Rekam Jejak Setahun Trump; Kesenjangan Besar antara Klaim dan Realita
-
Presiden AS Donald Trump
Pars Today - Pada peringatan satu tahun kembalinya ke Gedung Putih, Donald Trump mengklaim bahwa Amerika sekali lagi telah kembali ke posisi kepemimpinan globalnya dengan menyajikan uraian rinci tentang "pencapaian besar" pemerintahannya. Klaim yang berpusat pada mengakhiri perang, mengekang migrasi, dan meningkatkan perekonomian.
Pada peringatan satu tahun kembalinya Donald Trump ke Gedung Putih, dalam pidato panjang yang berlangsung lebih dari 100 menit, ia mencoba untuk menyajikan rekam jejak satu tahun pemerintahannya sebagai serangkaian "pencapaian besar dan belum pernah terjadi sebelumnya".
Menurut laporan Mehr, Trump berbicara dalam konferensi pers ini tentang mengakhiri atau mengontrol beberapa perang, melemahkan saingan tanpa terlibat dalam konflik langsung, mengendalikan imigrasi, meningkatkan perekonomian, dan memulihkan ketertiban domestik, dan menganggap ini sebagai tanda kembalinya Amerika ke kepemimpinan global.
Namun, tinjauan data, laporan resmi, dan penilaian oleh lembaga independen menunjukkan bahwa sebagian besar narasi ini didasarkan pada klaim yang tidak memiliki definisi atau kriteria yang jelas, dan terdapat kesenjangan yang signifikan antara gambaran yang disajikan dan realitas di lapangan.
Konsep-konsep seperti “mengakhiri perang”, “melemahkan musuh”, “mengendalikan migrasi”, atau “meningkatkan perekonomian” diangkat dalam pidato Trump tanpa referensi yang jelas terhadap bukti independen. Sebuah masalah yang mengubah narasi ini dari laporan kinerja menjadi teks politik dan kontroversial.
Mengakhiri atau mengendalikan perang, klaim atau realitas?
Trump mengklaim bahwa pemerintahannya telah mengakhiri atau mengendalikan beberapa perang. Namun, pemeriksaan situasi di lapangan di pusat-pusat krisis menunjukkan gambaran yang berbeda. Di Eropa Timur, perang terus berlanjut dan telah mencapai tahap pelemahan. Situasi yang tidak dianggap sebagai “perdamaian” dalam literatur keamanan maupun tanda berakhirnya konflik. Kurangnya kesepakatan politik yang berkelanjutan dan pengiriman senjata yang terus berlanjut menunjukkan bahwa yang terjadi lebih merupakan “pembekuan krisis” daripada pengakhiran perang.
Di Asia Barat, klaim "mengontrol perang" juga tidak sejalan dengan kenyataan. Konflik terus berlanjut di beberapa front dan terkadang meningkat intensitasnya. Situasi tenang yang disebut Trump sebagian besar terbatas pada pengurangan ketegangan sementara atau pergeseran fokus krisis. Pada saat yang sama, tindakan seperti serangan terhadap fasilitas nuklir Iran, yang digambarkan oleh Tehran dan lembaga internasional sebagai pelanggaran hukum internasional, dan peningkatan ancaman militer bertentangan dengan klaim "kontrol perang" dan bahkan meningkatkan risiko ketidakstabilan regional.
Singkatnya, klaim berakhirnya perang lebih bergantung pada gencatan senjata yang rapuh dan pencegahan yang mahal daripada perjanjian perdamaian atau mekanisme keamanan yang berkelanjutan. Situasi yang dapat diusulkan dalam konteks propaganda politik tetapi tidak dianggap sebagai tanda perdamaian berkelanjutan dalam hal strategis.
Melemahkan rival tanpa perang langsung. Klaim dengan bukti yang kontradiktif
Trump melanjutkan pidatonya dengan mengklaim bahwa pemerintahannya telah memulihkan pencegahan dan menekan rival tanpa terlibat dalam perang langsung. Namun, perkembangan di lapangan dalam kasus-kasus global besar tidak mendukung klaim ini.
Dalam perang Rusia-Ukraina, serangan Rusia terhadap infrastruktur energi dan pemanas Ukraina berlanjut pada musim dingin tahun 2026, dan krisis kemanusiaan semakin intensif. Sebuah tanda bahwa pihak lawan tidak melemah. Di kawasan Asia-Pasifik, Tiongkok telah meningkatkan tekanan militer dengan latihan militer ekstensif di sekitar Taiwan, dan Korea Utara memulai tahun 2026 dengan uji coba rudal baru. Tren ini menunjukkan bahwa pihak lawan bukan hanya tidak mundur, tetapi juga memperluas aktivitas mereka.
Pengendalian migrasi: Kesenjangan antara narasi dan data
Trump telah menggembar-gemborkan pembatasan migrasi ilegal sebagai salah satu pencapaian terpenting pemerintahannya. Namun, statistik Bea Cukai dan Perlindungan Perbatasan AS menunjukkan bahwa penurunan jumlah penindakan di perbatasan pada tahun 2025 bersifat sementara dan berfluktuasi, dan kemudian meningkat lagi pada bulan-bulan berikutnya. Faktor ekonomi di negara asal dan perubahan rute migrasi memiliki dampak yang lebih besar daripada kebijakan federal.
Di sisi lain, menghubungkan migrasi dengan peningkatan kejahatan tidak konsisten dengan temuan penelitian. Studi oleh Cato Institute dan National Academy of Sciences menunjukkan bahwa tingkat kejahatan di kalangan imigran, bahkan imigran tanpa dokumen, lebih rendah daripada di kalangan warga negara kelahiran AS. Data FBI juga menunjukkan tidak ada hubungan langsung antara peningkatan migrasi dan peningkatan kejahatan kekerasan.
Ekonomi AS: ledakan yang diduga atau realitas yang rumit?
Trump melihat penurunan inflasi dan pertumbuhan pasar keuangan sebagai tanda-tanda peningkatan taraf hidup. Namun data dari Biro Statistik Tenaga Kerja dan survei Gallup dan Pew menunjukkan bahwa sebagian besar rumah tangga Amerika terus menghadapi tekanan biaya hidup. Penurunan inflasi tidak berarti penurunan harga, dan tingkat harga secara umum tetap tinggi.
Pertumbuhan pasar keuangan juga sebagian besar menguntungkan kelompok pendapatan atas, dan banyak rumah tangga berpenghasilan rendah tidak ikut menikmati pertumbuhan ini. Oleh karena itu, indikator makroekonomi tidak selalu mencerminkan pengalaman nyata masyarakat.
Pengurangan kejahatan dan pemulihan ketertiban
Trump mengklaim bahwa pemerintahannya telah mengurangi tingkat kejahatan kekerasan dengan memperkuat kepolisian. Namun data FBI menunjukkan bahwa tren kejahatan tidak sama di berbagai kota. Beberapa kota mengalami penurunan dan kota lain mengalami peningkatan kejahatan. Para ahli juga menekankan bahwa tanpa mengatasi faktor struktural seperti ketidaksetaraan ekonomi dan akses ke layanan sosial, pemulihan ketertiban yang berkelanjutan tidak mungkin terjadi.
Pidato peringatan ulang tahun Trump, meskipun disajikan sebagai narasi yang koheren tentang "kekuasaan dan kesuksesan", lebih mirip rekonstruksi realitas yang selektif daripada data dan laporan resmi. Dari kebijakan luar negeri hingga ekonomi hingga keamanan dalam negeri, pola umum dalam narasi ini adalah generalisasi hasil yang terbatas, pengabaian variabel struktural, dan transformasi hambatan yang rapuh menjadi "pencapaian besar".
Pada akhirnya, poin terpenting dari pidato ini adalah kesenjangan antara narasi politik dan realitas statistik. Kesenjangan yang menunjukkan bahwa kinerja diukur bukan berdasarkan klaim politik tetapi berdasarkan data, waktu, dan hasil nyata.(sl)