Washington Post: Stok Rudal THAAD AS Terkuras Setengah usai Memerangi Iran
-
Sistem antirudal THAAD AS
Pars Today - The Washington Post melaporkan bahwa Amerika Serikat telah menghabiskan hampir separuh stok rudal THAAD-nya dalam perang melawan Iran.
Dilansir Pars Today, 23 Mei 2026, berdasarkan penilaian Pentagon yang diserahkan ke harian tersebut, militer AS menghabiskan sebagian besar inventori rudal Terminal High-Altitude Area Defense (THAAD) untuk melindungi sekutu, termasuk rezim Zionis, selama konflik berlangsung.
Kekurangan ini menjadi serius karena AS hanya mengoperasikan delapan baterai THAAD di seluruh dunia, masing-masing berharga sekitar $1 miliar dan membutuhkan 100 personel untuk mengoperasikannya. Setelah perang, sistem ini meregang semakin tipis, terutama karena satu unit THAAD di Timur Tengah (Yordania) dan satelit-satelit pendukungnya hancur dalam serangan rudal balistik Iran tahap awal. Pakar memperkirakan bahwa untuk mengganti semua rudal yang habis, serta memperbaiki unit-unit yang rusak, akan memakan biaya miliaran dolar dan waktu bertahun-tahun.
Krisis Domestik dan Lonjakan BBM
Di tengah krisis persenjataan, warga AS semakin terbebani oleh biaya hidup. Survei terbaru Reuters/Ipsos (15-18 Mei 2026) menunjukkan 74 persen responden percaya bahwa biaya hidup di AS berjalan ke arah yang salah, angka tertinggi selama masa kepresidenan Trump .
73 persen tidak puas dengan cara Trump menangani masalah biaya hidup.
Harga bensin juga meroket. Semua 50 negara bagian AS kini melaporkan harga rata-rata lebih dari 4 per galon, menurut Axios. Bahkan di tujuh negara bagian harganya kini lampaui 5 per galon. Sejak perang Iran dimulai, harga bensin rata-rata telah melonjak lebih dari 50 persen.
Senator Bernie Sanders menyatakan bahwa perang ini tidak hanya membuang-buang uang tetapi juga menghabiskan sistem pertahanan yang seharusnya melindungi Amerika. "Alih-alih mengurangi penderitaan, kami menggunakan persenjataan berharga untuk mempertahankan sekutu yang tidak bertanggung jawab," kritiknya.
Perang tanpa akhir yang digembar-gemborkan untuk "mengamankan" dunia justru menggerogoti fondasi pertahanan AS sendiri. Stok rudal habis, masyarakat AS kelelahan membayar tagihan BBM yang terus naik, dan para senator mulai kehilangan kesabaran. Di balik semua klise "kesiapan tempur", fakta di Washington Post menunjukkan bahwa tempur sudah terjadi, dan persiapannya hampir habis.
THAAD adalah mahakarya pertahanan. Namun setelah perang ini, ia hanya menyisakan pertanyaan: 'Kita habiskan miliaran dolar untuk melindungi siapa?' Ironisnya, di rumah, warga AS bahkan tidak bisa melindungi dompet mereka sendiri dari harga bensin yang terus meroket. Sebuah bangsa yang kehabisan rudal dan kehabisan uang bukanlah negara yang kuat. Itu adalah negara yang lelah.(Sail)