Membaca Ulang Kejahatan Barat
Eritrea; Di Bawah Bayang Apartheid Italia, Kisah Penghinaan dan Perlawanan
-
Kolonialisme Barat di Afrika
ParsToday – Kolonialisme Italia di Eritrea bukan sekadar proyek pembangunan atau perluasan pengaruh politik. Itu adalah sistem yang dibangun di atas pendudukan militer, diskriminasi rasial, penindasan perlawanan, dan eksploitasi sumber daya manusia secara terorganisir. Puncak kontradiksi sistem ini terungkap pada tahun 1938, di jantung kota Roma, melalui aksi protes seorang putra Afrika, Zerai Deres.
Seperti ditunjukkan dokumen sejarah, kolonialisme Italia di Eritrea sejak awal terbentuk dari logika dominasi dan pemaksaan. Logika yang tidak didasarkan pada persetujuan penduduk pribumi, tetapi pada pendudukan militer, perjanjian timpang, dan struktur diskriminatif. Sistem kolonial ini, dengan disahkannya undang-undang rasial Italia dan menguatnya supremasi fasis, menjelma menjadi model kolonialisme keras dan hierarkis. Protes Zerai Deres di Roma tahun 1938 hanyalah salah satu tanda ledakan dari dalam sistem itu.
Kehadiran Italia di Laut Merah dimulai dengan pembelian Pelabuhan Assab tahun 1869. Pada 1885, pasukan Italia menduduki Massawa dan perlahan memperluas pengaruh ke pedalaman. Penandatanganan Perjanjian Wuchale (1889) dengan interpretasi berbeda pada pasal 17-nya menjadi landasan hukum klaim Italia atas wilayah ini. Pada 1 Januari 1890, koloni "Eritrea Italia" secara resmi diproklamasikan. Sejak awal, administrasi wilayah ini bersifat militer dengan kekuasaan di tangan gubernur yang ditunjuk Roma.
Pada dekade awal, kebijakan kolonial pemukiman dijalankan. Asmara menjadi ibu kota administratif. Migrasi besar warga Italia mengubah komposisi demografis kota. Menjelang Perang Dunia II, sekitar 70–75 ribu orang Italia tinggal di Eritrea. Asmara menjadi salah satu pusat utama pemukiman Eropa di Afrika. Migrasi ini bukan sekadar perpindahan penduduk, tetapi alat menancapkan dominasi politik dan ekonomi. Tanah, modal, dan pekerjaan kunci dikuasai pendatang, sementara penduduk asli tersisih di level administrasi dan militer bawah.
Dengan naiknya rezim Benito Mussolini (1922), kebijakan diskriminatif semakin terstruktur dan ideologis. Undang-undang rasial Italia tahun 1938 melarang pernikahan campur Italia-Afrika, mengkriminalisasi hubungan "madanato", dan meneguhkan supremasi ras Italia di koloni. Undang-undang ini tak hanya membatasi hubungan sosial, tetapi juga mencabut hak pendidikan, jabatan publik, dan hak sipil warga asli. Struktur hukum koloni berubah menjadi sistem bak apartheid, di mana kewarganegaraan dan warna kulit menentukan status sosial.
Proyek infrastruktur, seperti kereta Asmara-Massawa dan pembangunan kota, lebih banyak melayani kepentingan militer dan ekonomi Italia. Tenaga kerja pribumi, termasuk pasukan Askar, dieksploitasi besar-besaran. Eritrea juga menjadi pangkalan strategis operasi militer Italia di Tanduk Afrika.
Dalam Perang Italia-Ethiopia II, pasukan Italia dari Eritrea menyerbu Ethiopia. Dalam perang ini, Italia menggunakan senjata kimia, termasuk gas mustard. Tindakan ini merupakan pelanggaran terang-terangan hukum internasional.
Eritrea bukan sekadar zona pendukung logistik, tetapi pusat utama perbekalan, pengerahan pasukan, dan operasi udara di front utara. Sebagian besar gerak maju militer Italia dimulai dari perbatasan selatan Eritrea.
Pangkalan udara di koloni ini punya peran menentukan dalam pemboman. Pesawat dari pangkalan ini menggunakan senjata kimia saat invasi ke Ethiopia. Meski serangan kimia tak terjadi di dalam Eritrea, tetapi menjadikan wilayah ini landasan peluncuran perang kimia. Eritrea bukan sekadar koloni administratif, tetapi mata rantai penting mesin perang rezim fasis Italia. Peran logistik dan operasional Eritrea dalam perang ini tak terbantahkan.
Di tengah sistem diskriminasi dan kekerasan struktural inilah, peristiwa 15 Juni 1938 di Roma memiliki makna lebih dari sekadar insiden individu. Hari itu, Zerai Deres, mantan tentara Eritrea yang pernah bertugas di unit kolonial Italia, melakukan aksi protor di Piazza dei Cinquecento, di depan Monumen Peringatan Pertempuran Dogali. Monumen ini, juga dikenal sebagai Obelisk Dogali, adalah simbol "pengorbanan untuk kekaisaran" dalam narasi resmi fasis.
Menurut catatan sejarah, Zerai meneriakkan slogan anti-kolonial dan secara terbuka menentang dominasi Italia atas tanah Afrika. Respons peradilan Italia menarik. Alih-alih diadili biasa, pengadilan menyatakan dia "tidak stabil secara mental" dan memasukkannya ke rumah sakit jiwa. Di sanalah ia menghabiskan sisa hidupnya hingga meninggal tahun 1945.
Keputusan ini diambil penguasa Italia untuk mencegah Zerai menjadi simbol inspiratif di koloni. Mengaitkan aksinya dengan "gangguan jiwa" bisa mencegah politisasi kasus dan gelombang empati publik. Namun, dalam memori historis Eritrea, Zerai Deres justru menjadi simbol perlawanan anti-kolonial.(sl)