Di Balik Layar Dukungan Inggris terhadap Arab Saudi dalam Perang Yaman
-
Andy Burnham, Perdana Menteri Inggris
Pars Today - Inggris telah memulai langkah-langkah praktis dalam bidang dukungan militer terhadap Arab Saudi dalam perang terhadap Yaman.
Menurut laporan Pars Today, Andy Burnham, Perdana Menteri Inggris, dalam langkah yang memicu reaksi luas, mengonfirmasi keputusan London untuk mengirim sistem pertahanan udara dan satu pesawat tanker "Voyager" ke Arab Saudi dan mengumumkan bahwa pesawat ini sejauh ini telah menyelesaikan 14 misi operasional. Namun hal ini justru dapat memunculkan isu intervensi Inggris dalam perang Yaman. Jika sebuah jet tempur Saudi setelah menerima bahan bakar dari Voyager Britania menyerang sasaran di wilayah Yaman, perdebatan tentang tanggung jawab tidak langsung London akan semakin serius.
Hasil praktis dari dukungan ini adalah jet-jet tempur Saudi dapat bertahan lebih lama di udara, mencakup wilayah yang lebih luas, dan mencegat lebih banyak drone atau rudal yang masuk. Arab Saudi sendiri memiliki armada pesawat tanker, tetapi peningkatan patroli pertahanan dapat menciptakan kebutuhan akan kapasitas yang lebih besar. Voyager Britania menggunakan metode selang dan keranjang untuk transfer bahan bakar dan kompatibel dengan jet tempur Typhoon Arab Saudi.
Pengisian bahan bakar di udara menciptakan tiga keuntungan operasional bagi angkatan udara Arab Saudi. Pertama, meningkatkan waktu patroli udara karena jet tempur Typhoon Saudi tidak perlu segera kembali ke pangkalan untuk mengisi bahan bakar dan bertahan lebih lama di wilayah pencegatan. Kedua, mengurangi jarak waktu antara identifikasi dan pencegatan. Kehadiran terus-menerus jet tempur Saudi di udara mempercepat respons terhadap drone dan rudal jelajah Yaman. Ketiga, membebaskan kapasitas armada Saudi, sehingga pesawat tanker Arab Saudi dapat dialokasikan untuk misi lain.
Langkah ini, yang dilakukan sebagai lanjutan dari penempatan sistem pertahanan "Sky Sabre" di wilayah Arab Saudi, dianggap sebagai bagian dari dukungan Inggris yang lebih luas terhadap Riyadh dalam perang melawan Yaman.
Mengenai alasan langkah ini, Perdana Menteri Inggris secara pribadi membenarkan keputusannya dengan tekanan ekonomi dan keharusan menjaga keamanan jalur energi, dan mengatakan bahwa "kita harus menjaga jalur-jalur ini tetap terbuka". Selat Bab al-Mandab, di ujung selatan Laut Merah, menampung sekitar 12 persen perdagangan dunia, dan tentara Yaman dengan menguasai Pelabuhan Mokha dan Pulau Perim telah memantapkan kendalinya atas jalur air vital ini. Dari sudut pandang ini, dukungan Inggris terhadap Arab Saudi dapat dianggap sebagai respons terhadap ancaman langsung keamanan energi dan kenaikan harga bahan bakar di Inggris, persoalan yang sangat sensitif bagi pemerintahan Buruh Burnham menjelang musim anggaran dan mengingat inflasi yang meningkat.
Namun pada lapisan yang lebih dalam, keputusan ini berakar pada hubungan strategis lama London dan Riyadh. Inggris dan Arab Saudi adalah mitra strategis di bidang militer dan kerja sama ini, khususnya melalui perusahaan BAE Systems, telah menjadi salah satu pilar industri militer negara itu. Statistik menunjukkan bahwa Inggris hanya antara tahun 2015 hingga 2022 telah mengizinkan ekspor peralatan militer senilai 7,1 miliar pound ke Arab Saudi, dan BAE Systems antara tahun 2007 hingga 2025 memperoleh pendapatan sekitar 49 miliar pound dari transaksi dengan Riyadh. Juga pada kuartal pertama tahun ini, pemerintah Inggris menyetujui 464,8 juta pound ekspor senjata lainnya ke Arab Saudi, yang sebagian besar berupa senjata udara ke permukaan. Angka-angka ini menunjukkan bahwa dukungan militer terhadap Arab Saudi bukan keputusan sesaat, melainkan bagian dari hubungan struktural dan ekonomi yang mendalam.
Di sisi lain, dukungan Inggris harus dianalisis dalam kerangka perubahan keseimbangan kekuatan dalam perang Yaman dan Asia Barat. Tentara Yaman dalam bulan-bulan terakhir dengan menguasai wilayah-wilayah kunci dan menembakkan rudal balistik serta drone ke arah Riyadh, secara praktis telah memindahkan perang ke kedalaman wilayah Arab Saudi. Tentara Yaman telah dilengkapi dengan rudal balistik canggih yang hulu ledaknya dapat mengubah arah selama penerbangan, dan kemampuan ini telah menghadapkan pencegatan bagi pertahanan seperti Patriot pada tantangan serius.
Dalam kondisi seperti ini, pengiriman sistem pertahanan dan pesawat tanker Inggris merupakan upaya untuk mengisi celah pertahanan Arab Saudi dan meningkatkan durasi kehadiran jet tempur Saudi di udara. Media Inggris sendiri mengakui bahwa dukungan ini berada pada "tingkat paling ringan" yang mungkin dan bahkan mungkin dianggap sebagai "gestur demonstratif kepada sekutu yang terpojok." Poin ini menunjukkan bahwa London tidak mencari keterlibatan langsung dalam perang, melainkan ingin dengan biaya minimal menunjukkan solidaritasnya dengan Riyadh dan mencegah eskalasi krisis energi.
Konsekuensi langkah Burnham ini, bagaimanapun, melampaui perhitungan militer dan ekonomi. Dari sudut pandang hukum, Inggris dengan mendukung negara yang dalam perang Yaman melakukan pelanggaran hak asasi manusia yang luas, telah menempatkan dirinya pada tuduhan baru. Berdasarkan laporan Pusat Data Yaman, koalisi Saudi hingga gencatan senjata April 2022 melakukan lebih dari 25 ribu serangan udara terhadap Yaman yang menyebabkan kematian sekitar 9 ribu warga sipil. Perserikatan Bangsa-Bangsa juga memperkirakan bahwa secara total 377 ribu orang meninggal sebagai akibat langsung dan tidak langsung dari perang ini.
Dalam kaitan ini, serikat-serikat buruh Inggris, termasuk Unison, dalam surat terbuka kepada Burnham mengkritik keputusan pemerintah London untuk meningkatkan kerja sama militer dengan Arab Saudi dan menyebutnya sebagai "pengabaian terhadap krisis kemanusiaan". Dari sudut pandang internasional juga, langkah ini dapat memicu intensifikasi ketegangan di kawasan dan memperluas siklus kekerasan. Pengalaman menunjukkan bahwa serangan udara dan dukungan militer asing hingga kini tidak mampu memaksa tentara Yaman mundur, melainkan sebaliknya meningkatkan kemampuan rudal dan drone-nya.
Tampaknya dukungan Inggris terhadap Arab Saudi dalam perang Yaman adalah produk pertemuan kepentingan ekonomi besar industri militer, kekhawatiran keamanan energi, dan komitmen strategis London terhadap Riyadh. Namun biaya hukum, kredibilitas, dan kemanusiaan dari dukungan ini juga semakin terlihat dari hari ke hari. Inggris dengan memberikan dukungan yang disebut "terbatas" dan "sementara", berupaya menjaga keseimbangan sulit antara mempertahankan kepentingannya dan menghindari keterlibatan penuh dalam perang yang melelahkan, keseimbangan yang dengan berlanjutnya serangan tentara Yaman dan meningkatnya tekanan opini publik domestik, tampak semakin rapuh.(Sail)