Mengapa Ekonomi Eropa Mengalami Penurunan?
-
Krisis lapangan kerja di Eropa
Pars Today - Eropa mengakhiri tahun 2025 dengan prospek ekonomi dan politik yang samar dan suram.
Berdasarkan statistik yang dipublikasikan, penurunan indikator ekonomi dan intensifikasi kontraksi aktivitas pabrik di bawah tekanan konsekuensi perang Ukraina, biaya energi yang tinggi, dan ketidakpastian politik menunjukkan tanda-tanda baru erosi mesin produksi Eropa dan kelanjutan resesi di tahun baru.
Statistik baru menunjukkan bahwa indeks manajer pembelian sektor industri di zona euro mencapai sekitar 48,8 poin pada Desember 2025 dan berada dalam kisaran yang dianggap berarti stagnasi dan penurunan aktivitas dibandingkan bulan sebelumnya.
Penurunan ini, dengan mencatat penurunan pertama dalam produksi pabrik, telah melukiskan gambaran yang lebih gelap tentang akhir tahun bagi industri Eropa. Laporan yang sama menekankan bahwa pabrik-pabrik di zona euro mengurangi jumlah karyawan selama 31 bulan berturut-turut.
Faktanya, ekonomi Eropa pada akhir tahun 2025 menghadirkan gambaran yang suram dan menantang. Gambaran ini bukan hanya cerminan stagnasi industri dan penurunan indikator produksi utama, tetapi juga tanda erosi bertahap dari mesin ekonomi kontinental yang selama beberapa dekade dikenal sebagai salah satu pilar utama ekonomi global.
Pandangan suram ini bukan tanpa alasan, tetapi merupakan hasil dari serangkaian faktor berpengaruh, termasuk kenaikan harga energi dan perang di Ukraina.
Eropa sangat bergantung pada industri yang intensif energi dan berorientasi ekspor selama beberapa dekade terakhir. Negara-negara seperti Jerman, Italia, dan Prancis dianggap sebagai penggerak produksi industri di zona euro. Ketergantungan pada impor energi murah dari Rusia dan gangguan serta pengurangan aliran ekspor energi, terutama gas, yang terjadi setelah sanksi Eropa terhadap Rusia telah memengaruhi banyak pabrik dan industri di negara-negara Eropa.
Seiring berlanjutnya perang di Ukraina, tekanan pada ekonomi Eropa akibat kenaikan tajam biaya energi tidak hanya menekan industri baja dan kimia di berbagai negara Eropa, tetapi juga membawa rantai produksi yang lebih kecil ke ambang penutupan. Meskipun negara-negara Eropa telah berupaya mengurangi tekanan pada industri mereka dengan mendiversifikasi sumber energi dan menerapkan program transisi hijau, jalan ini tetap mahal dan sulit.
Perang yang sedang berlangsung di Ukraina adalah masalah lain yang memiliki dampak langsung dan tak terbantahkan pada perekonomian Eropa. Perang ini tidak hanya mengganggu jalur pasokan energi, tetapi juga sangat menggoyahkan lingkungan geopolitik. Investor dan perusahaan kurang bersedia melakukan investasi baru dalam situasi di mana masa depan hubungan politik dan keamanan tidak pasti.
Seperti yang diperingatkan oleh seorang analis ekonomi belum lama ini, Eropa tidak hanya berjuang dengan krisis energi saat ini, tetapi juga menghadapi krisis kepercayaan. Kepercayaan pada masa depan yang tampaknya tidak lagi cerah.
Di sisi lain, peningkatan pengeluaran militer Eropa dalam beberapa tahun terakhir telah secara langsung dipengaruhi oleh perang di Ukraina serta tekanan politik dari Donald Trump. Presiden AS ini telah berulang kali meminta anggota NATO untuk meningkatkan bagian anggaran pertahanan mereka dari 2% menjadi 5% dari PDB; sebuah masalah yang telah memberikan tekanan tambahan pada negara-negara Eropa. Bagian Eropa dalam membiayai biaya perang di Ukraina juga meningkat, sehingga pembiayaan biaya ini telah sangat memengaruhi perekonomian Eropa.
Penurunan pesanan ekspor dan lemahnya permintaan juga merupakan poros penting lain dari krisis ini. Eropa selama bertahun-tahun mengandalkan ekspor barang industri dan mesin ke pasar global. Namun, dalam beberapa tahun terakhir, persaingan ketat dengan Tiongkok dan Amerika Serikat telah melemahkan posisi ekspor Eropa.
Tiongkok, dengan biaya produksi yang lebih rendah, dan Amerika Serikat, dengan investasi besar dalam teknologi baru, telah mengambil pangsa pasar global yang lebih besar. Penurunan pesanan ekspor, terutama di industri mesin dan barang setengah jadi Jerman, merupakan tanda dari tren penurunan ini.
Konsekuensi sosial dan politik dari resesi juga tidak boleh diabaikan. Penurunan produksi dan lapangan kerja telah menyebabkan meningkatnya ketidakpuasan sosial. Banyak pabrik telah mengurangi jumlah karyawan selama berbulan-bulan, meningkatkan tekanan pada kelas pekerja dan menengah.
Ketidaksetaraan ekonomi semakin meluas, yang telah membuka jalan bagi pertumbuhan gerakan politik ekstremis di Eropa. Bahkan, resesi ekonomi secara langsung memengaruhi suasana politik dan memperburuk ketidakstabilan sosial.
Dalam konteks ini, Kanselir Jerman Olaf Schulz juga secara resmi memperingatkan, "Jika Eropa tidak dapat mengendalikan biaya energi dan memulihkan daya saing industri, resesi ekonomi dapat menyebabkan krisis sosial."
Pada akhirnya, tampaknya akhir tahun 2025 bukan hanya akhir yang pahit bagi ekonomi Eropa, tetapi juga peringatan serius untuk masa depan. Jika para pemimpin Eropa tidak dapat dengan cepat dan tegas menyelesaikan masalah ekonomi dan krisis sosial, prospek ke depan akan lebih suram.(sl)