jakarta
  • Mengapa Kejahatan Bermotif Kebencian Agama dan Ras terus Meningkat di Inggris?

Pars Today – Kejahatan yang bermotif kebencian agama dan ras di Inggris menunjukkan tren yang meningkat.

Laporan resmi yang diterbitkan di Inggris menunjukkan bahwa pada tahun 2024, polisi negara tersebut menerima lebih banyak laporan terkait kejahatan bermotif kebencian agama dan ras. Berdasarkan data kepolisian Inggris, kejahatan bermotif kebencian rasial terutama meningkat di Skotlandia, wilayah utara Inggris, sementara kejahatan bermotif kebencian agama terhadap Muslim lebih banyak dilaporkan di Inggris dan Wales. Menurut statistik kepolisian, jumlah kejahatan bermotif kebencian agama di Inggris meningkat dari 343 kasus pada 2019–2020 menjadi 419 kasus pada 2023–2024.

 

Banyak kasus serangan verbal oleh orang kulit putih terhadap non-kulit putih di transportasi umum Inggris yang beredar di media sosial. Karena kurangnya penindakan terhadap kejahatan bermotif kebencian agama dan ras, para pelaku menjadi semakin berani dan secara terbuka menyebarkan kebencian di sarana transportasi umum. Kelompok dan organisasi anti-rasisme di Inggris menyatakan bahwa sejumlah orang, karena takut mengalami pelecehan di transportasi umum, kini lebih jarang menggunakan layanan tersebut. Menurut laporan, orang kulit putih Inggris kerap berkata kepada non-kulit putih: “Kembalilah ke negaramu.”

 

Akeela Ahmed, Direktur Eksekutif Lembaga Muslim Inggris, mengatakan: khususnya bagi Muslim yang mudah dikenali (misalnya perempuan berhijab), lantai atas bus atau gerbong kereta yang setengah kosong dapat menjadi tempat terjadinya perilaku mengancam, penghinaan verbal, atau bahkan serangan fisik semata-mata karena keyakinan mereka. Menurutnya, banyak Muslim di negara ini kini merasa harus lebih berhati-hati dalam setiap ucapan atau tindakan, karena bisa saja disalahartikan, direkam, dan digunakan untuk melawan mereka. Ia menekankan bahwa hal paling mengkhawatirkan dari kejahatan bermotif kebencian terhadap Muslim di Inggris adalah bahwa sejumlah besar pelecehan fisik dan verbal menargetkan anak-anak Muslim yang bepergian ke sekolah. Ketiadaan kamera CCTV di bus dan di banyak stasiun membuat para pelaku biasanya lolos dari pertanggungjawaban.

 

Sebelumnya, badan pengawas masjid di Inggris menyatakan bahwa hampir 90 persen masjid di negara tersebut pernah mengalami serangan atau tindakan rasis dan Islamofobik, seperti pemecahan kaca, perusakan bangunan, coretan slogan, serta pelemparan kepala babi di depan masjid atau menggantungnya di pintu masjid. Tahun lalu, seorang pria Muslim lanjut usia yang baru selesai menunaikan salat Subuh dalam perjalanan pulang menjadi korban ketika janggut panjangnya dibakar oleh seorang rasis; ia mengalami luka bakar parah dan harus dirawat di rumah sakit. Bahkan beberapa pemakaman Muslim di negara ini tidak luput dari perilaku rasis, dengan batu nisan sejumlah Muslim yang meninggal dunia dirusak atau dicoret dengan slogan. Pada musim panas 2024, sejumlah toko milik Muslim dijarah, sementara rumah dan kendaraan mereka menjadi sasaran serangan rasis.

 

Tampaknya kejahatan bermotif kebencian agama dan ras di Inggris meningkat karena berbagai faktor. Kombinasi aspek sosial, politik, ekonomi, dan budaya telah menyebabkan jenis kejahatan ini bertambah dan rasa tidak aman di kalangan minoritas semakin besar. Salah satu alasan utama adalah meningkatnya Islamofobia dan rasisme di ruang publik. Laporan polisi dan media Inggris menunjukkan bahwa transportasi umum telah menjadi salah satu arena utama terjadinya kejahatan ini. Di kereta dan bus, banyak Muslim dan minoritas rasial menjadi sasaran penghinaan, ancaman, atau bahkan serangan. Kondisi khusus lingkungan ini, seperti kemungkinan korban terjebak atau pelaku bisa cepat melarikan diri, membuat para pelaku merasa lebih kebal.

 

Faktor lain adalah meningkatnya ketegangan politik dan sosial di Inggris.

Perdebatan mengenai imigrasi, identitas nasional, dan kebijakan pemerintah terhadap minoritas telah memicu tumbuhnya sentimen anti-asing. Kelompok ekstremis dan sayap kanan memanfaatkan situasi ini untuk menyebarkan pesan kebencian melalui media sosial dan pertemuan publik. Tren ini mendorong orang biasa untuk melakukan tindakan kekerasan terhadap minoritas.

 

Selain itu, ketidakpercayaan korban terhadap proses hukum juga berperan penting. Banyak orang yang menjadi sasaran serangan, karena takut atau ragu apakah laporan mereka akan ditindaklanjuti dengan serius, memilih untuk tidak melaporkan kejahatan. Hal ini membuat data resmi lebih rendah dari kenyataan, sehingga pelaku merasa dapat terus bertindak tanpa konsekuensi serius.

 

 

Selain itu, pengaruh media dan ruang maya dalam memperburuk tren ini cukup signifikan. Penyebaran video dan kisah-kisah terkait serangan rasialis di media sosial, meskipun meningkatkan kesadaran publik, dalam beberapa kasus juga menyebabkan reproduksi dan dorongan perilaku serupa.

 

Di samping faktor-faktor tersebut, kondisi ekonomi dan tekanan sosial juga menjadi pemicu meningkatnya kejahatan bermotif kebencian. Krisis ekonomi dan kenaikan biaya hidup mendorong sebagian orang untuk mencari “kambing hitam”, dan kelompok minoritas migran atau agama menjadi sasaran mudah bagi kemarahan sosial ini.

 

Secara keseluruhan, meningkatnya kejahatan bermotif kebencian agama dan ras di Inggris pada tahun 2025 merupakan hasil dari kombinasi kompleks Islamofobia, rasisme, ketegangan politik, lemahnya kepercayaan terhadap lembaga peradilan, pengaruh media, serta tekanan ekonomi. Situasi ini tidak hanya mengancam keamanan kelompok minoritas, tetapi juga menjadi tantangan serius bagi kohesi sosial dan nilai-nilai demokratis Inggris.